Beragama Secara Filosofis ‘Refleksi atas Kajian di Gontor Putri 5 Kandangan’

Beragama Secara Filosofis ‘Refleksi atas Kajian di Gontor Putri 5 Kandangan’

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Apa itu ‘beragama’? Apa itu filosofis? Samakah filosofis dengan filsafat? Bagaimanakah cara beragama dengan filosofis? Pertanyaan-pertanyaan ini sesungguhnya adalah sendirinya merupakan sebuah ‘problem filosofis’ (philosophical problem). Sebab, jika kita pahami bahwa filsafat adalah sebuah upaya guna mencapai kebijaksanaan (philosophia/ φιλοσοφία), karakteristik filsafat selanjutnya penting untuk diditerminasi agar Filsafat mampu menginformasikan ide dan metode yang digunakan dalam penyelidikannya. (Oswald Külpe, Introduction of Philosophy, 7-14). Artinya, filsafat hanya mampu didefinisikan dengan tepat jika telah jelas objek kajiannya secara ‘filosofis’.


Agama atau religion, maknanya secara harfiah adalah ‘keterikatan yang berulang’ (re=kembali, ligare= terikat (latin)). Secara istilah, keterikatan yang berlangsung terus menerus ini terjadi pada sebuah objek yang Maha bernama Tuhan. Bentuk konsekuen dari keterikatan ini hadir dalam beberapa aspek keagamaan yang dipaparkan oleh Daniel Pals atau Ninian Smart misalnya; Ritual, Pengalaman, Mistis, Dogma, Etika, Institusi, dan Material, (Ninian Smart, World’s Religions, 3-17). Artinya, segala macam pergerakan yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut di atas mampu diklasifikasikan sebagai sebuah agama, bahkan olahraga macam bola sekalipun, bisa menjadi ‘agama’ dengan hura-huranya, kelompok fanatiknya, kostum, dan ideologi kemenangannya. Meskipun Durkheim, menekankan akan adanya ‘kesatuan iman dan ritual terkait dengan sesuatu yang sakral’ (Elementary Forms of Religious Life, 46), pada praktiknya, sangat mudah bagi siapapun untuk mengkonsepsikan agama dengan cara yang faktanya sama sekali tidak agamis!

Jadi memang konsepsi agama harus memenuhi unsur ilahiah (divine) atau sakral (sacred) melalui sejumlah elemen yang termaktub. Di sinilah, guna mendapatkan pemahaman yang benar atas agama, pendefinisian tentangnya harus dilakukan dengan cara filosofis. Filsafat Agama, tulis Blackburn, adalah “… The attempt to understand the concepts of involved in religious belief: existence, necessity, fate, creation, sin, justice, mercy, redemption, God.” (Oxford Dictionary of Philosophy, 413). Paling tidak ada tiga alasan mengapa memahami agama (dengan benar) dalah krusial sebagai sebuah aktivitas keilmuan: Pertama, karena agama-agama dan ideologi dunia adalah komposisi vital dalam beragama pengalaman kehidupan manusia. Kedua, guna memahami makna dan nilai kebudayaan dari dunia yang plural saat ini, manusia perlu mengerti pandangan hidup yang mendasari ideologi dan kepercyaan yang terbentuk dalam agama-agama itu. Ketiga, individual manusia akan senantiasa cenderung membangun gambaran realitas yang koheren dan emosional dari dan untuk dirinya; di mana itu semua bisa tervisualisasikan secara relevan dari pemikiran dan praktik agung peradaban dan kebudayaan raksasa di dunia. (World Religions, 10). Walhasil, tidaklah studi agama-agama bertujuan selain untuk melihat dunia ini dengan pemahaman yang fokus, komprehensif, dan universal, dan tidaklah filsafat agama bertujuan kecuali guna mendapatkan pemahaman yang benar akan ‘agama’ itu sendiri.

Islam, di lain sisi, ternyata memiliki sebuah distingsi yang unik dalam konsepnya sebagai sebuah agama. Agama Islam, sesuai dengan konsepsinya tidak bisa serta-merta disamakan dengan konsep agama pada umumnya. Agama dalam perspektif keislaman tidak mampu dikonspesikan hanya berdasarkan pandangan dunia (Worldview/ Weltanschauung) yang dibangun dari kumpulan bermacam objek budaya, nilai, dan fenomena dalam sebuah kesatuan artifisial; Agama dalam pandangan hidup keislaman juga tidak mampu hanya dikonstruksi melalui proses perkembangan dan historis dari spekulasi filosofis dan penemuan saintifik, yang dengannya mesti meninggalkan sebuah jejak yang samar dan memungkinkan adanya perubahan dan alterasi di masa depan sesuai dengan paradigma-paradigma yang bergeser sesuai dengan kondisi realitas. Konsepsi Agama dalam Islam, semestinya justru dikonsepsikan dan diafirmasi menurut wahyu lewat prinsip-prinsip intuitif dan intelektual. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam, 1-4). Konsepsi inilah yang tidak dimiliki oleh agama-agama major lainnya dan juga menjadi sebuah karakteristik unik dari Islam sebagai sebuah agama.

Konsepsi Agama dalam Islam, dinyatakan secara lantang dalam al-Qur’an sebagai Diin (دين). Diin sebagai sebuah bangunan konsepsi agama juga memiliki sejumlah fondasi ayat suci yang menerangkan dengan detail dan spesifik di tiap-tiap ayat yang berbeda. Din sebagai agama yang benar, misalnya, diungkapkan dalam ayat-ayat berikut: (As-Syura (42:13), Taubah (9:33), Rum (30:30), Bayyinah (98: 5), Al baqarah (2-256); Diin sebagai agama di sisi Allah dalam surat Ali Imran (3:19), Diin al-Islam dalam surat Ali Imran (3: 85), dan Diin sebagai agama Allah dalam surat Hud (11:2). Berdasarkan ayat-ayat inilah, bangunan konsep dan kerangka teori agama dalam pandangan hidup Islam dibangun dan dikembangkan. ‘Perkembangan’ yang dimaksudpun terbatas pada proses interpretasi dan elaborasi yang nisaya terjadi di antara generasi-generasi umat Islam dari berbagai bangsa merujuk kepada ayat-ayat al-Qur’an tersebut di atas sebagai ‘unchanging Source’. (Prolegomena, 4). Syed Muhammad Naquib al-Attas mereduksi konsep Din pada 4 elemen sebagai berikut: keberhutangan, keberserahandiri, kekuatan kebijaksanaan, serta tendensi natural. Pada kesempatan ini, paling tidak, akan kita pahami esensi pertama dari konsep Din menurut al-Attas.


Keberhutangan (dayn/ دين) sebagai salah satu elemen dari Diin, dapat dirujuk dari akar kata yang sama yaitu daana (دان). Secara konseptual, ia menjelaskan keberhutangan manusia pada Tuhan yang sudah menciptakannya dan memelihara dirinya. (Prolegomena, 45). Orang yang berhutang (madyuun/ مديون ) kepada Allah, sesungguhnya memang terikat kepada-Nya dengan segala Kekuatan dan Kekuasaan yang Dimilikinya sebagai Dayyaan atau Qahhaar (ديان, قهار). (Ibn Manzhur, Lisaan al-‘Arab, 1467-1468). Dalam analisa al-Attas, segala makna yang terkandung dalam konsep dayn ini hanya mampu terlaksana di dalam sebuah masyarakat yang terorganisir dengan aktivitas-aktivitas kehidupan komersial di kota-kota dengan istilah madaa’in (مدائن) yang dalam perkembangannya kita kenal dengan madiinah (مدينة). Kata maddana (مدّن) yang diambil daripadanya kata madiinah ini memang ternyata bermakna ‘membangun’. Menariknya di sini, pembangunan dalam konsep diin ternyata tidak hanya terbatas infrastruktur namun juga peradaban (tamaddun/ (تمدن (prolegomena, 41-44). Dari sini, dapat kita lihat unsur-unsur yang tersusun secara konseptual dari makna keberhutangan menghasilkan sebuah gambaran kehidupan yang beradab dan/atau dengan kata lain, kehidupan beragama sesuai dengan pandangan hidup Islam adalah kehidupan yang beradab.

Lantas apakah adab itu? Di bagian lain dari bukunya, Al-Attas menulis Adab sebagai “… is the right action that springs from self-discipline founded upon knowledge whose source is wisdom.” Knowledge atau pengetahuan, sementara bermakna akan sampainya makna akan sesuatu dalam jiwa. Pencapaian itu, hanya mampu terdemonstrasikan dengan pengakuan yang tepat ( عدل/’adl) atau adil akan wujud dan eksistensi Tuhan. (Prolegomena, 16) Keadilan akan pengakuan itulah yang terafirmasi dalam bentuk keberhutangan kepada Tuhan yang telah disebut di atas. Sumbernya adalah Hikmah (حكمة)/wisdom yang secara harfiahnya bermakna mengetahui keutamaan segala sesuatu dengan keutamaan ilmu-ilmu pengetahuan (Lisaan al-‘Arab, 951). Artinya, Hikmah adalah simbol akan puncak ilmu pengetahuan yang paling utama dan utama. Konklusinya adalah, jika hikmah melahirkan ilmu pengetahuan, maka dengan ilmu pengetahuan itulah kemudian manusia dapat mengkonsepsikan adab dalam pikirannya yang kemudian diharapkan dapat berbuat di dunia ini sesuai dengan adabnya. Jika hikmah tertinggi adalah pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan, maka yang hanya mampu dikonsepsikan sebagai perbuatan beradab adalah hal-hal yang mengafirmasi Allah dengan segala macam perangkat-Nya. Komunitas manusia beradab akan membentuk sebuah peradaban alias Madiinah. Begitulah seterusnya.


Jadi konsepsi agama dalam Islam seyogyanya memang tidak hanya terbatas di unsur-unsur yang tujuh itu. Paling tidak, ada konstruksi semantik yang dengannya dapat dilihat bagaimana ‘sebenarnya’ Islam itu. Dalam perkembangan diskusinya, penting sekiranya untuk membandingkan Islam dalam konteks ideologinya dengan sekularisme, marxisme, naturalisme, dan seterusnya guna pembuktian lebih jauh kekuatan bangunan konsep keislaman sebagai worldview atau pandangan hidup. Pendekatan filosofis, lagi-lagi diperlukan guna memahami agama itu ‘apa adanya’ dan sesuai dengan tempatnya. Jika seorang Kristiani perlu memahami agamanya sesuai dengan tradisi kristianitas, maka seorang Muslim pun wajib memahami Islam sesuai dengan ajaran keislaman. Jangan terbalik dan jangan ditukar. Selama Muslim masih memiliki kacamata untuk melihat bagaimana ‘adl seharusnya dilaksanakan, itulah namanya keadilan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *