GANTENG-GANTENG SAA: SOLEH, MUDA, AKTIF LINTAS AGAMA

Youth Interfaith Peacemaker Community Camp (YIPC)

MALANG: Pada hari Jum’at hingga Ahad, 12-14 April 2019 lalu, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor memenuhi undangan Student Interfaith Peace Camp (SIPC) regional Jawa Timur. Atas nama HMP, Rinaldi Permana Putra, Mahasiswa SAA VI turut aktif dalam acara  yang diinisiasi oleh YIPC ( Youth Interfaith Peace Camp) tersebut beserta 10 peserta Kristiani dan 14 peserta Muslim lainnya.  Acara berlangsung di Villa Tlekung Batu, Malang.

Adapun kegiatan selama camp ini adalah Peace Education, Interfaith Dialogue, Scriptual Reasoning,  dan A Common Word. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan tujuan menumbuhkan perdamaian antar pemeluk agama. Menariknya, di antara seluruh peserta yang hadir, hanya Rinaldi yang menjadi peserta dengan latar belakang Studi Agama murni, sementara peserta lainnya berasal dari Prodi Umum atau Sains. Hal ini menarik sebab membuka pintu dialog lintas agama lebih luas. Dalam kapasitasnya, Rinaldi menjelaskan beberapa topik yang menjadi pertanyaan para peserta lainnya. Misalnya, soal kedudukan wanita dalam Islam, konsepsi Nabiyullah Isa ‘alayhi Salaam, juga tentang keesaan Tuhan. “Untuk masalah kesetaraan gender itu saya jelaskan, bahwasanya islam sama-sama memuliakan laki-laki dan perempuan hanya saja cara memuliakan itu yang berbeda. Misalnya, Islam memuliakan perempuan itu dengan menutup aurat mereka, menjaga harga diri perempuan, dan seterusnya.” begitu Rinaldi melaporkan kepada redaksi.

YIPC merupakan komunitas yang di inisiasi dengan 2 orang mahasiswa s3 ICRS UGM yaitu Andreas Jonathan dari Kristian, dan Ayi Yunus dari Muslim. Mereka berdua memiliki suatu visi yang sama untuk mendirikan Komunitas ini karena berangkat dari kegelisahan mereka terhadap konflik yang ada di Indonesia terutama konflik antar Islam dan Kristen. Menurut al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, MA., acara ini baik sekali dalam rangka membuat ruang-ruang perjumpaan (melting-pot) dan ruang dialog antara Muslim dan Kristen. Berbagai kecurigaan dan stereotype dapat diklarifikasi dalan perjumpaan tersebut. “Kami harapkan setelah ini, para pesertanya bilkhusus  akhuunaa Rinaldi dapat menyebarkan berbagai aura positif dalam ranah kebhinnekaan dan hubungan antar agama.” Begitu al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, MA menyampaikan.

Sementara menurut al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA, kegiatan semacam ini memang harus selalu di-support dan dilakukan secara masif, “7 tahun yang lalu, saya juga ikut konferensi mahasiswa. Tahun ini ya jatah kalian. Harus selalu semangat. Kita dukung dan kita support. Mahasiswa SAA jadinya harus begitu, gak cuman modal tampang, namun juga modal otak.  Kuat ngaji. Kuat baca. Kuat dialog. Kuat Dakwah. Aktif Lintas agama. Itu!” 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *