Dusun Sade dan Seribu Keunikannya: Dari Kawin Culik hingga Shalat Waktu Telu

Dusun Sade dan Seribu Keunikannya: Dari Kawin Culik hingga Shalat Waktu Telu.

Lombok- Dusun Sade  (Sade Village) merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Desa ini identik dengan rumah-rumah adat Suku Sasak yang masih tradisional yang masih memelihara adat budaya warisan para leluhurnya. Pada kunjungan pertama ini, Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor berkesempatan untuk mengunjungi dan menelusuri Dusun Sade ini (4/9).

Dusun Sade ini selain kental dengan adat nya, juga dijadikan sebagai desa wisata. Hal ini dikarenakan karena keberadaan desa ini yang sudah mencapai 15 generasi, Jika 1 generasinya berumur lebih kurang 75 tahun, maka komunitas yang hadir di Dusun Sade ini sudah ada semenjak satu milenial lebih. Sementara, pembukaan desa ini sebagai desa wisata baru dilaksanakan semenjak tahun 1980-an. “Dusun Sade memiliki 150 rumah dengan 150 kepala keluarga yang tidak dapat ditambah jumlahnya, karena merupakan adat dalam suku Sasak ini” Jelas Mas Ono, Guide Tour dalam Dusun Sade ini.

Ritual ‘Nikah Lari’ dan ‘Nikah Culik’ di Dusun Sade

Selain adat mengenai rumah, ada beberapa adat lainnya yang unik dalam suku Sasak, yaitu adat dalam pernikahan. Cara menikah dalam suku Sasak tidak melalui pernikahan. namun dengan ‘Nikah Lari’ atau ‘Nikah Culik’ yang dalam bahasa Sasak ialah “Merari”. Jika Nikah Lari ialah laki-laki dan perempuan yang saling menyukai, adapun Nikah Culik ialah laki-laki yang menyukai perempuan, tetapi belum tentu si perempuan ini menyukainya. Pada Nikah Culik hanya bisa dilakukan pada orang yang memiliki ikatan keluarga untuk mempertahankan warisan keluarganya agar tidak diambil alih oleh orang lain.

Sementara Nikah Lari, maka perempuan akan dibawa lari oleh pihak laki-laki.Setelah 1-2 hari kemudian, akan ada utusan yang mendatangi rumah si perempuan untuk mengabari kedua orangtuanya bahwa anaknya ‘dilarikan’ dengan niat untuk dinikahi. Kedua macam pernikahan ini, harus disetujui oleh pihak orangtua, karena merupakan pilihan dari si anaknya.

Dikarenakan banyaknya perempuan yang ‘dilarikan’ untuk dinikahi, di Lombok dikenal ungkapan bahwa Lombok adalah ‘Pulau Seribu Masjid dengan Sejuta Maling’. ‘Maling’ yang dimaksud disini bukanlah maling barang, akan tetapi maling perempuan untuk dinikahi. Tradisi ‘Maling Perempuan’ ini hanya ada di Dusun Sade. Inilah adat yang masih bertahan pada Dusun Sade ini.

saa-unida-dusun-sade
SPL – Rombongan SPL Prodi SAA UNIDA dan Dosen Pembimbing al-Ustadz Nur Rosyid Huda Setiawan, MIRKH berphoto bersama Mas Ono di komplek Dusun Sade.

Islam Watu Telu di Dusun Sade

Watu Telu merupakan paham sinkretis agama Islam masyarakat Sasak yang berkeyakinan bahwasanya shalat wajib yang dilaksanakan hanya berjumlah 3 kali dalam sehari yaitu pagi, siang, dan malam hari. Ritual ini masih dilaksanakan oleh para sesepuh desa, meskipun mayoritas masyarakat telah melaksanakan shalat dalam 5 waktu sebagaimana mestinya.

Dusun Sade ini memiliki 3 pimpinan kultural. Pertama kepala adat, kedua, pemangku ialah orang yang berhubungan dengan hal-hal ghaib dengan tetap menjalankan sholat, ketiga, Kyai yang merupakan orang kepercayaan agama yang selalu berhubungan hal-hal agama.

Dalam pandangan Islam Watu Telu, mereka memiliki tiga hari suci yaitu hari Sabtu, Senin, dan Rabu. Pada Senin, diadakan Rewah Klema. Pada Hari Rabu, diadakan ziarah ke makam. Sebelum melakukan ziarah, mengepel lantai rumah dengan kotoran kerbau wajib hukumnya bagi masyarakat Sasak. Masyarakat Sade juga memiliki acara Memare Pade untuk membugarkan badan setelah memanen padi yang dilakukan di ujung pantai Kuta Mandalika.  Memare Pade ini dilakukan selama 4 hari 4 malam.

Dalam transisi sholat 3 waktu ke sholat 5 waktu, berasal dari Pendidikan di Sekolah Dasar. Dari Pendidikan SD inilah, masyarakat mengetahui akan sholat 5 waktu. Mulai dari generasi muda lah memulai dengan sholat 5 waktu, sedangkan para sesepuh terdahulu masih menganut akan sholat 3 waktu.

Keunikan Bangunan Rumah Dusun Sade

Ciri khas yang menjadi keunikan pada desa ini, ialah bangunan-bangunannya yang masih kental dengan adat suku Sasak ini, yang biasa mereka sebut dengan Balai Adat Gunung Rate yang sekarang dikenal dengan Balai Tani. Balai yang berarti rumah, sedangkan tani ialah mata pencaharian suku Sasak terbanyak yaitu petani. Rumah adat ini uniknya berasal dari tanah yang dicampur dengan hasil padi dan kotoran kerbau yang diyakini  sebagai hewan keberuntungan atau hewan penolak bala.

Bangunan-bangunan dan rumah di desa ini memiliki ciri khas dimana dinding dan tiangnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari alang-alang kering. Keistimewaan dari atap alang-alang ini adalah atap itu akan menyejukkan bangunan saat cuaca terik dan memberikan kehangatan di malam hari. Lantainya pun tradisional, terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan sekam padi. Menariknya lagi, masyarakat desa ini masih menggunakan kotoran kerbau untuk mengepel lantai, seperti yang telah dijelaskan diatas.

Yang konon katanya, kotoran sapi ini dapat mengusir nyamuk, sebagai penguat banguan, karena pada zaman dahulu sebelum adanya semen, mereka menggunakan kotoran kerbau ini. “kotoran kerbau ini agar tidak bau di kemudian hari ialah dengan cara langsung mengambilnya ketika baru saja dikeluarkan kotorannya oleh si kerbau.” Ungkap mas Ono dalam penjelasan dalam rumah adat Suku Sasak ini.

bangunan-rumah-dusun-sade
Artistik – Bangunan Rumah Dusun Sade yang Tersusun dari Bambu dan Alang-Alang Kering.

Dalam rumah adat ini pun, tangganya dalam setiap rumah selalu berjumlah lima, mengapa? Dahulunya Islam Watu Telu hanya menjadikan sholat 3 kali dalam sehari, akan tetapi ketika telah datang utusan Allah untuk mengubah perspektif Islam sebagai agama yang tentram, maka Islam Watu Telu yang ada pada saat ini sudah mengerjakan sholat 5 kali sehari. Untuk selalu mengingatkan akan 5 waktu sholat, oleh karena itu jumlah dalam setiap rumah selalu berjumlah 5 buah tangga. Inilah yang mencadi keunikan tersendiri ketika mengunjungi Desa Sasak ini.

Pada tiang dan dinding-dinding bangunan rumah suku Sasak kuat selama 10 tahun, dan hujan tidak akan menembus kedalam rumah. Sedangkan untuk hal masak-memasak dilakukan di dalam rumah dengan cara tradisional dengan maksud asap-asap yang dihasilkan dapat memperkuat bamboo-bambu yang menjadi dinding dan atap dan menghindari dari pengaruh rayap.

Suku Sasak ini juga memiliki pakaian adat yang bernama bumbum, lambung, dan pigon. Bumbum dan lambung merupakan baju adat perempuan untuk masyarakat Sasak, sedangkan pigon untuk laki-laki. (Tsaqifah Iqlilun Nikmah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *