Ilmu dan Toleransi

Ilmu dan Toleransi

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Kevin Corrigan, Profesor di Emory University membahas konsep tentang Sophia; sebuah formula atas realitas universal yang melintasi keterbatasan sekaligus kesempurnaan manusia. Socrates menjadikan Sophia tidak hanya sebagai cikal bakal philosophia namun juga sebagai panduan bersama yang bisa dianut seluruh golongan dalam menemukan kebaikan. Konsep kebaikan universal ini yang disinyalir menjadi sumber kebijaksanaan dalam peradaban Greco-Roman terdahulu. Awal peradaban Kristianitas. Dalam Religious Tolerance, Corrigan mengutip sesuatu yang bagi saya sangat penting dalam transformasi personal beragama. “Dimensi keagamaan” Tulisnya, mestilah memenuhi “the capacity to go beyond oneself to the divine and to the other.” (Religious Tolerance, 124). Dinding agama yang ‘kaku’, mestinya dapat dicerna dengan baik sehingga manusia yang hidup di dalamnya senantiasa mampu untuk mengenal perbedaan yang ada.

Salah Satu Karya Kevin Corrigan

Toleransi bagi sejumlah ahli terkait dengan satu ciri khas penting: “Perbedaan”. Richard H. Davis dalam sebuah kajian Hinduisme mengutip bahwa Toleransi adalah “The Action or practice of enduring or sustaining pain or hardship; the Power or capacity of enduring.” Implikasi alamiahnya adalah ketika manusia dituntut untuk menerima perbedaan, dia juga harus ‘mengalahkan’ ego pribadi yang ada dalam dirinya –yang selalu terkait- tentang identitas. Bagi Davis dan Corrigan, akar masalah intoleransi muncul secara alamiah jika sekelompok manusia –katakanlah pemeluk agama, suku, atau ras- ‘merasa’ bahwa identitasnya terganggu oleh kelompok lain. (Religious Tolerance, 109, 169). Itu, adalah masalah abadi.

Padahal semestinya, kekhawatiran itu tidak pernah terjadi. Sebab, hukum kausalitas akan selalu menjadikan eksistensi ‘other’ itu ada. Orang lain akan dan senantiasa selalu ada. Perbedaan itu jadinya adalah keniscayaan. Baru-baru ini, seorang ahli filsafat dari Minnesota, George B. Connell menyatakan bahwa tantangan terbesar umat manusia saat ini adalah bagaimana menemukan ketepatan yang seimbang antara identitas dengan pluralitas manusia: “A matter of balancing the demands of our particular identity, especially our particular religious identity with the demands of our shared humanity.” (Kierkegaard and The Paradox of Religious Diversity, 2016, 8). Secara teknis, pluralisme yang digambarkan oleh Blackburn sebagai bagian dari relativisme kebenaran tidaklah lagi mampu menyelesaikan masalah pluralitas. Namun justru dengan menyadari perbedaan-perbedaan dimensional yang ada, kita bisa melahirkan toleransi. (Oxford Dictionary of Philosophy, 366) Oleh karena itulah, toleransi tidak diperlukan jika kita berada di komunitas yang ‘sama’ secara identitas!

Tokoh-Tokoh dari Kiri ke kanan: Pdt Immanuel Rentong (Wakil Ketua FKUB, Perserikatan Gereja Indonesia), Pdt Lim Wirawijaya (Buddha), Romo Antonius Suyadi (Keuskupan Agung Jakarta), H. Drs. Elisman (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), KH Ahmad Syafi’i Mufid (Ketua FKUB Prov DKI Jakarta), Penulis, Pendeta Rudi Pratikno (Wakil Ketua FKUB), H. Syarif Tanujaya (Persatuan Muslim Tionghoa), dan H. Komaruddin.

Namun realitanya tidak semudah itu. ketika Imam Ali Ibn Abi Thalib berfatwa dalam Nahjul Balaghah, 129, bahwa manusia adalah musuh dari kebodohannyaالناس أعداء ما جَهلوا, saya melihat bahwa ketakutan manapun akan tergerusnya identitas personal adalah sangat wajar. Catatannya, kekhawatiran tersebut dia bisa diatasi dengan pendidikan –transfer ilmu yang baik dan terstruktur. Dalam konsep pandangan hidup Islam, ilmu (علم)itu harus dilihat tidak hanya sebagai ilmu namun juga alaamah (علامة) atau ‘panduan’. Panduan tidak hanya sekedar untuk mengetahui yang baik dan buruk, yang benar dan salah, namun juga sebagai pandangan hidup. Implikasinya, ilmu dalam Islam wajib disikapi juga sebagai bentuk tanggung jawab moral. Seseorang boleh mengaku berilmu, namun jika dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma yang ada, artinya ilmunya tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak mendatangkan maslahat, artinya ilmu sesat. (Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, 3083-3085).

Maka secara prinsipiil, masalah terbesar adalah masalah epistemologi. Masalah keilmuan. Orang bisa membenci sesuatu, hanya karena dia tidak tahu. Tidak paham. Ini masalah. Padahal yang cukup diselesaikan adalah bagaimana adanya transformasi ilmu yang baik sehingga informasi bisa jelas disampaikan. Dalam beberapa kasus, adanya pemberontakan intelektual dalam khazanah peradaban Islam berawal dari kesalahpahaman pengetahuan yang berimplikasi pada penolakan fatwa. Kegagalan rekonsiliasi perang Shiffin, misalnya.

Seorang Buddhis menuangkan air sumur untuk seorang Muslim mengambil wudhu (ilustrasi)

Gurunda Hamid Fahmy Zarkasyi, pernah berpesan pada penulis “Kritik itu boleh, tapi ada caranya. Ada adabnya”. Problem pengetahuan ternyata memang berefek pada hilangnya kapasitas dalam berlaku adil atas sesuatu –termasuk toleransi yang dibentur akan eksklusivitas kebencian dengan relativisme kebenaran agama. Kedua hal yang berlebihan ini, tentu saja bukan perilaku yang adil dan beradab. Dalam bahasa Syed Muhammad Naquib al-Attas, Loss of Adab,“operated independently in a vicious circle.” Hilangnya adab juga telah menjadi penyebab utama distorsi Umat Muslim modern yang tidak seimbang dan tidak adil.–injustice and unbalanced- (Islam and Secularism, 106, 97-132). Lagi lagi ini perkara ketidakpemahaman akan ilmu.

Kebaikan universal yang diformulasikan Socrates ribuan tahun lalu ternyata sebanding dengan kejahilan universal. Pendidikan yang baik, akan melahirkan manusia yang baik, bukan sebaliknya. Ilmu yang benar, akan membentuk manusia yang benar pula. Transmisi informasi yang baik pun, akan mewujudkan kebenaran yang memberikan maslahat secara semestinya. Dus, memahami konsep agama dengan benar akan melahirkan konsep toleransi yang benar pula. Bukan sebaliknya. Mari berilmu sebelum toleransi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *