Agama: Definisi dan Konsekuensi

shalat-agama-definisi-konsekuensi-saa-studi-unida-gontor

Agama Definisi dan Konsekuensi

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag.

Wisudawan Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Agama mempunyai definisi yaitu ‘prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan aturan-aturan syariat tertentu[1]. Dalam penjabarannya, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah Yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dengan lingkungannya .

Banyaknya ragam definisi tentang Agama dalam perkembangan zaman ini  berimplikasi pada makna yang beragam pula. Lebih dari itu, definisi-definisi tersebut juga seringkali mengaburkan makna dari agama itu sendiri[2]. Terlepas dari itu, definisi agama mempunyai substansi yang selaras pada titik temunya yaitu “menghamba, menyerah dan patuh.”

Ragam Definisi Agama dalam Pendekatan Antropologis-Sosiologis

Makna agama sendiri bisa berbeda karena mempunyai beberapa faktor diantaranya seperti pendapat Mukti Ali yang dikutip oleh Adon Nasrullah Jamaluddin dalam bukunya Agama dan Konflik Sosial. Faktor tersebut adalah pertama, pengalaman dalam beragama sangat subjektif dan individualis, maka dari itu kadang setiap orang mempunyai definisi agama yang berbeda-beda. Kedua dalam pembahasan Agama selalu melibatkan emosi yang kuat setiap individu. Ketiga konsepsi seseorang untuk mendefinisikan agama dipengaruhi oleh tujuan dan metode pendekatannya[3].

Wilfred Cantwell Smith

Dalam spektrum pemikiran Barat, Agama mempunyai definisi misalnya, dalam catatan Wilfred Cantwell Smith yang dikutip oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya “Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis” W.C Smith berkata , “ Terminologi Agama luar biasa sulitnya didefinisikan. Paling tidak, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini terdapat beragam definisi yang membingungkan yang tak satu pun diterima secara luas… Oleh karenanya, istilah ini harus dibuang dan ditinggalkan untuk selamanya”.[4] Menurut E.B Taylor, Agama adalah kepercayaan yang berwujud spiritual[5]. Berbeda dengan pendapat F. Schleiermacher bahwa agama adalah rasa ketergantungan terhadap sesuatu yang ‘absolute[6],

Baca Juga: Beragama secara Filosofis

Salah seorang figur masyhur Indonesia, Harun Nasution, pun memiliki konsepsinya sendiri atas agama. Menurutnya, agama terdiri dari sejumlah definisi-definisi diantaranya: pertama Agama adalah pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi. Kedua Agama adalah pengikatan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berbeda di luar diri manusia dan yang mempengaruhi manusia. Ketiga, Agama merupakan kepercayaan pada sesuatu yang gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. Keempat, agama ialah pengakuan adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib. Kelima, Agama adalah pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan  misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.[7]

Dari definisi-definisi diatas Apabila kita cermati para tokoh tersebut menggunakan pendekatan manusiawi dan secara sosial pada umumnya (Antropologis-Sosiologis). Hal ini didasari mayoritas para tokoh tersebut memberikan definisi yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia pada umumnya.

Definisi Kebajikan dan Pluralisme Agama: Antara Djohan Effendi dan Hamka

Djohan Effendi

Agama, menurut Djohan Effendi, adalah seperangkat nilai yang mesti dihayati dengan tuntutan alam yang dapat menghasilkan output yang baik kepada manusia, karena agama tidak nampak tapi yang ditampakkan adalah perbuatan kebajikan yang diajarkan oleh agama[8]. Oleh karena itulah, form agama tidak lagi krusial dalam pandangan Djohan, karena yang paling inti dari agama adalah nilai kebajikan tersebut. Alih-alih menunjukkan identitas keagamaan sebagai sebuah panduan, bagi Djohan, pluralisme agama adalah sebuah keniscayaan. Dalam hal ini ditegaskan Djohan dalam buku karyanya Pluralisme dan Kebebasan Beragama sebagai berikut:

 “Agama tidak tidak hanya mengajarkan tentang apa-apa harus dimani dan ibadah-ibadah yang harus dilaksanakan tetapi juga mengajarkan tentang nilai-nilai yang harus dipatuhi dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial, dan mempunyai relevansi dengan usaha pengembangan etika sosial”,

Djohan juga menguatkann dalam paragraf selanjutnnya:

“ Dalam dimensi masyarakat yang majemuk, dimensi sosial dari agama tidak disajikan secara eksklusif  dalam idiom agamawi. Ia sebaiknya didahulukan dalam etika sosial masyarakat dalam rumusan yang mengesankan hanya milik suatu kelompok. Ia seyogyanya merupakan titik temu agama-agama untuk mengarahkan hubungan antar manusia yang etis sekaligus religius, namun universal dan tidak sektarian”.[9]

Baca Juga: Tantangan Komunikasi Lintas Agama di Dunia Maya

Hamka

Hal ini berbeda dalam definisi agama atau “ad-diin” dalam bahasa Arab. menurut Hamka,  dalam  mendefiniskan agama secara bahasa dan makna Agama, tentu kita bisa merujuk pada arti aslinya yaitu menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Namun, pemahaman atas agama itu sendiri tidak terbatas demikian. Agama itu sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya A: tidak, gama: kacau. Artinya, agama sebagaimana aslinya, adalah sebuah panduan hidup agar kehidupan ini teratur dan/atau tidak kacau.

Dalam bahasa arab, pendirian model ini berasal dari kata Iqamah.  Dalam analisa Hamka, Agama adalah Ibadah yang muncul karena ada “Itikad” atau “Iqaamah” taat dan patuh berdasarkan iman. Iman, kemudian terintegrasi dengan Ibadah secara dialektis karena ketika iman meningkat, maka itensitas Ibadahpun akan meningkat juga. Akan tetap, jika kualitas iman pada Allah menurun, maka itensitas ibadah pun akan berkurang pula ghirahnya. Hasil dialektis antara Iman dan Ibadah itulah yang akan memberikan output berupa Agama.  Tambah Hamka lagi, lemahnya agama dikarenakan berkurangnya ‘itikad dan tashdiq[10].

Baca Juga: Definisi Agama dalam Kitab Milal wa Nihal

Definisi diatas selaras dengan  para Ulama Indonesia yang berkecimpung dalam  dunia pendidikan Indonesia yang merumuskan suatu buku karya besar berjudul “Dasar-Dasar Agama Islam” memberikan definisi tentang Agama. Agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan tanggungjawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya[11]

Kesimpulan

Penulis memposisikan definisi Agama pada dua pendapat terakhir yaitu Prof. Dr. Hamka dan Para Ulama Indonesia. Agama jadinya adalah bentuk hubungan dialektis antara Allah, Rasul, Al-Qur’an dan manusia, guna membimbing manusia selalu dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun definisi sebelumnya yang sudah disebut di awal, dapat dijadikan referensi pembanding berlandaskan konteks sosio-antropologis agama. Di mana para tokoh Barat tersebut menekankan hubungan antara manusia penganutnya bagaimana ia memegang suatu keyakinan yang metafisik. Temasuk, mengkaji  relasi antara kehidupan keagamaan dengan struktur sosial dan budaya.

Daftar Pustaka

[1] Umi Chulsum-Windy Novia, Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Surabaya: 2006 Yoshiko Press, cet. pertama) hlm.19

[2] Nasrullah, Adon, Agama dan Konflik Sosial, cetakan pertama ( Bandung: Pustaka Setia 2015),hal 65

[3] Ibid, hal 65

[4] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis (Jakarta: Prespektif Kelompok Gema Insani, cetakan pertama, 2005) hlm. 12

[5] Ibid, hal 66

[6] Fahmi, Hamid Zarkasyi, Misykat Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisme dan Islam ( Jakarta: INSIST MIUMI, 2012)hal, 21

[7] Nasrullah, Adon, Agama dan Konflik Sosial, cetakan pertama ( Bandung: Pustaka Setia 2015),hal 66

[8] Effendi Djiohan , Menimba Pelajaran Dari Berbagai Agama dan Keyakinan, (Sleman : Interfidei, 2015) hlm.95

[9] Effendi Djohan, Pluralisme dan Kebebasan Bergama, cetakan ke 3(Selman: Interfidei 2015 ) hlm, 82

[10] Prof. Dr Hamka, Tasauf Modern ( Jakarta : Pustaka Panjimas, cetakan pertama 1988) hlm.53

[11]  Team proyek pembinaan Pendidikan Agama Islam, Dasar-dasar Agama Islam Buku daras pada Perguruan Tinggi Umum. ( Jakarta : 1984, Cv.KuningMas ) hlm.65

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *