Historiografi of Blasphemy : Penistaan Figur Suci dalam 3 Agama Samawi

blasphemy-Foto-Peserta-Bersama-Ust-Tony

Blasphemy : Penistaan Figur-Figur Suci dalam 3 Agama Samawi

Rabu lalu, tepatnya 18 September 2019, Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) melaksanakan Forum Kajian Studi Agama- Agama (FOKSAA) seperti biasanya. Kajian kali ini dibawa oleh Al- Ustadz Tonny Ilham Prayogo, M. Ag. Peserta yang hadirpun turut aktif dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya, sehingga terjadi suasana diskusi yang efektif.

Pada awalnya, pemateri menyampaikan pengertian dari ‘historiografi’ yang bermuara pada arti sejarah seperti letak daerah, tempat dan sebagainya, sementara itu 3 agama yang dimaksud pada kajian malam ini yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.

Doktrin Blasphemy

Belum sampai pada pembahasan mengenai blasphemy, peserta diajak untuk mengenal bahwa dogma dan doktrin yang didalamnya tidak lepas dari penghinaan atau penistaan agama. Di awal pemaparan, beliau menyampaikan bahwa blasphemy berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”Speaking Evil“.

Konsep Blasphemy hanya berkembang dikalangan Yahudi dan Kristen yang berkenaan tentang penghinaan Tuhan hingga menyulut amarah para umatnya. Penghinaannya dalam berbagai bentuk, baik dari ucapan, perbuatan, simbol-simbol bahkan yang sampai menyulut amarah umatnya.

Dalam agama Yahudi, blasphemy dipahami bahwa orang yang menghina tuhan hukumannya adalah mati. Hal ini diungkapan didalam Bibel dalam Leviticus : 4 – 24, sebab mereka berpendapat hukuman mati merupakan hal yang pantas bagi mereka.

Bentuk Penistaan Agama

Sementara itu, didalam agama Kristen, blasphemy dipahami bagi mereka yang menghina Tuhan dan hukumannya adalah dengan cara dilempar batu hingga mati. Seperti contoh, jika ada diantara pengikut Kristen menyamakan Yesus dengan orang biasa, maka ia termasuk dalam penistaan dan berhak mendapatkan hukuman. Sementara itu Martin Luther menganggap bahwa ajaran yang tidak sesuai dengan Kristen maka ia termasuk penistaan.

Sementara dalam Islam, blasphemy dimaknai sesuai dengan ruang lingkupnya yang mencakup Tuhan, malaikat, nabi serta kajian keagamaan. Uniknya, kajian blasphemy juga terdapat didalam filsafat, hal ini kita dapat temui pada orang yang kufur.

Sebagai contohnya : seorang mengakui bahwa adanya alam semestanya ini terbentuk, akan tetapi ia tidak meyakini bahwa ada Tuhan yang menciptakannya. Jika mencoba merujuk kepada tradisi keagamaan yang ada di Indonesia, dapat ditemui bahwa ajaran “Manunggalih kawulo gusti” (Menyatu dengan Tuhan) merupakan dalam ajaran blasphemy.

Dalam kesimpulannya, al-Ustadz Tonny Ilham menyampaikan bahwa blasphemy merupakan bentuk penghinaan, pelecehan terhadap simbol-simbol suci keagamaan seperti Nabi atau Malaikat. Agama Yahudi, Kristen dan Islam sendiri mempunyai kriteria bagi para penghinanya dan berhak mendapatkan hukuman yang telah diberlakukan. Sementara hukuman yang diterapkan disetiap agama tentunya berbeda-beda. Pada akhir kesimpulan diskusi, beliau mengajak para peserta bahwa perlu adanya pemurnian agama dalam hal ini tidak lepas dari batas-batas toleransi yang telah ditetapkan, terutama dalam segi akidah. (Adi Rahmat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *