Kajian DEMA Mantingan Exclusivism in Cyber Space

kajian-dema-mantingan-yuangga-kurnia-yahya-studi-agama-agama-saa

Mantingan- Ahad (22/9), Dewan Mahasiswi (DEMA) Kampus Mantingan bekerjasama dengan Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Kampus Mantingan berhasil mengadakan kajian rutin DEMA. Kajian rutin DEMA Mantingan ini berlangsung di Aula Aisyah, Kampus UNIDA Putri Mantingan. Pada kesempatan kali ini, Dosen Prodi Studi Agama-Agama (SAA), al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, S.Th.I, M.A. membawakan kajian berjudul, “Exclusivsm in Cyber Space: A New Challenge in Interfaith Communication”.

Meski berasal dari Fakultas Ushuluddin, namun topik yang disajikan justru terintegrasi dengan topik-topik diskusi berdasarkan pendekatan Program Studi dan Fakultas lainnya. Dengan pendekatan Komunikasi Antar Agama khas Studi Agama-Agama, peserta mahasiswi mampu memandang fenomena echo chambers yang tengah menjadi kebiasaan pengguna sosial media saat ini. Kebiasaan dan kecenderungan pengguna sosial media ini secara tidak sadar dapat melahirkan sebuah sekat-sekat tak kasat mata di dunia maya. Di antaranya, keterbukaan dan potensi untuk bertemu dengan pihak yang berbeda menjadi sangat terbatas hingga menyuburkan berbagai wacana miring (hoax) yang dapat subur menyebar.

kajian-dema-mantingan-yuangga-kurnia-yahya-ceramah-studi-agama-agama-saa-unida-gontor
Ilmiah-al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, S.Th.I., M.A., menyampaikan materi kajian DEMA Mantingan berjudul ‘Exclusivsm in Cyber Space: A New Challenge in Interfaith Communication

Dengan total 56% penduduk Indonesia yang menjadi pengguna internet aktif, hal ini menjadi perhatian serius. Tidak sedikit gerakan dan obrolan di dunia maya akan menjadi pola pikir, sikap, dan tingkah laku para manusia di dunia nyata. Berbagai stereotyping dan labelling terhadap pihak lain secara tidak sadar mengkonstruk pola pikir seseorang di dunia nyata. Tak ayal, manusia hari ini sangat mudah menilai pihak lain meski belum pernah bertemu dan berdialog secara terbuka.

Karena pembahasan yang ringan dan dekat dengan keseharian para mahasiswi, para peserta kajian DEMA Mantingan mampu mencerna materi yang disampaikan dengan mudah. Mereka mengamini bagaimana perlunya bijak dalam bersosial media. Bagaimanapun, sosial media adalah alat komunikasi yang baik dan buruknya kembali kepada siapa penggunanya. Pengguna yang bijak adalah yang menggunakan sosial media sebagai media penyebar kebaikan dan kesejukan. Bukan sebaliknya, yang menyebarkan banyak kabar palsu (hoax) dan belum jelas kebenarannya. Kalaupun berita itu benar, tidak semuanya perlu dibagikan kepada seluruh warganet.

Di akhir penjelasannya, al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya mengingatkan peserta kajian DEMA Mantingan bahwa mahasiswa harus memiliki pola pikir yang kritis. Sifat kritis itu, mencakup mengecek keabsahan info yang diterima, termasuk kebenaran dan kebermanfaatannya sebelum membagikan kepada pihak lain. Sikap kritis ini sesuai dengan motto Pondok Modern Darussalam Gontor yang menegaskan pentingnya berwawasan luas sebelum berpikiran bebas. Lebih dari itu, dalam konteks menghadapi perbedaan di masyarakat, keterbukaan akan meningkat sesuai dengan luasnya wawasan dan bahan bacaan kita.

kajian-dema-mantingan-yuangga-kurnia-yahya-ceramah-studi-agama-agama-saa-unida-gontor-2

Sebagaimana contoh, Saqifah, mahasiswi prodi Studi Agama-Agama semester 5, menanggapi positif kajian seperti ini. Setelah kajian, ia menyadari benar betapa beruntungnya mereka dapat bersekolah dan berkuliah di Pondok Modern Darussalam Gontor karena dapat hidup secara heterogen dengan berbagai suku, ras, dan latar belakang kehidupan sosial. Berbagai stereotyping dan labelling, alih-alih muncul atas suku dan ras santri tertentu, mereka justru melebur menjadi satu di Pondok ini. “Hal tersebut tentu saja merupakan salah satu manifestasi dari Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan.” komentar mahasiswi asal Samarinda ini. (Yuangga Kurnia Yahya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *