Ghazali, Izutsu, hingga Mohammed Arkoun: Catatan untuk Wisuda Angkatan 33 Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (II)

Mohammaed Arkoun (1928-2010)
al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil (Alexandria: Daar al-Saqi, 2003),
Magnum Opus: Salah satu karya fenomenal Arkoun: al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil (Alexandria: Daar al-Saqi, 2003).

Arkoun, Interfaith-Dialogue, dan Dekonstruksi 

(sambungan dari bagian pertama)

Arkoun, dalam memformulasikan konsep interfaith-dialogue-nya, memang tidak segan-segan untuk memposisikan agama Islam yang dianutnya ‘setara’ atau paling tidak ‘sebanding’ dengan agama lainnya. Dalam al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil, Arkoun menulis: ‘Falaysa hunaaka min tsaqaafah afdhal min ghayrihaa bisyaklin musbaq’. Artinya kurang lebih, tidak ada peradaban yang lebih baik atau lebih dahulu lahir daripada lainnya.[1]  Asumsi seperti ini, tentu saja tidak tepat untuk dipaparkan sebagai seorang Muslim yang semestinya melihat segala sesuatu dalam framework atau kerangka kerja pandangan hidup (Worldview) Islam.

Dengan kata lain, alih-alih menaruh Islam ‘sederajat’ dengan peradaban dan/atau agama lain, Arkoun seyogyanya memposisikan Islam sebagaimana dirinya terlebih dahulu. Yaitu, agama dan pandangan hidup yang dianutnya. Arkoun mungkin khilaf akan hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, ”sesungguhnya Islam itu mulia/tinggi tidak ada agama yang lebih tinggi daripadanya”. [2]Di sini, terlihat dekonstruksi ala Arkoun melahirkan dualitas dalam memandang fenomena lintas agama. Yaitu ketika dia menyetarakan Islam dengan peradaban dan/atau agama lainnya.

Arkoun, di tempat lain, juga mendekonstruksi konsep Tauhid. Jikalau Tauhid sebagaimana adanya dipahami sebagai sebuah konsepsi keesaan Allah, bagi Arkoun tidkalah demikian. Bagi Arkoun, Tauhid justru bermakna  pertemuan puncak dari ideologi-ideologi yang berbeda hadir dalam setiap pandangan filsafat dan teologi, termasuk terbukanya satu pandangan teologis secara menyeluruh atas setiap upaya saintifik dari ilmu sosial dan humaniora. [3] Pandangan ‘ilmiah’ semacam ini, tentu saja tidak bisa dibenarkan. Bagaimana bisa, konsepsi teologis Yesus dalam pandangan Katolik/Protestan bisa bertemu dengan nubuwwah ‘Isa ‘alayhissalam?

Baca Juga: Ukhuwwah Islamiyyah dalam LKBB: Analisa Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor dan Islamic Worldview

Teori ‘toleransi’ dan ‘keterbukaan’ ala Arkoun ini sangat kontradiktif dalam konsepsi toleransi agama dalam pandangan hidup keislaman. Toleransi, atau hubungan antar agama dalam pandangan hidup Islam bukanlah berada di tataran teologis sebagaimana dipaparkan Arkoun, namun justru hadir sebagai model kehidupan sosial yang adil dan beradab  sebagaimana yang sudah sempat dipaparkah oleh Ragheb Sirjani [4] dan Rashid Gannushi.[5] Dikarenakan problematika konsepsi yang urgen ini, bangunan konsep dialog antar agama yang dikembangkan kemudian pun, akhirnya sarat dengan masalah.

Arkoun dan Problematika Worldview

Konsep teologis dalam setiap agama, lahir dari pandangan hidup (Worldview) yang menyertainya. Pasalnya, Worldview itu adalah sebuah ciri khas identitas suatu kepercayaan atau peradaban. Seorang Muslim, sudah sepantasnya melihat dunia ini sesuai dengan ajaran keislaman yang diwariskan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi; terkembangkan dalam Ijma’ dan Qiyas para Ulama kemudian. Sebagaimana catatan al-Attas, Worldview dalam Islam adalah: “… the vision of reality and truth that appears before the mind’s eye revealing what existence is all about; for it is the world of experience in its totality that Islam is projecting.[6]  Ini artinya, segala macam realitas yang hadir di hadapan seorang Muslim mesti dilihat secara total dalam proyeksi keIslaman. Seorang Buddhist pun, selayaknya merujuk kepada sumber-sumber otoritatif dalam Buddhisme. Seorang Katolik pun, selayaknya mempelajari sumber-sumber otoritatif sesuai dengan ajaran Vatikan. Bukan malah sebaliknya.[7]

Itulah mengapa dalam perkembangan peradabannya, segala macam temuan saintifik mesti merujuk kepada Worldview-nya. Tulis Alparslan, “We claim that all human conduct is ultimately traceable to a worldview; a conclusion which is sufficient in itself to manifest the significant of worldview in individual and social life, including, of course, scientific activities.” [8] Hal yang sama pun dipaparkan Ninian Smart [9]  dan Thomas F. Wall: “Worldview should be depicted in their theistic system to reveal the whole concept of religion.” [10]  Dalam tataran ini, tentu dapat kita mengerti masalah yang dikandung dalam bangunan keilmuan Muhammad Arkoun. Kecenderungannya dalam ‘taqlid’ kepada produk pandangan hidup posmodern yang diinisasi Heidegger dan Derrida pun melahirkan konsep-konsep yang sekiranya tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam.

Worldview

Ilustrasi Worldview sebagai Pandangan Dunia. Sumber: https://medium.com/age-of-awareness/introduction-to-the-worldview-dimension-of-gaia-educations-course-in-design-for-sustainability-1577b7e4f460

Epilog

Menarik kemudian mendapati bagaimana Alhini Zahratana di level sarjananya berupaya untuk memetakan problem-problem tersebut, kemudian  berupaya mendatangkan solusi yang sesuai. Meskipun banyak kekurangan, skripsi tersebut sudah cukup sekiranya untuk menjadi alternatif sudut pandang dalam melihat dunia lintas agama yang semakin rapuh dinding ‘absolut’ dan ‘relatif’nya. Pun dalam konteks dialog yang menjadi tantangan, penting sekiranya senantiasa menawarkan tawaran-tawaran kekinian berdasarkan Worldview Islam agar dialog mampu berjalan sebagaimana mestinya tanpa keluar dari dinding fundamental keagamaan.

Pasalnya, patut diakui, pasca dialog yang terjadi bukanlah solusi-solusi sosial kemasyarakatan namun konversi. Permurtadan hari ini, tidak lagi bermodalkan sekardus sembako namun berlangsung dalam dialog akademik-intelektual. Alhini Zahratana, dengan segala macam keterbatasannya sudah mencapai titik batas yang patut diapresiasi. Penghargaan ini pun, saya tulis dengan mengingat perjuangan anak didik penulis yang sudah berkali-kali menangis ketika bimbingan: Mutiah Annisa, Syafira Annisatul Izzah, dan Naila Asy Syifa’.

Sungguh besar harapan kami sebagai dosen dalam melihat masa depan cerah para wisudawan. Semoga Allah meridhai dan memudahkan jalan kalian dalam naungan dan hidayah Allah Azza wa Jalla. Sepuluh tahun lagi, saya pribadi meyakini, akan ada figur-figur Ulama Perempuan terbaik yang akan berjuang demi marwah keislaman. Mereka, Nina Rosfiyanti, dan Zunah Zakinah, dan Alhini Zahratana  Waallahul al-Muwaffiq Ilaa Aqwaam al-Thaariiq. (Rizal Maulana)

Catatan Kaki:

[1] al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil, 238

[2] قال ابن عباس رضي الله عنهما: ( الإسلام يعلو ولا يعلى عليه ). الفتح3/218 قال ابن عبد الهادي: “القاعدة الثلاثون: الإسلام يعلو ولا يعلى عليه”. مغني ذوي الأفهام 180. رابط المادة: http://iswy.co/e47h2

[3] إننا نقصد بالتوحيد هنا نهاية ذلك التضاد الإيديولوجي بين الفلسفة\واللاهوت, و انفتاح اللاهوت كليا على كل مكتسبات علوم الإنسان و المجتمع

al-Fikr al-Ushuuliy wa Istihaalati al-Ta’siil, 254

[4] Ragheb Sergani, Fann Al-Ta’aamul Al-Nabawiy Ma’a Ghayri Al-Muslim (Cairo: Dar al-Kutub al-Misriyya, 2010), 27.

[5] Rashid Ghannusi, Huquuq al-Muwatanah: Huquq gayri al-Muslim fi al-Mujtama’ al-Islami, (Virginia, IIIT: 1993), 55-56..

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995),1

[7] Lihat misalnya, David Keith Naugle, A History and Theory of the Conceprt of ‘Weltanschauung’ (Worldview), PhD. Diss., University of Texas, 1998, 377

[8] Alparslan Acikgenk, Islamic Science Towards Definition, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1996), 8-9

[9] Ninian Smart, Worldviews: Crosscultural Explorations of Human Beliefs (New York: Charles Scribner’s Sons, 1983).

[10] Thomas F. Wall, Thinking Critically About Philosophical Problems (Belmon: Wadsworth Thomson Learning, 2001).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *