Asta Kosala Kosali Bumi, Fengshui ala Masyarakat Hindu Bali

Asta Kosala Kosali Bumi, Fengshui ala Masyarakat Hindu Bali

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya

Dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan dalam praktiknya di masyarakat, mahasiswa semester 2
prodi Studi Agama-Agama melakukan Studi Akademik (SA) ke Kabupaten Malang. Objek SA kali ini
adalah Forum Kerukunan antar Umat Beragama (FKUB) Kota Malang, Pura Bhuvana Kerta, Paroki Hati
Kudus Yesus, dan Vihara Vajra Bumi Kertanegara. Dalam kunjungannya ke Pura Bhuvana Kerta di
Singosari, para mahasiswa disambut dengan hangat oleh Mangku Gupta dan para pengurus pura.

Mahasiswa SAA dan Dosen Pembimbing Studi Akademik Bersama Para Tokoh Agama Hindu Bali

Di antara banyak hal yang didiskusikan, salah satu yang menarik adalah prolog yang diberikan Mangku
Gupta. Beliau memulai dialog dengan bercerita tentang Asta Kosala Kosali Bumi, yaitu aturan dan
tatanan dalam tata letak berbagai sesuatu. Hal ini senada dengan Fengshui yang dikenal di masyarakat
Tionghoa. Dalam mendirikan rumah dan rumah ibadah, prinsip ini menempati posisi vital bagi
masyarakat Hindu Bali.

Asta Kosala Kosali

Salah satu penjelasan yang diberikan adalah tentang pembagian halaman/ruangan di pura tersebut.
Pura yang berada di komplek Angkatan Udara tersebut terdiri dari 3 halaman sebagaimana konsep
tersebut. Halaman pertama disebut Nista Mandala. Bagian ini merupakan lahan parkir dan halaman di
depan pura. Di bagian ini, para pengunjung pura tidak diwajibkan berpakaian khusus selama masih
dalam batas kesopanan. Para pengunjung juga masih diperbolehkan untuk berbicara tentang urusan
duniawi.

Dari halaman pertama, ada pintu yang tidak terlalu besar menuju halaman kedua yang disebut Madya
Mandala. Mulai memasuki tempat ini berarti mulai mentaati berbagai peraturan yang berlaku. Sebelum
masuk, semua pengunjung wajib diciprati air suci dan mengenakan ‘seteng’ atau selendang yang
diikatkan di pinggang. Air suci yang diberikan kepada para pengujung dimaksudkan untuk menetralisir
berbagai pengaruh dan aura buruk yang dibawa para pengunjung dari luar pura. Adapun ‘seteng’
merupakan simbol dari pengikatan hawa nafsu duniawi dan mulai memfokuskan diri pada penyembahan
dan pemujaan.

Mahasiswa dan Dosen Menyimak Pemaparan Tokoh Agama Setempat

Bagian terakhir dan yang paling utama disebut Utama Mandala. Pintu masuk ke ruangan ini hanya
terbatas pada satu pintu kecil dan cukup dimasuki oleh satu orang saja. Sebelum memasuki ruangan,
para pengunjung diwajibkan melepas alas kaki dan meninggalkan berbagai urusan duniawi di luar pintu
tersebut. Ruangan ini khusus untuk ritual pemujaan dan bersifat suci. Saat beribadah dan melakukan
pemujaan, para umat Hindu Bali menghadap ke arah Timur. Karenanya, patung dan bangunan tertinggi
berada di sebelah Timur.

Konsep ini juga diaplikasikan dalam pembangunan rumah masyarakat Hindu Bali. Nista Mandala
diibaratkan sebagai kaki, Madya Mandala sebagai perut, dan Utama Mandala sebagai kepala. Nista
Mandala berada di halaman depan rumah dan berisikan berbagai ruangan yang tidak begitu suci, yaitu
kamar mandi, tempat mencuci, dan juga jemuran. Karenanya, tidak mengherankan bila di pemukiman
masyarakat Hindu Bali, jemuran yang biasanya terletak di bagian belakang rumah justru berada di depan
rumah.

Ruang tengah merupakan ruang tengah yang cukup suci dan berisikan hal-hal yang duniawi yang baik.
Puncaknya adalah Utama Mandala yang terletak di ujung rumah yang diibaratkan sebagai kepala dan
menjadi tempat pemujaan dan peribadatan. Mereka menjaga tempat tersebut selalu suci dan bersih
dan tidak memasukinya kecuali dalam keadaan suci dan berfokus pada pemujaan.

 

“Demikianlah kami (masyarakat Hindu Bali) meyakini tata letak dalam pembangunan rumah dan rumah
ibadah. Memang cukup berbeda dengan kebanyakan konsep tata letak yang ada, seperti penempatan
kamar mandi dan jemuran di dekat pintu masuk” ujar Pemangku Pura Bhuvana Kerta sejak tahun 1975 tersebut seraya menutup prolognya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *