Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. III)

Langkah-Langkah Kongkrit: Refleksi dan Tantangan Lebih Lanjut

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Lagi-lagi patut disadari, bahwa eco-theology Islam masih menyisakan sejumlah list pekerjaan berupa evaluasi diri dan refleksi saintifik. Pasalnya, Islamisasi asumsi, paradigma, atau kerangka teori pengetahuan apapun adalah merupakan proses yang tidak mudah. Islamisasi, lagi-lagi bukan hanya sekedar ‘ayatisasi’; penyematan ayat-ayat suci Tuhan atau kalam mulia Nabi atas fenomena keilmuan agar terkesan terkait dan terhubung. Oleh karenanya, evaluasi diri dan refleksi saintifik berupa gerakan-gerakan berkelanjutan senantiasa dibutuhkan dalam pembentukan eco-theology Islam.

Draft Workshop yang diterbitkan oleh Earth-Mates Dialogue Center (EMDC): Islam and Environment, Towards M7YAP to deal with Climate Change

Langkah-langkah kongkrit tersebut bisa lahir dalam bentuk pusat-pusat studi ataupun karya tulis terpublikasi. Pusat-pusat studi tersebut, misalnya, Earth-Mates Dialogue Center (EMDC). EMDC yang berpusat di London adalah perpanjangan dari Kementerian Urusan Wakaf dan Islam di Kuwait yang pada tahun melaksanakan workshop dengan tajuk: “Islam and Environment, Towards M7YAP to deal with Climate Change.” Workshop internasional ini diikuti oleh 22 peserta dari 14 negara-negara Muslim dan menghasilkan resolusi M7YAP (The Muslim 7 Year Action Plan). Dua tahun kemudian, workshop tersebut ditindaklanjuti dengan Deklarasi Istanbul (Istanbul Declaration)  di akhir 2009, dihadiri oleh 50an Cendekiawan Muslim dari seluruh dunia dibawah support  dari Presiden International Association of Muslim Scholars,(IAMS)/ الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين‎ /al-Ittihad al-ʻAlamiy li-ʻUlamaaʼ al-Muslimiin  sebelumnya, Dr. Yusuf Qaradhawi. Gerakan ini kemudian melahirkan MACCA (Muslim Associations for Climate Change Action) sebagai eksekutor kegiatan tersebut. MACCA menjadi payung gerakan pedul lingkungan ini hingga diadakannya International Muslim Conference on Climate Change Issues di Bogor, Indonesia, April 2010. (http://www.dialogue4all.com/Emdc/M7YAP_draft.pdf)

Undangan UN Climate Change Secretariat (UNFCCC) atas
Islamic Climate Change Conference
Istanbul, 17-18 August 2015

Pada tahun 2015, UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) membuka pintu lebih lebar bagi pemeluk agama-agama dunia untuk berkontribusi dalam pemberian ide-ide guna menghadapi isu-isu kealaman. Islam, lagi-lagi dimotori Istanbul, menyuarakan aspirasinya berdasarkan Islamic Climate Change Conference yang diadakan di Istanbul pada 17 dan 18 Agustus 2015. ( / http://unfccc.int/files/press/statements/application/pdf/20151808_islamic_cc_conference.pdf ) Di antara ide yang dipaparkan adalah: melakukan konsensus saintifik pada perubahan iklim guna menstabilisasikan konsentrasi gas rumah kaca (greenhouse gas) di atmosfer bumi hingga turun di level yang mampu mencegah gangguan antropogenik berbahaya pada sistem; diikuti dengan target yang jelas dan diawasi, hingga menyatakan tanggung jawab yang besar untuk peserta konferensi guna menjaga alam sebagai sebuah jalan terkait pada Tuhan. (https://unfccc.int/news/islamic-declaration-on-climate-change). Dalam prosesnya, kerjasama lintas agama juga terlaksana dalam resolusi bersama bernama Our Voices Network. (http://www.ourvoices.net/)

Rekomendasi Konferensi Internasional untuk Aksi Muslim terhadap Perubahan Iklim, Bogor, Indonesia, 9-10 April 2019

Eco-theology Islam juga bisa dibangun dari gerakan-gerakan kecil yang sederhana di sekililing kita. Mahasisiwa Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor, misalnya, bersama keluarga Dosen Pembimbing dan Tenaga Kependidikan melaksanakan tadabbur alam ke Pantai Pasir Putih, Trenggalek, di tanggal 22 Februari 2019 lalu. Tadabbur Alam ini tidak hanya sekedar bermain di pantai saja, namun juga diiringi dengan gerakan-gerakan interaktif berupa qiraa’ah ma’tsurat dan istighastah.

Istigashah Bersama Dipimpin Ust Abdullah Muslich Rizal Maulana

Dengan gerakan ini, keluarga besar Studi Agama-Agama UNIDA Gontor diharapkan tentu saja untuk mampu melihat alam secara integral sebagai penciptaan Tuhan; dan oleh karenanya, Adab-Adab kealaman juga merupakan sesuatu yang bernilai ibadah dan wajib dilakukan. Dari alam, seorang Muslim bisa melihat satu bagian dari realitas tertinggi dalam Worldview Islam: betapa alam mengandung hikmah yang tertumpah-tumpah sementara akal manusiawi terlalu dangkal untuk mengecapnya meskipun hanya sepotong kecil. Memang benar firman Tuhan, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(QS. Al-Kahfi: 109). (Selesai)

Berita terkait:

Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. II)

Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. I)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *