Ghazali, Izutsu, hingga Mohammed Arkoun: Catatan untuk Wisuda Angkatan 33 Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (I)

wisuda

Ghazali, Izutsu, hingga Mohammed Arkoun: Catatan untuk Wisuda 33 Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA

Dosen Prodi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Arne Naess - Ecology, Community and Lifestyle_ Outline of an Ecosophy (1989)_003
Karya Arne Naess – Ecology, Community and Lifestyle_ Outline of an Ecosophy (1989)_003

Beberapa minggu lalu, Kamis (4/18/2019), UNIDA Gontor menelurkan 422 wisudawan dan wisudawati. Suatu kebanggaan pula, mendengarkan nama-nama perwakilan prodi-prodi di Ushuluddin sebagai penulis skripsi terbaik disebutkan sebagai nominasi skripsi terbaik dalam wisuda tahun ini. Mereka adalah Alhini Zahratana (SAA), Nina Rosfiyanti (AFI), dan Zunah Zakinah (IQT). Adapun yang kemudian menjadi Penulis Skripsi Terbaik di antara seluruh wisudawan 33 adalah Nina Rosfiyanti dengan judul: “Mafhum al-Aql Inda al-Imam al-Ghazali wa dauruh fi hall azmah al-Bi’ah wa Ri’ayatiha.” Skripsi ini mencoba melihat problematika krisis lingkungan dan upaya kelestariaannya berdasarkan Konsep akal dalam pandangan Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Ada sebuah catatan penting yang menjadi concern penulis ketika menulis artikel ini. Yaitu, wisuda adalah aktivitas seremonial yang mentahbiskan wisudawan dan wisudawati sebagai seorang sarjana. Di lain sisi, skripsi secara akademik adalah prasyarat puncak dari perjalanan intelektual mahasiswa tingkat sarjana. Lebih jauh, skripsi adalah luapan keilmuan tertinggi yang menjadi spesialisasi keilmuan masing-masing anak. Seorang Nina, jika mampu diarahkan dengan baik, akan mendapatkan titik terang masa depannya sebagai seorang Eco-Muslim Philosopher baru. Artinya, faham-faham eco-philosophy yang sebelumnya hanya merujuk kepada Felix Guattari[1] dan Arne Naess[2] sebagai produser ‘secular eco-philosophy’, akan mendapatkan wajah dialogis dari ‘Islamic eco-philosophy’ beraliran ‘Ghazalian’. Dalam pembacaan lebih jauh, skripsi Nina akan menjadi sebuah tawaran keilmuan yang sangat monumental dalam diskursus eco-philosophy berdasarkan ‘Islamic Worldview’. Sebuah cita-cita yang tentu saja ditunggu-tunggu bagi prodi AFI sebagai core keilmuan di UNIDA Gontor dengan basis ‘Islamisasi’nya.

Lihat Juga: Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam

Zunah Zakiah dari prodi IQT, di lain sisi, berupaya melihat Problematika Kebahasaan dalam al-Qur’an berdasarkan formula semantik. Sebagai salah satu isu yang sangat terkait dengan I’jaz Qur’aniy, Ananda Zunah Zakiah berhasil menyajikan sebuah panduan kebahasaan yang krusial dalam tidak hanya mengafirmasi keistimewaan al-Qur’an sebagai kitab suci, namun juga menegasikan hujaman-hujaman Orientalis yang mereduksi kedudukan al-Qur’an.[3] Pendekatan Semantik juga berkapasitas mengantarkan pembaca skripsi ananda agar mampu meletakkan formula Worldview Islam sebagaimana adanya. Tidaklah berlebihan jikalau di masa depan nanti, Prodi IQT sudah memiliki ‘kader’ dengan kapasitas yang akan paling tidak menyamai Toshihiku Izutsu[4] atau al-Baqaa’i.[5]

Arkoun dan Dekonstruksi: Skripsi Terbaik Wisuda Prodi Studi Agama-Agama

SAA, tentu saja, adalah skripsi yang paling baik dari yang terbaik di hati penulis. Tidak hanya karena berangkat dari spektrum studi agama, namun karena memiliki kebaharuan dari segi judul dan upaya analisa. Dengan memetakan konsep-konsep teologis yang dimiliki Mohammed Arkoun, skripsi karya bimbingan Bapak Kaprodi SAA ini memiliki kedudukan yang krusial dalam bidang dialog antar agama. Skripsi tersebut berjudul, The Problem of Mohammed Arkoun’s Interfaith Dialogue Idea. Alhini Zahratana, dalam analisa penulis, berupaya memberikan sudut-sudut pandang terbaiknya dalam mengkritisi model Dialog antar Iman (interfaith-dialogue) yang berikan oleh Mohammed Arkoun. Basis epistemologi Arkoun, sependek analisa penulis, memang perlu ditinjau kembali.

Mohammaed Arkoun (1928-2010)
Figur-Mohammaed Arkoun (1928-2010)

Konstruksi saintifik yang hadir dalam pandangan-pandangan Arkoun, memang sangat sarat dengan ‘kecurigaan’ akan nalar/pandangan hidup Islam di bawah ‘penjara’ ortodoksi.   Oleh karena itulah, bagi Arkoun, historisitas nalar arab-islam (taarikhiyyatu al-fikr al’arabiy al-islamiy’)  perlu di ‘bongkar’ ulang (tafkiik).[6] ‘Pembongkaran nalar arab-Islam’ itu, ternyata, merupakan hasil aspirasi dari dekonstruksi (la deconstruction) Filsuf Kontinental yang terutama disajikan oleh Heidegger dan Derrida.[7]  Jikalau  semisal Derrida  dalam upaya dekonstruksinya melahirkan ‘Khora’ sebagai pengganti ‘God/Gott’ dalam tradisi teologis Barat,[8]  Kritik Nalar Arab Islam yang ditawarkan Arkoun tidak hanya berimplikasi kepada desakralisasi otoritas Mushaf Utsmani, namun juga perubahan makna-makna yang terderivasi dari konsep-konsep yang diafirmasi daripadanya. Misalnya, konsep Ahlul Kitab, konsep relasi antar agama, dan lain sebagainya.[9] … bersambung ke bagian dua…

Catatan Kaki

[1] Felix Guattari, Les Trois Ecologies, Trans. Ian Pindar & Paul Sutton, (London: Athlon Press, 2000)

[2]Arne Naess, Ecology, Community, and Lifestyle An Outline of an Ecosophy, (Cambridge: Cambridge University Press, 1989)

[3] Lihat catatan Hafsa Nasreen misalnya, dalam ‘Orientalists on Qur’an: A Critical Study’, The Dialogue, Vol. VIII No. 1

[4] Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an, (Toronto: McGill-Queen’s University Press, 2002)

[5] Burhaan al-Diin Abii al-Hasan Ibraahim ibn ‘Umar al-Baqaa’i, Nuzhum al-Durar fii Tanaasub al-Ayaat wa al-Suwar, (Cairo: Daar al-Kitaab al-Islaamiy)

[6] Muhammed Arkoun, Taarikhiyyatu al-Fikr al-‘Arabiy al-Islamiy’, (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabiy, 1996), 249.

[7] Lihat misalnya, Christina M. Gschwandtner, and John D. Caputo. Postmodern Apologetics?: Arguments for God in Contemporary Philosophy. Fordham University, 2013. http://www.jstor.org/stable/j.ctt13x0495.

[8] Jacques Derrida, On the Name, (Stanford: Stanford University Press, 1995), 88.

[9] Menurut Arkoun, misalnya; dalam tradisi pemikiran Islam, ada hal-hal atau konsep-konsep yang ‘tidak terpikirkan’ (L’impensable) atau ‘belum terpikirkan’ (L’impense) padahal semestinya menjadi bagian dari tradisi pemikiran Islam. Isu-isu tersebut tidak muncul karena determinasi agamawan atau politik di masa itu. Kurang lebih begitulah yang disampaikan Arkoun dalam bacaan kami sebagai ‘penjara ortodoksi’. Muhammed Arkoun, al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil (Alexandria: Daar al-Saqi, 2003), 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *