Dialog antar Agama di era Revolusi Industri 4.0: Analisa Trilogi Film God’s Not Dead

Konferensi dan Dialog Antar Agama
Majmuu’ah Rasaail al-Imaam al-Syahiid Hasan al-Banna: Salah satu referensi utama al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M.A

Memasuki era Revolusi Industri 4.0, berbagai teknologi dan informasi mengalami perkembangan pesat. Berbagai paradigma lama pun berubah seiring perkembangan tersebut. Baik budaya, ekonomi, politik, bahasa, seni, dan tidak ketinggalan berbagai teknologi itu sendiri. Era yang telah didahului oleh era globalisasi dan era digital ini juga semakin mengukuhkan peran penting sistem informasi dan teknologi di era ini dalam berbagai elemen kehidupan manusia, termasuk dalam hubungan atau dialog antar agama -.

Menurut Hasan al-Banna, langkah awal dalam dialog dan pembentukan suatu keluarga atau masyarakat adalah dengan perkenalan atau at-ta’aruf. Langkah awal inilah yang menentukan baik buruknya tahap selanjutnya, yaitu at-tafahum (understanding each others) dan at-ta’awun (helping each others). (Majmuah al-Rasail, 287) Di era ini, tahap ini tidak terbatas pada perjumpaan di ruang publik atau interaksi di ruang nyata. Berbagai platform digital nyatanya memiliki kontribusi yang besar dalam membangun proses ini.

Al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M. A. Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor mencoba melakukan riset terkait pembelajaran agama lain melalui film.

Media film dipilih karena menonton film merupakan salah satu hobi generasi millennial dalam menghabiskan waktu mereka. Selain itu, film merupakan media kontruksi atau representasi realitas sosial budaya suatu masyarakat. Pendekatan yang dilakukan adalah analisis wacana (discourse analysis) Van Dijk terkait dialog-dialog yang terdapat di film.( Dijk, Teun A. van. “Principles of Critical Discourse Analysis.” Discourse & Society 4, no. 2 (April 1993): 249–83. doi:10.1177/0957926593004002006). Adapun objek penelitian adalah Trilogi film God’s Not Dead (2014), God’s Not Dead 2 (2016), dan God’s Not Dead: A Light in Darkness (2018).

Hasil riset tersebut dipresentasikan dalam Konferensi Linguistik Tahunan ke 17 (KOLITA 17) yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Bahasa dan Budaya (PKBB) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 10-12 April 2019. Makalah beliau yang berjudul “Representasi Iman Kristen di Negara Sekuler: Analisis Wacana Film God’s Not Dead” menjadi salah satu makalah dari total 128 makalah yang dipresentasikan dalam acara yang dimulai sejak tahun 2003 tersebut.

Dalam presentasinya, al-Ustadz Yuangga menjelaskan latar belakang penelitian ini dilakukan, yaitu untuk mempelajari secara utuh representasi wacana Iman Kristen di negara Barat melalui analisis wacana. Istilah Barat dan Timur digunakan sebagai pembuka sebagai ‘sindiran’ bagi pihak-pihak yang masih tersandera paradigma tradisional terkait batas wilayah dan batas budaya.

Terma Barat dan Timur

Hari ini, terma Barat dan Timur seyogyanya dilihat dalam konteks yang lebih luas tidak hanya sebatas ‘area’ atau ‘daerah’ namun juga representasi kultur/budaya.

Al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya mempresentasikan papernya tentang dialog antar agama di Cluster KOLITA (Konferensi Linguistik Tahunan) 17

Stereotyping dan labelling menjadi isu awal yang diangkat oleh al-Ustadz Yuangga. Secara umum, budaya Timur “dianggap” mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran pre-logis, keramah-tamahan, dan gotong royong; sementara budaya Barat (Amerika dan Eropa) di-labeli lebih mementingkan kebendaan, pikiran logis, hubungan asasguna (pragmatis), dan individualisme.

Bahkan, dalam ranah pemikiran dan hubungan antar agama, pandangan hidup Barat berbasis materialisme, pragmatisme, filsafat sekuler, dan berujung pada pemusnahan ajaran agama. Pendek kata, Barat ‘dianggap’ telah ‘memusnahkan’ agama dalam kehidupan publik mereka (sekuler).

Screenshot trailer Film God’s Not Dead

Melalui film ini, dapat dipahami bahwa realita yang terjadi baik di Barat maupun Timur tidaklah terjadi seluruhnya demikian. Film Trilogi God’s Not Dead (trailer) memberikan sejumlah narasi terkait kehidupan umat Kristen dan praktik iman mereka. Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari relasi agama dan ilmu pengetahuan, agama dan fakta sejarah, agama dalam ranah publik, dialog antar agama, bahkan termasuk hingga bagaimana seharusnya seorang Kristen menyikapi iman mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan analisa tersebut, al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M.A. menyimpulkan bahwa film ini merupakan salah satu film yang mencoba memberikan wacana-wacana positif terkait kedudukan agama di Eropa dan Amerika. Meskipun secara ideologis Peradaban Barat ‘murni’ sekular, namun berdasarkan fakta-fakta di lapangan, agama tidaklah dihapuskan secara permanen dari kehidupan mereka.

Paper tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta cluster yang kebetulan beragama Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Elsi, salah seorang peserta asal Gorontalo berkomentar: “Saya benar-benar mengapresiasi apa yang Mas Yuangga lakukan dalam penelitian ini. Sebuah usaha yang jarang dilakukan oleh orang dari agama lain untuk mencoba menangkap wacana-wacana keagamaan dari film Kristen.”

Simon, salah seorang mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta juga berpendapat senada, “Penelitian ini cukup provokatif dalam menjawab berbagai stereotyping agama yang akhir-akhir ini kian memanas. Semoga akan lebih banyak penelitian serupa.”

“Presentasi hari ini benar-benar menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Yang membuat under pressured banget adalah ketika saya (sebagai seorang muslim) harus berbicara tentang Kristen menggunakan teori linguistik yang baru saya pelajari dan mempresentasikannya di univ. Katolik dan di hadapan audience yang beragama Kristen. Alhamdulillah respon mereka baik dan in syaa Allah saya akan melanjutkan proyek-proyek serupa.” Begitu komentar al-Ustadz Yuangga saat ditemui usai presentasi.

Terima kasih atas inspirasinya, Ustadz! (Yuangga KY)
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *