Agama Sikh di Indonesia

Foto bersama narasumber pemeluk Agama Sikh

Agama Sikh, Agama Terbesar Kelima di Dunia

Ahad (8/12 – Setelah Ibu Kota Jakarta, Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Program Studi Studi Agama – Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Kampus 4 Kediri menuju kota Banten. Hal baru banyak mereka dapat karena objek di daerah Banten ini jarang sekali dikunjungi sebagai objek SPL.

Kali ini, para peserta SPL mengunjungi Gurdwara Guru Nanak, salah satu pusat jemaat agama Sikh di Indonesia. Disana, para peserta SPL keheranan melihat sosok – sosok besar bersuku India berkumpul di satu tempat, hal ini terjadi karena jarang terjadi diantara mereka. Kendati demikian, keramahan para jemaat dapat menjawab rasa heran para peserta SPL. Mereka disambut hangat dan langsung diarahkan untuk makan siang bersama. Tetapi, sebelum itu, seluruh peserta SPL diwajibkan untuk mengenakan dastaar, yaitu penutup kepala khas jemaat lelaki Sikh.

Selain agama Sikh, Peserta SPL juga mengunjungi Komunitas Baha’i di Jakarta

Selepas makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi ringan mengenai agama Sikh di ruang pertemuan Gurdwara. Disana, narasumber Kiran Singh, memaparkan sejarah berdirinya Gurdwara Guru Nanak, yang ternyata telah berdiri selama 25 tahun di Jakarta. “Awalnya, Gurdwara ini berdiri di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Karena beberapa hal, Gurdwara ini akhirnya dipindah ke Ciputat, Tangerang Selatan, Banten dan tetap berdiri hingga hari ini” ujarnya.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh narasumber kedua, Prem Singh. Kali ini, ia memberikan pemaparan lebih lanjut tentang agama Sikh, yang merupakan ajaran asal Punjab, India Utara dan pertama kali terbentuk sekitar abad ke-16. “Dalam ajaran Sikh, kami mempercayai adanya Guru, yaitu insan pilihan Tuhan yang membawa sebagian sifat Tuhan dalam dirinya, dan merupakan perwakilan dari Tuhan itu sendiri sekaligus mempunyai peran dalam penyebaran ajaran Sikh,” tutur beliau.

Pemaparan Mengenai Agama Sikh di Indonesia

Istilah Guru berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu gu yang berarti kegelapan dan ru yang berarti cahaya. Dengan demikian, seorang Guru adalah seorang yang mampu menggiring umat manusia dari kegelapan ilmu dan peradaban menuju zaman bermandikan cahaya.

Peserta SPL juga mengunjungi INSIST sebelum mengunjungi agama Sikh

Pemeluk agama Sikh percaya bahwa ada 10 orang Guru yang diutus di dunia ini. Adapun Guru Nanak yang menjadi nama dari Gurdwara ini adalah Guru yang kesepuluh, yang pada akhirnya melepas gelar Guru-nya dan memberikannya pada kitab suci Sikh, Granth Sahib. Sejak itu, nama kitab suci Sikh berubah menjadi Guru Granth Sahib. “Kitab suci kami pun memiliki gelar Guru. Itulah mengapa kami memperlakukan kitab suci kami layaknya kami memperlakukan para Guru yang sepuluh. Kami menganggap kitab suci kami sebagai benda hidup yang juga memiliki nyawa dan sebagian sifat Tuhan, sebagaimana para Guru itu sendiri,” lanjut Prem.

Ajaran Sikh juga mengajarkan tentang kesetaraan: bahwa setelah Tuhan menciptakan sesuatu, Tuhan tidak lantas diam. Tuhan akan bersemayam dalam setiap makhluk hidup. Tuhan ada dalam setiap diri kita. Itulah mengapa semua makhluk hidup adalah setara.

Diskusi lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah pertanyaan mengenai sikap jemaat Sikh terhadap kemajemukan agama di Indonesia.

Sikap Agama Sikh terhadap umat beragama

Prem Sighn menjelaskan bahwa sikap jemaat Sikh terhadap umat beragama yang lain terbagi menjadi tiga:

Pertama, dalam ajaran Sikh terdapat kewajiban untuk menghormati dan menghargai umat beragama yang lain. Kedua, kami juga diwajibkan untuk saling tolong – menolong sesama tanpa memandang ras, etnis maupun agama. Ketiga, ini yang unik. Dalam ajaran Sikh, tidak ada konsep dakwah. Kami tidak pernah menyeru umat agama lain untuk memeluk Sikh. Sebaliknya, kami justru memiliki tugas untuk mendorong tiap pemeluk agama agar menjadi seorang yang taat terhadap ajaran agamanya. Apabila kami bertemu seorang muslim, maka kami memiliki kewajiban untuk mendorongnya menjadi seorang muslim yang baik lagi taat. Begitupun juga ketika kami bertemu dengan umat agama – agama lainnya”.

Setelah cukup lama berdiskusi, para peserta SPL diajak berkeliling Gurdwara dan mengunjungi ruang peribadatan jemaat Sikh. Kunjungan tersebut sekaligus mengakhiri sesi studi mereka di Gurdwara.  Menjelang petang, para peserta SPL pun pamit untuk kembali menuju penginapan. (El Azizi Dandy M)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *