GEREJA BAPTIS DAN PROBLEM BAPTIS BAYI

Lambang Gabungan Gereja Baptis Indonesia

Gereja Baptis Indonesia – Penginjili mulai masuk di Indonesia pada abad ke- 19 di tanah Papua melalui petugas dari kerajaan Inggris yang juga anak dari Bapak Penginjili dunia. Ia adalah Jabez Carey, anak William Carey yang tinggal selama 4 tahun pada 1814-1818. Selain Jabez, terdapat sekitar 20-an penginjil yang ditugaskan di Indonesia diantaranya yang paling terkenal adalah Richard Wuthon dan Natanil Ward. Mereka berdua adalah penginjil pertama yang masuk ke tanah Batak pada tahun 1824.

lihat juga : Contoh AD/ART Gereja Baptis

Meskipun tidak berhasil mendirikan jemaat, namun karyanya masih bisa dimanfaatkan sampai sekarang yaitu terjemahan Injil dalam bahasa Batak.

Pendirian jemaat Baptis di Indonesia diawali dengan bergabungnya gereja- gereja di seluruh pulau Papua Barat termasuk Papua New Guenea. Persekutuan tersebut dinamakan Persekutuan Gereja- Gereja Baptis Irian Jaya (PGBIJ).

Badan ini bekerja mulai tahun 1956 dan sudah memiliki sekitar 36.000 lebih warga, jumlah ini pada tahun 1998 dan belum mencakup anak- anak yang belum dibaptis. Selain PGBIJ, masih ada lima lagi organisasi gereja- gereja Baptis di Indonesia yakni:

1. Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI)

GGBI melakukan pembaptisan pertama pada 23 November 1952 dan berkembang pesat setelah gagalnya pemberontakan G30S PKI tahun 1965. Organiasi ini memiliki tiga komitmen yaitu, Pengabaran Injil, Pendidikan, dan Sosial. Berikut adalah visi dan misi daripada GGBI yang dikutip dari halaman resmi GGBI pusat :

Visi GGBI adalah:

  1. Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20)
  2. Menghimpun umat Baptis dalam suatu organisasi yang teratur sebagai pelembagaan Keluarga Besar Umat Baptis Indonesia.
  3. Bersama-sama dengan Pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia berusaha mencapai masyarakat adil dan makmur baik spritual maupun material berdasarkan Pancasila.

Misi Gabungan Gereja Baptis Indonesia :

Untuk mencapai tujuannya, GGBI melakukan program kegiatan sebagai berikut:

  1. Membina dan membimbing gereja-gereja Baptis Indonesia dalam kerangka pemupukan semangat persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa solidaritas dan semangat kekeluargaan antar gereja dan antar umat dalam wadah keluarga besar.
  2. Melaksanakan pendidikan sebagai sarana peningkatan kecerdasan, kesadaran, dan tanggung jawab serta kemampuan untuk berperan dan mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia.
  3. Menyelenggarakan pelayanan sosial kemanusiaan dalam bidang kesehatan, pertanian, literatur, media masa, dan lain-lain. Hal ini sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat baik spiritual maupun material sesuai dengan cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam Pancasila.
  4. Menyelenggarakan usaha-usaha yang mendatangkan keuntungan untuk keperluan organisasi GGBI.

2. Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI)

Didirikan oleh pemuda- pemudi GMIM yang bersekolah di CAMA/KINGMI di Makassar pada 1930-1940an.

Saat ini KGBI telah ada di 24 Provinsi di Indonesia yaitu : Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Riau, dan Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

3. Gereja Baptis Independent di Indonesia (GBII)

             Dideklarasikan oleh sejumlah penginjil independen sejak 1970 yang merupakan utusan organisasi penginjil di Jepang dan Amerika.

4. Sinode Gereja Baptis (t) Jakarta

            Bermula dari sebuah jemaat berbahasa Mandarin di Jakarta pada tahun 1952.

Beberapa Pokok Ajaran dalam Gereja Baptis dan Prakteknya:
  1. Alkitab; adalah otoritas tertinggi untuk  menentukan keimanan.
  2.  Gereja; sebagai persekutuan dari pribadi- pribadi yang telah diselamatkan oleh Allah melalui pengorbanan dan penebusan Kristus.

Tanda- tanda penetapan dalam Gereja Baptis;

Baptis Dewasa Source; Google
Baptis Dewasa Source; Google
  1. Baptisan; dengan cara selam dan dilakukan oleh orang dewasa dan bukan bayi seperti gereja lainnya.
  2. Perjamuan Kudus; ritual mengenang pengorbanan Kristus.
  3. Kemerdekaan setiap Jemaat.
  4. Gereja Harus berpisah dari Negara dan harus ada jaminan kebebasan beragama bagi setiap manusia.

Kebaktian Minggu pagi yang sederhana adalah ciri khas dari Baptis. Pertama yaitu memainkan Piano, kemudian nyayian umat, dan  do’a pastoral. Setelah nyanyian umat dan penyampaian selamat datang oleh Pendeta kepada jemaat dan anggota baru. Terdapat nyanyian tunggal/jemaat bersamaan dengan pengumpulan dan persembahan. terakhir adalah penyampaian Khotbah oleh pendeta.

Lihat Juga : Menjelajahi Gereja Katedral Aachen Saksi Bisu Perjuangan B. J. Habibie (selain Gereja Baptis)

Problematika Baptis Bayi

Problem ini muncul ketika ada sekelompok orang mempertanyakan baptis bayi di kebanyakan Gereja selain Baptis. Secara praktis, kebanyakan mereka bertanya seperti ini :

“apakah baptis bayi tidak melanggar hak asasi manusia, walau itu adalah anak- anak mereka sendiri?”

Megenai relasi iman dan baptis bayi, mereka menganggap anak- anak belum  bisa beriman secara pribadi. Maka timbullah pertanyaan seperti ini :

“Bagaimana anak tersebut dibaptis, sedangkan belum bisa beriman? Bukankah baptisan itu mengandaikan iman?”

Baptis Bayi Source ; Google
Baptis Bayi Source ; Google

Pertanyaan- pertanyaan seperti itulah yang kemudian menimbulkan pemikiran bahwa lebih baik anak- anak dibiarkan tumbuh, dan setelah dewasa dipersilakan memilih sendiri kepercayaannya. Alasan penolakan baptisan untuk bayi cukup beragam diantaranya; Pertama, sesuai dengan pemaknaan terhadap iman yaitu tindakan pengakuan terhadap wahyu Allah secara pribadi. Iman adalah urusan pribadi dan bukan urusan orang lain. Dan bayi dianggap belum bisa melakukan hal- hal tersebut secara pribadi dan personal. Kedua, Baptisan mengandaikan pewartaan dan pemahaman terlebih dahulu. Dalam praktiknya, pewartaan dan pengakuan tersebut tidak ada karena masih bayi dan dilangsungkan begitu saja. Ketiga, iman adalah tindakan menuntut tanggung jawab dan mensyaratkan kebebasan pribadi, dan seorang bayi belum bisa bertanggung jawab atas hal tersebut. Azzamul Azhar


Homepage

Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja, (Jakarta : BPK Gunung Muria, 2010)

Yusuf Siswantara, Sekramen Baptis (Problematika Baptisan Anak), (Parahyangan : 2010), Universitas Katolik Parahyangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *