Deislamisasi Sejarah Indonesia: Analisa Pengaruh Kolonialisme Barat atas Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (II)

(Tulisan Kedua dari Dua Bagian)

Alif Nur Fitriani/ SAA VI

Deislamisasi Sejarah: Sebuah Distorsi

The Geopolitics of Information karya Anthony Smith

Dengan kata lain, lewat gerakan imperalnya, pemerintah kolonial Barat berupaya menaklukan Islam kembali tidak

hanya lewat gerakan penguasan wilayah melainkan juga mencoba menjajah pola pikir dengan cara distorsi penulisan sejarah, sebagaimana diakui Anthony Smith dalam tulisannya, The Geopolotics of information. (Anthony Smith, 1980: 69). Fenomena ini pun sangat terasa di antara generasi milenial Indonesia dewasa ini yang sekiranya telah terhinggapi rasa herolessness; sebuah situasi di mana mereka tidak merasa ‘memiliki’ figur pahwalan. Hal ini merupakan salah satu dampak dari sistem penulisan dan penerbitan pelajaran Sejarah Indonesia atau Museum dan Monumen Nasional yang ditulis dan disajikan sangat bertolak belakang dari dasar pemikiran deislamisasi (Ahmad Mansur Suryanegara, 2014: 477). Deislamisasi sejaah artinya adalah peminggiran atau bahkan peniadaan peran ulama dan santri dalam membela negara bangsa dan agama. Tokoh-tokoh tersebut digantikan dengan pelaku sejarah yang realitas sejarah di zamannya menolak bersama ulama dan santri membangun kesatuan dan persatuan nasional melawan penjajah. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwasanya ulama dan santri sangat berperan besar dalam kemerdekaan bangsa kita tercinta, Indonesia. Tanpa disadari peran mereka terdapat disetiap aspek kemerdekaan, dari awal penjajahan hingga detik-detik kemerdekaan Indonesia.

 

Ahmad Mansur Suryanegara

Indonesia adalah negara kebangsaan dengan mayoritas penduduknya Muslim. Penting untuk memahami bahwa perlawanan dari masyarakat yang muncul selama masa penjajahan Kerajaan Protestan Belanda, tiada lain kecuali timbul berdasarkan rasa memiliki kesamaan sejarah dan identitas sebagai Muslim disertai rasa tanggung jawab terhadap tanah air. Ulama dan Santri secara nyata mampu menumbuhkan kesadaran nasionalisme dan patriotisme masyarakat dalam melawan penjajaah. Tindakan membela Islam saat itu adalah jawaban terhadap penjajah yang melancarkan gerakan pemurtadan -Politik Kristenisasi- yang dilaksanakan oleh Misionaris Katolik dan Zending protestan yang membantu jalanya pemerintah kolonial. Menurut Mc Turnan, perjuangan dakwah menjadikan masyarakat Indonesia memiliki rasa hormat yang setara antara Bendera Merah Putih sebagai Bendera Rasuullah SAW sebagai simbol yang menyatukan identitas mereka. Masyarakat sepakat akan kepemilikan bahasa kesatuan Bahasa Indonesia. Dan yang paling penting, pada masa penjajahan Barat, rakyat menjadikan Islam sebagai simbol kesatuan dan persatuan. (Geogre Mc Turnan, 1970: 39).

Dengan ditiadakannya peran ulama dan santri maka terasa aneh bila Ulama dan santri dinyatakan sebagai pelopor dalam perjuangan nasional karena yang berkembang adalah pengertian nasionalisme yang hanya disandang oleh tokoh atau organisasi yang tidak memperjuangkan agama. Dampaknya sukar untuk memahami bila terdapat tulisan sejarah Indonesia yang menyatakan adanya seorang Wali Songo yang ikut mengusir imperialisme barat dari Indonesia. Tidak mengerti jika ternyata ada tulisan sejarah yang menjelaskan tentang Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang melancarkan perlawanan terhadap penjajah kerajaan katolik Portugis di Sunda Kelapa pada 22 Ramadhan 933 H. Dan juga Sunan Giri yang melancarkan perlawanan terhadap penjajah kerajaan protestan Belanda di Surabaya serta tulisan yang menyatakan adanya santri yang melawan imperialisme dan kapitalisme barat (Ahmad Mansur Suryanegara, 2015: 127). Islam dan Nasionalisme, ternyata memiliki hubungan yang sangat erat berdasarkan fakta sejarah.

Benarkah ulama dan santri mempunyai andil yang besar dalam kemerdekaan Indonesia? Tentu saja tidak dapat dipungkiri bahwasanya ulama dan santri sangat berperan besar dalam kemerdekaan bangsa kita tercinta, Indonesia. Tanpa disadari peran mereka terdapat disetiap aspek kemerdekaan, dari awal penjajahan hingga detik-detik kemerdekaan Indonesia.

Bung Tomo dan Ilustrasi Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, 19 September 1945

Ulama dan Santri pejuang kemerdekaan memiliki pola kehidupan mereka yang bebas, dan tidak berpolitik praktis. Mereka juga memiliki sifat non kooperatif terhadap penjajah, karena ulama dan santri hanya taat dan patuh kepada perintah Allah SWT. Oleh karena itulah, tingkat penolakan mereka terhadap penjajah terkait dengan segala hal yang ‘remeh’ termasuk dari segi pakaian dan penampilan, khususnya yang menunjukkan simbol dan identitas agama penjajah tersebut.  (Ahmad Mansur Suryanegara, 2015: 257). Konfrontasi tersebut bahkan dapat kita lacak dari berbagai pertempuran yang telah mereka hadapi seperti, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran 10 November di Surabaya, Pertempuran 5 hari di Semarang dan penumpasan pemberontakan PKI Muso. Peperangan-peperangan tersebut dimotori oleh pari Alim Ulama dan Kaum Santri yang tulus ikhlas berjuang; mereka lahir dari rahim umat Islam dengan niat Jihad bagi masyarakat di Indonesia.

Adalah memprihatinkan ketika sejumlah besar warga indonesia dibutakan oleh fakta sejarah ini; terutama ketika mereka tidak tahu bahwa dibalik kemerdekaan bangsanya terdapat andil besar dari para ulama-ulama dan santri-santrinya. Secara praktis, seperti halnya tanggal proklamasi, pengambilan kata bahasa Indonesia (Ahmad Mansur Suryanegara, 2014:530), dan arti bendera merah putih (Ahmad Mansur Suryanegara, 2014:507) pun kesemuanya telah berubah sejarahnya  disebabkan karena adanya upaya Deislamisasi Sejarah Indonesia, peranan ulama dan santri serta umat Islam ditiadakan didalamnya. Meskipun unsur-unsur keislaman itu ada, nyatanya hanya sedikit dan minim informasinya.

Kesimpulan

Semua kebaikan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh ulama dan santri seakan-akan tidak berarti apa-apa. Padahal kita hidup dengan nyaman pada hari ini adalah hasil jerih payah para ulama dan santri terdahulu yang rela mati dan berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Peristiwa sejarah yang terjadi ditengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya merupakan kesinambungan masa lalu yang telah diletakkan dsasarnya oleh ulama dan santri oleh karena itu wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad – perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu (QS 59: 18). (Alif Nur Fitriani)

Daftar pustaka

Arnold, Sir Thomas. 1965. The Legacy of Islam. London: Oxford University Press

Arnold, Thomas W. 1979. The Preaching of Islam.  terj. Nawawi Rambe. Jakarta: Widjaja

Kahin,George Mc Turnan. 1970. Nationalism and Revolution Indonesia. Ithaca: Cornell University Press

Leur, J.C Van. 1995. Indonesian Trade and society. W.van Hoeve Ltd. The Hague

Ridha, Muhammad Rasyid. 1954. Tafsir Al-Mannar, cet. IV. Kairo: Dar Al Manar

Khaldun,Ibnu. 1958. The Muqqadddimah, terj. Franz Rosenthal. New York: Pantheon BOOks Inc

Shiddiqi, Nourouzzaman. 2004. Metodologi Penelitian Agama, Suatu Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2018. Api Sejarah 1, cet.4. Banduung: Surya Dinasti

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2010. Api Sejarah 2. Banduung: Surya Dinasti

Smith, Anthony. 1980. The Geopolotics of information. New York: Oxford University Press

Thomas, Sir dan Alfred Guilaume. 1965. The Legacy of Islam. New York: Oxford University Press

Tholsen,Tygve R. 1969. Historical Thingking. New York: Harper & Row Publishing

Weigert, Hans W. 1957. Priciples of Polotical Geography. New York: Appleton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *