Kajian Isu Pluralisme Agama

ISU PLURALISME AGAMA FOKSAA PERDANA

Rabu malam, 17 Juli 2019. Himpunan Mahasiswa Program Studi SAA mengadakan kajian perdana dalam Forum Kajian Studi Agama- Agama (FOKSAA). Kajian yang dihadiri oleh  mahasiswa prodi SAA ini diisi oleh Al- Ustadz Nur Rosyid Huda Setiawan, MIRKH bertemakan “Isu Pluralisme Agama”.

Al- Ustadz Rosyid mengawali materi ini dengan sejarah munculnya isu pluralisme Agama. Menurut beliau, Pluralisme Agama sejak lahirnya bernafaskan relativisme. Hal ini sesuai dengan apa yang dipromosikan oleh John Hick, seorang ahli teologi Protestan yang dikenal sebagai ‘Bapak Pluralisme Agama’. Ia menyatakan bahwa, “Atas nama toleransi, kebenaran menjadi relatif.” Paham relativisme seperti inilah yang menjadikan pemikirannya terbilang bebas.  John Hick kemudian mencetuskan Liberation of Theology atau Agama Kebebasan. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada perpecahan antara satu agama dengan yang lainnya.

Forum Kajian Studi Agama- Agama

PREMIS-PREMIS PLURALISME AGAMA

Teori John Hick mengenai relativisme dan Liberation of Theology ini diaminkan oleh tokoh Pluralisme  Agama lainnya bernama Peter Byrne yang juga seorang teolog Protestan. Ia mengeluarkan premis tentang Pluralisme Agama yang isinya : Pertama, menyeru pada konsep Tuhan. Konsep ini bertujuan untuk menyamakan semua Tuhan dari semua Agama. Kedua, menyeru pada konsep keselamatan. Ia menyatakan bahwa semua keselamatan yang dimaksud oleh setiap agama itu sama saja. Terakhir, menyeru pada konsep Tuhan yang absolut. Hal ini ia maksudkan untuk membenarkan semua agama dan tidak boleh menghukumi agama lainnya.

Relativisme memiliki sejarah yang panjang, bahkan kemunculan relativisme diawali dengan misionaris yang taat pada ajaran Katholik. Pada abad ke-18, kerajaan Romawi menganggap bahwa kekuatan Katholik adalah kekuatan terbesar negaranya. Pada masa ini, sistim pemerintahan dipegang oleh pegiat gereja. Kemudian, pada abad ke- 19, disebarlah missionaris untuk menyebarkan ajaran Katholik di berbagai belahan dunia. “Namun, usaha tersebut sia- sia karena di beberapa negara sudah terdapat agama yang belum mereka ketahui. Agama- agama ini juga memiliki Tuhan dan konsep Keselamatan. Hal ini menyulitkan misi mereka untuk mengajak penganut agama- agama lain untuk masuk pada ajaran Katholik dan mempercayai konsep- konsep yang mereka bawa” papar ustadz Rosyid. Dari sinilah para misionaris mencari jalan keluar atas misi mereka lewat pluralisme Agama. Menyerukan bahwa semua konsep keselamatan sama saja, yang berbeda hanyalah jalannya.

PLURALISME AGAMA DAN RELATIVIVISME: MELACAK IMPLIKASI IDEOLOGIS

Paham relativisme ini menciptakan berbagai masalah besar secara ideologis khususnya di negara  mayoritas Muslim. Hal ini relativis menolak kebenaran absolut atas nama toleransi. Kebenaran, bagi mereka, adalah relatif. Oleh karenanya, Relativisme berpotensi melegalkan paham-paham menyimpang termasuk LGBT, Liberalisme Agama, Pluralisme Agama, dan lain sebagainya. Madzhab-Madzhab yang tidak sesuai dengan ideologi major Muslim Indonesia seperti Syiah dan Ahmadiyah pun bisa diabsahkan atar nama  toleransi. Setelah pemaparan materi selama kurang lebih 45 menit, Al- Ustadz Rosyid menutup kajian dan dilanjutkan pada sesi dialog tanya jawab.

Berikut sejumlah konklusi hasil dialog  yang dihadirkan al-Ustadz Rosyid. Pertama,  Peter Byrne sepertinya mengembangkan teori Pluralisme Agama berdasarkan teori John Hick. Hal ini terlihat dari karya Bryne yang berjudul Prolegomena to Religious Pluralism: Reference and Realism in Religion’.  Kedua, kalimat ‘plural’ sendirinya tidak bermakna negatif. ‘Pluralisme’ di lain sisi, memiliki ideologi tersendiri yang harus dengan cermat dikritisi. Ketiga, pemahaman akan tantangan Pluralisme Agama di sejumlah daerah terpencil belum tersampaikan dan itulah yang menjadi tugas lanjut akademisi SAA UNIDA Gontor. (Azzamul Azhar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *