Bahasa Arab Sebagai Medium Dalam Studi Agama-Agama Di Timur Tengah

oleh: Yuangga Kurnia Yahya, M. A.

(Dosen Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor)

 

Ba’da Maghrib Rabu (28 Maret 2019) kemarin, Al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M. A. Menyampaikan sejumlah pesan terkait urgensi bahasa arab dalam studi agama-agama dalam konteks Timur Tengah. Dosen prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor tersebut  memaparkan kuliahnya dalam forum “حديث الأربعاء” yang merupakan forum pendalaman bahasa Arab dan Inggris mingguan gagasan Pusat Bahasa UNIDA Gontor. Mari kita simak seksama intisari kuliah singkat tersebut:

Bahasa, Agama, dan Konstruksi Masyarakat

Bahasa tidak dapat terpisah dari budaya. Sapir (1921: 100) mengatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya, dari praktik-praktik sosial, dan kepercayaan yang mewarnai kehidupan manusia. Dalam bahasa lain, bahasa tidak hanya alat komunikasi manusia namun juga merupakan kunci untuk menyelami dalamnya budaya masyarakat di suatu masa (a key to the cultural past of society) sekaligus pemandu realitas sosial (a guide to ‘social reality’) (Thanasoulas, 2001: 7; Elmes, 2013: 12). Sapir (1921: 104) dan Whorf (dalam Carrol, 1978: 159) menekankan bahwa sebuah kemustahilan untuk mempelajari salah satunya saja dengan mengabaikan yang lainnya karena kedekatan antara keduanya. Baik bahasa maupun budaya merupakan bentuk ekspresi manusia akan kehidupan sosial masyarakat mereka: Budaya adalah realisasi tentang apa yang masyarakat perbuat dan pikir, sementara bahasa, di lain sisi adalah ekspresi tentang bagaimana cara berpikir mereka.

Sistem kepercayaan juga memiliki ikatan yang erat dan tak terpisahkan dengan budaya di mana sistem kepercayaan dan agama tersebut lahir dan berkembang. Ia merupakan unsur kebudayaan yang paling sukar berubah atau terpengaruh kebudayaan lain (Koentjaraningrat, 1981: 3). Artinya, senantiasa ada keterkaitan antara bagaimana agama ‘menemukan tempatnya’ di masyarakat. Dalam konteks kehidupan antara agama di Timur Tengah, misalnya, pendekatan yang tepat akan fenomena keagamaan tersbut tidak dapat tercapai kecuali dengan memahami bahasa Arab dan budaya Arab. Bagaimana kemudian selayaknya kita melihat kajian studi Islam dan Kristen (Kristologi) di Timur Tengah? Mari kita diskusikan.

Sejarah al-Qur’an dan Injil dan Relasinya dengan Bahasa Arab

Ilustrasi Injil dengan Bahasa Arab

Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam Bahasa Arab, bahasa Nabi Muhammad SAW tinggal dan agama Islam lahir. Hingga kini, al-Qur’an tetap dipertahankan dalam bentuk teks aslinya meski disertai terjemahannya ke berbagai bahasa di dunia (al-Rehaili, 2003: 1). Adapun Injil merupakan empat kitab pertama khas Kristiani dalam Perjanjian Baru dan merupakan salah satu kandungan dari Bibel atau Alkitab. Injil merupakan kitab yang secara khusus ditulis oleh para rasul/murid Yesus dan merupakan “pengakuan iman” atas konsep ketuhanan dalam agama Kristen (Michel, 2001: 27).

Teks Injil yang berbahasa Yunani merupakan rujukan dasar penerjemahan Bibel ke berbagai bahasa di era modern ini (Michel, 2001: 26; Griffith, 2013: 148). Penerjemahan Bibel ke bahasa Arab dimulai sejak masa Khalifah Abdu’l Malik Ibn Marwan (685-705) dan dilanjutkan oleh penerusnya, Khalifah al-Walid Ibn Marwan (705-715) (Griffith, 2013: 152-153). Sumber lain mengatakan bahwa terjemahan pertama disusun oleh John, Bishop Sevilla pada 750 M (Hall, 1885: 277). Berbagai terjemahan tersebut disempurnakan pada awal abad XIX M oleh para misionaris Protestan. Terjemahan modern pertama dicetak di Cambridge pada pertengahan tahun 1850, disusul oleh cetakan Misionaris Amerika di Beirut pada 1865 oleh Dr. Eli Smith dan Dr. Cornelius Van Dyck (Somekh, 1995: 189; Hall, 1885: 277).

Terkait dengan sejarah penulisan kedua kitab suci tersebut, perlu kita pahami apa yang dinamakan dengan Leksem. Leksem adalah satuan bermakna yang membentuk kata (Kridalaksana, 2008: 141). Leksem yang digunakan dalam al-Qur’an dan Injil berbahasa Arab banyak bentuk dan ragamnya. Leksem ini akan membentuk kata dan kalimat yang terkandung dalam ayat-ayat di dalamnya. Salah satu yang paling terlihat, khususnya bagi masyarakat tutur non-Arab, adalah leksem bermakna Tuhan. Leksem ini di dalam al-Qur’an disebutkan dengan beberapa bentuk, seperti Allāh, Rabb, Ilāh, dan dhamīr (anā, anta, huwa, nahnu, hu). Adapun dalam Injil berbahasa Arab disebutkan dengan bentuk Allāh, Rabb, Ilāh, Āb, Yasū’ dan Ibn. Leksem ini yang nantinya akan menyusun kata, klausa, kalimat, dan wacana tentang ketuhanan di dalam kedua kitab suci tersebut.

Kaos bertuliskan “ابانا” yang artinya “Bapa Kami” yang digunakan oleh Umat Kristiani Arab

Pada dasarnya, baik al-Qur’an dan Alkitab berbahasa Arab menggunakan leksikon yang sama dalam mengekspresikan Tuhan. Dalam al-Qur’an disebutkan سبيل الله sabīlil-lah ‘jalan Allah’ dalam QS 3: 13 dan 146. Adapun dalam Injil berbahasa Arab, makna serupa diekspresikan dengan bentuk طريق الله tharīqul-lah `jalan Allah` dalam Matius 22: 16 dan Markus 12: 14. Dalam al-Qur’an juga menyebutkan الله على كل شيء قدير Allāh ‘ala kulli syaiin qadīr ‘ `Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu` dalam QS 2: 20, 106, 109, 259 dan 284. Adapun dalam Injil berbahasa Arab disebutkan عند الله كلّ شيء مستطاع ‘indal-llāh kullu syaiin mustathā’ `bagi Allah segala sesuatu mungkin`  di Matius 19: 26, Markus 10: 27, dan Lukas 18: 27.

Masalah mulai muncul ketika leksem “Allah”  (الله) yang erat dengan penyebutan Tuhan dalam agama Islam juga digunakan dalam Injil berbahasa Arab. Leksem tersebut banyak digunakan sebagai terjemahan Arab dari kata “God” pada Bibel King James Version. Pada 2009 lalu, hubungan Muslim dan Kristiani di Malaysia cukup memanas dengan penggunaan leksem “Allah” oleh kalangan Kristen dalam penyebutan Tuhan mereka (TIME, 15/10/2013, BBC.com, 14/10/2013 dan Merdeka.com, 11/01/2013). Penyanyi asal Indonesia, Agnes Monica (Agnez Mo) juga pernah mendapat kecaman di Malaysia karena salah satu lagunya berjudul “Allah peduli”, di mana leksem “Allah” digunakan sebagai penyebutan Tuhan Yesus (Kapanlagi.com, 15/03/2009). Kasus serupa juga ramai di Indonesia dengan muncul kaos bertuliskan kaligrafi Arab dan ternyata merupakan ayat Injil Matius dan penggunaan leksem “Allah” dan Bahasa Arab saat peribadatan oleh sekte Kristen Ortodoks Syria (Nahimunkar.com, 17/06/2016). Kedua kasus tersebut menimbulkan polemik yang cukup panas antara kedua pemeluk agama, khususnya dalam “hak penggunaan” leksem “Allah” dalam penyebutan Tuhan mereka.

Oleh karena itulah, pemahaman lebih lanjut akan bahasa dan dalam konteks apa dia digunakan penting sekiranya

Ilustrasi Penolakan Masyarakat Muslim dalam penggunaan kalimat Allah oleh Umat Katolik dalam bahasa Arab.

dilaksanakan sebagai inisiasi awal mendalami fenomena hubungan antara agama di Timur Tengah, khususnya antara Islam dan Kristen. Dalam situasi di mana istilah-istilah keagamaan yang sifatnya serupa digunakan lintas agama, penyelidikan studi agama berbasisskan leksem dan kaitannya dengan budaya setempat sangat membantu identifikasi asal muasal, fungsi dan tujuan diterapkannya istilah tersebut. Dalam konteks tersebut, istilah Allah atau Rabb yang dipahami oleh Umat Kristiani tentu saja memiliki dimensi konsep dan makna yang berbeda dengan Allah dan Rabb yang dipahami umat Islam. Dalam praktiknya  kemudian, Seorang Muslim pada umumnya, dan pengkaji studi agama-agama khususnya wajib untuk menyikapi problem ini secara seksama dengan tidak turut memahamkan bagaimana sejatinya definisi kata-kata tersebut sesuai dengan pandangan hidup (worldview) Islam secara komparatif kemudian dengan konsep kata-kata yang dikandung oleh Umat Kristiani.

Khatimah

Di akhir kuliah, Ust. Yuangga berpesan “الناس أعداء ما جهلوا” ‘manusia merupakan musuh dari hal yang tidak diketahuinya’. Ketika seorang penuntut ilmu merasa cukup dengan kemampuan bahasanya dan tidak berusaha menjaga atau meningkatkannya, ia justru akan terjebak dalam babak baru kebodohan (kejahilan) dirinya. Mempelajari bahasa adalah ‘pekerjaan rumah’ seumur hidup karena bahasa dan budaya selalu berkembang. Dengan menempatkan bahasa Arab sesuai porsinya, seorang Muslim tidak hanya mengafirmasi akidah Islamiyyah, namun juga telah melakukan satu usaha untuk menghilangkan berbagai tuduhan, labelling, dan stereotyping penistaan agama terhadap pihak lain, khususnya umat Kristiani Arab yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

 

Daftar Pustaka

Carroll, John B (Ed). 1978. Language, Thought, and Reality: Selected Writings of Benjamin Lee Whorf. Massachusetts: The M.I.T Press.

Elmes, David. 2013. The Relationship between Language and Culture. Dalam jurnal National Institute of Fitness and Sports in Kanoya International Exchange and Language Education Center: Kanoya, Kagoshima, Japan. 11 – 18.

Griffith, Sidney H. 2013. The Bible In Arabic: The Scriptures of the “People of The Book” in the Language of Islam. New Jersey: Pricenton University Press.

Hall, Isaac H. 1885. ‘The Arabic Bible of Drs. Eli Smith and Cornelius V. A Van Dyck’ dalam Journal of the American Oriental Society, Vol. 11, 1885, 276-286.

Hitti, Philip K. 1970. History of The Arabs: Tenth Edition. London: Macmillan Education LTD.

Koentjaraningrat. 1981. Kebudayān, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Michel, Thomas. 2001. Pokok-Pokok Iman Kristiani: Sharing Iman Seorang Kristiani dalam Dialog Antar Agama. Terj. Y.B. Adimassana dan F. Subroto Widjojo, S.J. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Al-Rehaili, Abdullah M. 2003. Bukti Kebenaran Al-Qur’an. Edisi Terjemahan. Yogyakarta: PADMA.

Sapir, Edward. 1921. Language: An Introduction to the Study of Speech. New York: Harcourt.

Somekh, Sasson. 1995. Biblical Echoes In Modern Arabic Literature. Dalam Journal of Arabic Literature, Vol. 26, No 1/2, The Quest for Freedom in Modern Arabic Literature, 186-200.

Thanasoulas, Dimitrios. 2001. The Importance of Teaching Culture in the Foreign Language Classroom. Jurnal Radical Pedagogy, Issue 3, Late Fall 2001.

Thomas, Kenneth J. 2001. Allah Translations of the Bible. Technical Papers dalam the Bible Translator Vol. 52: 3, Juli 2001, 171-174.

 

Sumber Berita

http://world.time.com/2013/10/15/allah-means-god-unless-youre-a-christian-in-malaysia/ diakses pada 6 November 2017, 06: 27 WIB

http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/10/131013_pengadilan_malaysia diakses pada 6 November 2017, 06:34 WIB

https://www.merdeka.com/dunia/malaysia-memperdebatkan-nama-tuhan.html diakses pada 6 November 2017, 06:32 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *