Mempelajari Religiusitas Umat Kristen di Amerika lewat ‘Facing the Giants’

Facing the Giants

Gontor – Revolusi Industri 4.0 tidak serta merta memberikan perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Alih-alih manfaat,  stereotyping yang tersematkan pada golongan-golongan tertentu justru meningkat. Dalam beberapa kasus, stereotyping terutama kepada umat beragama  justru menguat dan berimplikasi pada kehidupan umat manusia secara keseluruhan.

Diantara penggambaran imaginal sterotyping itu adalah ‘dikotomi’ antar ‘kubu’. Kubu ‘Timur’, misalnya, ‘dianggap’ mementingkan kehidupan kerohanian, mistik, pikiran pre-logis, keramah-tamahan, dan gotong royong. Di lain sisi, kubu ‘Barat’ diasumsikan lebih mementingkan kebendaan, pikiran logis, hubungan asas guna (pragmatisme), dan individualistik.

Negara-negara di Eropa dan Amerika, sebagai Kubu ‘Barat’ selalu dianggap ‘kurang’ berbudaya dan bahkan ‘tidak’ beragama. Masyarakat Barat pada umumnya,  dinilai menghilangkan peran agama dan Tuhan dalam keseharian mereka. Berangkat dari asumsi inilah Program Studi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor mengadakan sebuah kajian dalam rangka ‘berkenalan’ dengan kehidupan umat Kristen di Amerika lewat media film.

Baca Juga: Presentasi Dosen SAA di 2nd International Conference on Language, Literature, and Education (ICLLE)

‘Nonton Bareng’ ini dipilih berdasarkan kecenderungan mahasiswa millennial  yang faktanya lebih  lebih menikmati proses belajar melalui media visual (film, animasi) dibandingkan membaca buku ataupun mendengarkan ceramah dosen. Film-film yang terpilih, jadinya bukan hanya hiburan namun juga kegiatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kecerdasan metakognisi pada mahasiswa. Meskipun dilaksanakan dengan metode yang santai dan menyenangkan, namun manfaat yang dihasilkan tidak jauh ‘berat’ dibandingkan pelajaran di bangku kelas.

Dipandu oleh al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, MA., sebanyak 25 mahasiswa Prodi SAA  mengikuti kegiatan nonton bareng ini. Acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) SAA ini bertempat di Perpustakaan Gedung CIOS. Adapun film yang dijadikan objek kajian adalah film ‘Facing the Giants’,  yang diproduksi Pure Flix pada tahun 2006.

Baca Juga: Dialog antar Agama di era Revolusi Industri 4.0: Analisa Trilogi Film God’s Not Dead

suasana menonton film 'facing the giants'
Serius – Namun santai, Mahasiswa SAA mencernah pesan-pesan keagamaan dari Film ‘Facing the Giants’

‘Facing the Giants’ mengangkat tema aplikasi Iman Kristen dalam berbagai segi kehidupan masyarakat Amerika. Grant Taylor, sang tokoh utama, digambarkan tidak hanya sebagai seorang pelatih Football yang selalu gagal mempersembahkan kemenangan bagi klub yang dilatihnya, namun juga suami yang tak kunjung mampu memiliki keturunan,  hingga seorang pemilik mobil yang selalu mogok. Ia merasa semua usaha yang dilakukannya bagi klub dan keluarganya tak pernah membuahkan hasil positif. Singkat kata, Taylor adalah pribadi yang sangat sial.

Namun semua ‘kesialan’ tersebut perlahan sirnah seiring berpegangnya ia kepada Alkitab dan ajarannya dalam setiap aspek hidupnya. Di dalam sebuah scene di Facing the Giants, digambarkan kemudian ketika ia bertanding, Taylor tidak lagi bertanding  untuk memenangkan trofi klubnya, namun juga untuk menguatkan iman mereka kepada Tuhan. Semangat positif ini ditularkan kepada seluruh rekan sesama pelatih dan seluruh anggota tim Football.  Ajaibnya, mereka menjadi tim yang banyak memberikan kejutan hingga menjadi juara nasional.

Di akhir sesi, al-Ustadz Yuangga menyampaikan sejumlah ibrah yang dikandung dalam Film ini. Salah satunya adalah pentingnya melibatkan Tuhan dalam berbagai urusan kita. Bila Dia telah berkehendak untuk membukakan pintu, maka tak seorangpun dapat menutupnya. Sebaliknya, bila Dia telah berkehendak untuk menutup pintu, maka tak seorangpun dapat membukanya.

“Saya berharap para mahasiswa dapat mengetahui bahwa umat Kristen di Amerika pun ada yang tetap berpegang teguh pada Iman mereka dalam keseharian mereka. Semoga kita sebagai umat muslim juga tidak kalah dengan mereka dalam hal menguatkan keimanan dan melibatkan Tuhan dalam setiap jangka kehidupan kita.” Demikain al-Ustadz Yuangga  menekankan. (Yuangga Kurnia Yahya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *