Andai Matematika tanpa Muslim

….Three types of interactions between mathematics and theoretical philosophy. The first is that used by al-Kindi who uses the means and methods of mathematics to reconstruct his philosophical system. The second type emerges when mathematician al-Tusi tries to solve a philosophical question: the emanation of the multiplicity. The third type is comes from the mathematician al-Sijzi, who philosophically solves a mathematical problem but does not yet have the means to do so mathematically.” By. Roshidi Rashed in Between Philosophy and Mathematics: Examples of Interactions in Classical Islam. ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/kalimah

Nomor al-Khawarizmi berdasarkan jumlah sudut yang ada.

Apa jadinya jika angka nol “0” tidak pernah ditemukan?. Sederhananya, besar kemungkinan kita akan mengalamai kesulitan dalam banyak hal. Dalam bidang komputer misalkan, tanpa angka nol maka sistem bilangan biner tidak akan bisa dijalankan. Karena sistem bilangan basis dua ini adalah seperangkat sistem yang mengandalkan dua angka, nol dan satu. Jika itu tidak ada, maka semua sistem yang menggunakan bilangan berbasis digital juga tidak ada. Pada akhirnya, dunia digital tidak akan pernah lahir.

Pada contoh yang lebih sederhana, tanpa angka nol, manusia akan kesulitan dalam menulis sebuah angka yang didahului oleh nol, seperti dalam penulisan desimal. Angka Romawi yang menggunakan dasar tujuh huruf (I, V, X, L, C, D dan M) tidak menunjukkan satu huruf pun yang menggambarkan nol (nilai kosong) yang berdiri sendiri. Angka sepuluh yang hari ini digambarkan “10” satu dan nol, dalam sistem angka Romawi digambarkan dalam bentuk X, tapi tidak bisa menggambarkan sebuah nilai angka 01, atau 0,1. Singkatnya, kita tidak pernah bisa menulis sebuah nilai nol di depan angka Romawi, karena nol memang tidak ada dalam sistem angka Romawi.

Lantas siapakah yang mempunyai andil besar dalam mencetuskan angka nol, atau bahkan seluruh angka modern sebagaimana yang kita pahami saat ini?. Adalah seorang saintis Muslim yang hidup di zaman khalifah al-Makmun, ia bernama al-Khawarizmi. Seorang matematikawan jenius yang mencetuskan penggunaan nilai dan sifat nol sebagaimana yang kita pahami saat ini. Sumbangsih al-Khawarizmi tidak hanya di situ saja. Ia merekonstruksi ulang penulisan angka yang lebih rasional.

Memang, pada peradaban sebelumnya, Brahmagupta seorang matematikawan India sudah merumuskan simbol angka nol dengan menulis titik di bawah angka. Namun sayangnya apa yang dirumuskan Brahmagupta memiliki kesalahan. Gupta menyatakan bahwa bilangan asli apabila dibagi nol hasilnya adalah nol. Sedangakan sistem komputer secanggih apapun akan mendapatkan permasalahan dalam pembagian tersebut. Selain itu, angka nol di India tidak begitu poluler dalam perhitungan sehari-hari, karena merupakan priviles para pendeta Hindu dalam komunikasi antara mereka saja. Demikian halnya dalam peradaban Yunani, Romawi juga Babilonia. Nol menjadi sebuah polemik yang tidak tuntas.

Hingga akhirnya, al-Khawarizmi mencetuskan angka nol. Ia mampu menjelaskan peran penting angka nol dan sistem penempatan bilangan pada umumnya dalam karyanya berjudul al-Jabar wa al-Muqabalah pada tahun 773M. Dalam buku itu disebutkan bahwa angka nol merupakan bagian dari angka Arab yang didasari sistem bilangan di India. Kemudian al-Khawarizmi memberi tanda lingkaran kecil dalam melambangkan ketidakadaan sebuah bilangan tersebut yang hingga kini disebut dengan nol.

Al-Khawarizmi telah menggabungkan metode ilmu matematika yang ia temukan dengan bilangan India dan matematika Yunani. Sebagai contohnya angka nol yang telah ditemukan di India mampu diasimilasi olehnya dengan menggunakannya dalam bilangan desimal yang menggunakan angka nol untuk tujuan yang sama seperti yang digunakan sekarang. Proses asimilasi tersebut dapat dilihat dari penjelasan GJ Toomer dalam Dictionary of Scientific Biography:
“… Sistem nilai tempat desimal merupakan temuan yang kala itu cukup baru di India, dan karya al-Khawarizmi adalah yang pertama kali menjelaskannya secara sistematis. Jadi, meskipun sangat dasar, karya al-Khawarizmi menjadi satu dari temuan penting yang akan terus berkembang…”

Maka tidak berlebihan rasanya jika dikatakan, tanpa Muslim, matematika modern mungkin tidak akan semaju yang kita rasakan saat ini.

Peran Muslim dalam bidang matematika tidak hanya pada pencetusan angka, selain al-Khawarizmi ada juga matematikawan jenius Muslim seperti Umar al-Khayyam yang memberikan kontribusi besar dalam menyelesaikan berbagai masalah Aritmatika dan al-Jabar. Atau sebut saja al-Hajjaj bin Yusuf bin Mathar yang menerjemahkan, mengkritik serta mengomentari buku Elements karya Euclides (330-260SM).

Ada juga Nashiruddin al-Thusi, ia menangani postulat yang ke lima dalam teori Euclides dengan memberikan bukti baru bahwa jumlah ketiga sudut sama sisi sama dengan dua sudut segitiga sama kaki. Teori al-Thusi masih digunakan oleh ilmuwan matematika modern hingga saat ini. Selain itu teori al-Thusi menjadi titik tolak perubahan dalam pengembangan ilmu teknik modern.

Fakta sejarah ini tentunya menyadarkan kita, bahwa Islam sangat erat hubungannya dengan sains modern. Ilmuwan Muslim menjadi pioneer di masa lampau dalam bidang sains, tidak hanya matematika, tapi di semua bidang sains. Mereka menjadi rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan kala itu. Sehingga menjadi sebuah renungan bagi kita semua, akankah kiblat ilmu pengetahuan yang saat ini mengarah ke Barat mampu dikembalikan lagi ke dunia Islam?. Muttaqin & Kharis Madjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *