Bedah Buku Mawaqif bersama Pendekar Gender di UNIDA Gontor Putri

1-bedah-buku-mawaqif-henri-shalahuddin-ushuluddin-saa-unida-gontor-1

Bedah Buku Mawaqif  bersama Pendekar Gender

Mantingan-Kamis (5/12) Fakultas Ushuluddin mengadakan bedah buku Mawaqif Beriman dengan Akal Budi bersama al-Ustadz Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH. Di saat yang bersamaan juga diadakan pelantikan pengurus HMP dan Kastrat (Kajian Strategi) Fakultas Ushuluddin oleh Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz Adib Fuadi Nuriz, Ph.D. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh  mahasiswi Fakultas Ushuluddin Kampus Mantingan Gontor Putri 1. 

Dalam sambutannya, al-Ustadz Adib Fuadi Nuriz menyampaikan bahwa kegiatan fakultas Ushuluddin harus terlaksana tanpa bersinergi dengan kegiatan lainnya. Terkait dengan acara bedah buku ini, Penulis buku Problem Pluralisme Agama tersebut menekankan betapa ilmu Kalam sangat sulit dipahami oleh masyarakat awam. “tugas mahasiswi Fakultas Ushuluddin untuk memahamkan ilmu Kalam kepada masyarakat luas”, tegas Bapak Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin ini.

Al-Ustadz Henri Shalahuddin mengawali diskusi bukunya dengan isu-isu yang sering terjadi di masyarakat.  Maraknya masyarakat yang sering meremehkan problem keagamaan yang krusial, namun sebaliknya membesar-besarkan masalah yang seharusnya tidak perlu diprioritaskan menjadi salah satu alasan beliau menulis buku tersebut. Ilmu Kalam sering kali dianggap tidak relevan dengan zaman, bahkan diharamkan karena pembahasannya yang berat. Namun, pada hakikatnya jika dikemas dengan lugas dan disertai contoh-contoh kekinian, ilmu Kalam akan menjadi pembahasan yang lebih menarik.

Pendekar Gender yang juga merupakan Dosen Program Pascasarjana UNIDA Gontor ini ini juga mengungkapkan fenomena ‘syirik modern’, yang berbentuk orang yang beriman, namun pikirannya masih menyamakan semua agama. Artinya, orang-orang seperti ini tidak sepenuhnya mempercayai ajaran Rasulullah. Untuk menyikapinya diperlukan jawaban yang juga logis di akal. “selama kita tidak emosi, kita bisa menjawab mereka dengan bijak”, Demikian Ustadz Henri menjelaskan.

Mawaqif-Suasana Diskusi Bedah buku Mawaqif

Penyebab terjadinya kesalahan itu adalah, menurut Wakil Sekretaris INSISTS ini adanya ketidakselarasan antara qalbu, lisan, dan jawarih yang menyebabkan pemikiran-pemikiran tersebut terjadi. Sebagai contoh, misalnya, pertanyaan “Mana yang lebih baik, orang beragama atau bermoral?” adalah salah bukti tidak singkronnya qalbu, lisan, dan jawarih. Pertanyaan ini jelas salah, sebab, seakan-akan orang yang beragama belum tentu bermoral dan juga sebaliknya. Padahal, cakupan Islam dalam beragama lebih luas dari itu.

Diakhir bedah buku ini, al-Ustadz Dr. Henri Shalahuddin MIRKH, menegaskan bahwa ketika seseorang salah dalam beragama, akan berakibat pada salah dalam melihat, menyikapi, memprioritaskan, mencintai, berkorban, hingga akhirnya salah kembali. Oleh karenanya, cara pandang seorang mukmin yang baik adalah iman, yang dilandasi dengan ilmu dan diimplikasikan dengan amal dalam realitanya. (Rachmah Intan Muslimah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *