Memahami kembali ‘Bondo Bahu Pikir lek Perlu sak Nyawane Pisan’ di Universitas Darussalam Gontor

bondo-bahu-pikir-saa-studi-agama-agama-trimurti-pendiri-pesantren-modern-gontor-pesantren-gontor

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Semenjak awal berdirinya, Sistem dan Disiplin Pondok Modern Darussalam Gontor berjalan senantiasa berdasarkan filsafat dan pandangan hidup spiritual para Trimurti Pendirinya: KH. Ahmad Sahal, KH. Zainudin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi. Filsafat dan pandangan hidup tersebut, terderivasikan pada Panca Jiwa (Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan) Motto (Berbudi Tingi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas, Berpikiran Bebas), dan sejumlah kalimat seperti: “Berjasalah namun jangan minta jasa”; “Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja”; “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap ku ajar, yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun yang satu ini pun tidak ada, aku akan mengajari dunia dengan pena”; “Bondo Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Pisan”, dan lain sebagainya.

Di antara ajaran-ajaran itu, ‘Bondo Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Pisan’ itu adalah petuah yang paling mengena di hati saya. Pasalnya, kalimat ini tidak hanya sekedar pesan yang disampaikan oleh seorang Kiyai, namun juga ajaran yang sarat dengan perjuangan. Kalimat dalam bahasa Jawa yang disampaikan oleh KH Ahmad Sahal ini artinya kurang lebih, “Harta, tenaga, dan pikiran, kalau perlu nyawanya juga sekalian.”

Lihat Juga: Panca Jiwa Pondok Modern Gontor dalam LKBB

Maknanya, manusia tidak boleh tanggung-tanggung atau setengah-setengah dalam memperjuangkan umat. Guna mencapai itu, segala macam potensi yang kita miliki ini pun harus dikerahkan. Mulai dari harta, tenaga, pikiran, pun jika dibutuhkan nyawa ini yang jadi taruhan.Maksudnya dalam berjuang kita haruslah ‘all out’ atau tidak boleh tanggung-tanggung, malah kalau perlu nyawa pun kita pertaruhkan demi kesuksesan perjuangan kita. Kita harus selalu ingat bahwasannya tak ada keberhasilan tanpa pengorbanan dan tak ada artinya pengorbanan tanpa kesungguhan. Konsep perjuangan ini jadinya tidak hanya soal prinsip-prinsip duniawi, namun juga ukhrawi. Syahdan, Kiyai Sahal sangat memahami betapa setiap detak, nafas, dan langkah kita kelak akan dipintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Jika seumur hidup tidak sungguh-sungguh dalam berjuang, bagaimana kita mampu menghadap-Nya yang telah memberikan nyawa?

Dalam catatan sejarah, filsafat Bondo Bahu Pikir ini juga menjadi pegangan Para Pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor Generasi Kedua. Pemimpin generasi kedua ini adalah mereka yang memimpin Pondok pasca Trimurti yaitu. K.H. Shoiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., dan K.H. Hasan Abdullah Sahal.  Konon, di awal kepemimpinan generasi kedua ini, kekhawatiran dan keraguan akan nasib Pondok Modern Darussalam Gontor sempat menyelimuti. Namun, berbekal filsafat hidup “Bondo Bahu Pikir Lek Perlu Sak Nyawane Pisan” ajaran KH Ahmad Sahal tersebut, Generasi kedua mampu menghadapi segala rintangan dan ujian dalam mempertahankan, mengembangkan, dan memajukan Pondok Modern Darussalam Gontor baik dari aspek fisik maupun non fisiknya.

Penerapan Bondo Bahu Pikir di UNIDA Gontor

di Universitas Darussalam Gontor pun demikian. Dalam melaksanakan tugasnya, seluruh sivitas akademika tidak hanya ‘bekerja’ sekedar bekerja, namun memang mengabdi guna menegakkan kalimat Allah. Mahasiswa, Staf, Tenaga Kependidikan, Dosen, hingga Rektor memiliki andil dalam porsinya masing-masing dalam mengerahkan potensi Bondo, Bahu, Pikir, hingga Nyawanya sekalian untuk berjuang di UNIDA. Orientasi keilmuan yang dibangun melebihi dimensi kurikulum akademik, namun terlaksana demi mencetak kader-kader Alim Ulama yang siap mengajar di masyarakat. Orientasi penelitian tidak hanya terlaksana sebatas bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, namun juga sebagai perpanjangan tangan pengabdian sebagai hamba Allah azza wa jalla. Dan seterusnya.

Pimpinan Pondok Modern Gontor, Ketua Badan Wakaf, dan Rektor Universitas Darussalam Gontor berphoto besama Paul Smith, OBE, Direktur British Council Indonesia

Lihat Juga: Catatan untuk Wisudawan UNIDA Gontor

Dalam sebuah pertemuan bersama para Dosen dan, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Wakil Rektor I UNIDA Gontor pun menyatakan, bahwa nominal yang didapat oleh para Dosen bukanlah gaji melainkan Ihsan sebagai bentuk penghormatan pondok terhadap Bapak Ibu Dosen. Jikalau seandainya dihitung, semestinya ‘gaji’ Bapak Ibu Dosen itu mencapai jutaan rupiah. Para mahasiswa pun, selayaknya mengeluarkan lebih dari uang SPP dan Makan karena yang dikerjakan Bapak Ibu Dosen sesungguhnya memang di atas apa yang dibayarkan oleh mahasiswa itu. Bayangkan, ketika mayoritas karyawan terbelenggu oleh jam kantor, Dosen UNIDA Gontor siap berdiskusi dan mengayomi mahasiswa dari mulai setelah subuh hingga malam hari.

Di UNIDA, setiap orang adalah santri dari Kiyai (Bapak Rektor) yang siap mengabdi kapan saja. Sehingga sangat wajar sekali jika kita ditemukan bahwa muamalah pengabdian sivitas akademika UNIDA Gontor melebihi dimensi ruang dan waktu Bahkan ketika jam 2 malam pun, di bilik-bilik rusunawa Abu Bakar atau Umar bin Khattab, akan kita dengar mahasiswa yang berdoa dengan khusyu sambil berlinang air mata, “Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa bapak-ibu kami, dosa guru-guru kami, dosa ustadz dan ustadzah kami, dosa dosen-dosen kami. Berikanlah kami syafaat baginda Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam sehingga kami tetap berkumpul kembali menjadi keluarga umat Muhammad di surga-Mu ya Allah.”

Inilah Gontor. Inilah UNIDA Gontor. Bondo, Bahu, Pikir, Lek Perlu Sak Nyawane Pisan.! (Rizal Maulana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *