Karmaphala: Sistem Takdir ala Hinduisme

Surabaya- Pura Agung Jagat Karana menjadi objek  observasi kedua Studi Akademik (SA) Prodi Studi Agama-Agama (SA) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor (26 April 2019).  Setelah paginya berdialog bersama Masyarakat  Gereja Paroki Sakramen Mahakudus, Mahasiswi Peserta SA kini akan mempelajari Hinduisme bersama Pemangku  atau Pemangku itu sendiri maknanya adalah Pemuka Agama Hindu, sebagaimana Pastor dalam Katolik. Bapak Pemangku Ketut Sedana menyambut para Mahasiswi yang berasal dari Kelas E Kampus Putri Kandangan ini di ruang pertemuan. Didampingi oleh Bapak Made Sudiatna selaku Kabag Kebudayaan Pura, diskusi  berlangsung kritis dan akrab.

Pembimbing SA, al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA., ternyata sudah memiliki kedekatan tersendiri dengan Keluarga Pura Agung Jagat Karana. al-Ustadz Rizal sendiri, adalah seorang Muslim kelahiran Bali dan juga pernah membimbing Peserta SA Kampus D Putra Kediri beberapa bulan lalu ke lokasi ini.  Di awal sambutannya, al-Ustadz Rizal menyampaikan salam damai dan sejahtera dari Sivitas Akademika UNIDA Gontor. Salam pertama dari Bapak Rektor UNIDA Gontor, kedua dari Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin, serta salam dari Bapak Kaprodi SAA. Tiyang (saya) mohon izin bimbingan dari Pak Mangku dalam membimbing Mahasiswi-Mahasiswi ini dalam belajar Hindu di sini.” Begitu al-Ustadz Rizal menyampaikan kepada Pemangku Ketut Sedana.

Baca Juga: Tradisi Hari Raya Nyepi di Bali

Di antara materi diskusi adalah terkait dengan Karmaphala. Diskusi ini berangkat dari pertanyaan Afifah Fauziah yang ingin mengetahui lebih dalam konsep Takdir dalam Agama Hindu. Pertanyaan ini ternyata sangat diapresiasi oleh Pak Mangku  Ketut Sedana. Karmaphala adalah bagian penting dari Panca Sradha (lima keyakinan) sebagai fondasi teologis Hinduisme. Bersama Karmaphala, Panca Sradha tersusun atas iman kepada Brahman, Atman, Punarbhawa, dan Moksha. “Mahasiswa saya saja tidak bertanya sampai situ.” Begitu Pak Mangku Ketut Sedana berkelakar.

AKRAB-Pedanda Pemangku Ketut Sedana berdiskusi bersama Mahasiswi Peserta Studi Akademik (SA)
AKRAB- Pemangku Ketut Sedana berdiskusi bersama Mahasiswi Peserta Studi Akademik (SA)

Karmaphala Berakar dari dua kata yaitu karma dan phalaKarma maknanya “perbuatan”, sementara phala sendiri artinya  “buah”.  Oleh karena itulah Karmaphala berarti “buah dari perbuatan” baik yang telah maupun akan dilakukan. Dalam pandangan hidup Hinduisme, begitulah sistem takdir berjalan. Pak Mangku Ketut Sedana juga tak lupa menghimbau Mahasiswi Peserta SA agar mencatat informasi yang disampaikan agar bisa menjadi karya tulis yang baik.

Simbol Saraswati dan Tri Mandala di Pura Agung Jagat Karana

al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A., al-Ustadz Sufratman, S.Ag, berphoto bersama Mahasiswi Peserta Studi Akademik (SA) di depan Patung Saraswati
TAUHID-al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A., al-Ustadz Sufratman, S.Ag, berphoto bersama Mahasiswi Peserta Studi Akademik (SA) di depan Patung Saraswati

Usai diskusi, Peserta SA diajak masuk ke wilayah Pura. sebelum masuk wilayah gerbang,  mahasiswi peserta SA disambut oleh Patung Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan. “Nanti kan ada pertanyaan, apakah (lambang) ilmu pengetahuan (dalam) Hindu itu perempuan? Tidak. Karakter daripada seorang Dewi adalah menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Baik dia laki-laki dan perempuan. Itulah sifat ilmu pengetahuan.” Begitu Pak Mangku Ketut Sedana menjelaskan. Pesan ini secara tidak langsung memotivasi mahasiswi peserta SA agar bisa menjadi figur Muslimah yang baik perangai dan juga berpengetahuan. Jika dalam Hinduisme Dewi Saraswati menjadi Tokoh Suci yang menginspirasi, maka Mahasiswi peserta SA kali ini mesti berkiblat kepada Sayyidah Khadijah, Aisyah, dsb.

al-Ustadz Rizal dan Mahasiswi peserta SA kemudian memakai kain suci sebelum masuk wilayah Pura. Sebagaimana Pura yang ada di Bali, struktur arsitektur yang  ada di Pura Agung Jagat Karana ini terdiri atas tiga wilayah (Tri Mandala).Wilayah pertama adalah Nista Mandala, kedua adalah Madya Mandala, dan yang terakhir dan paling suci adalah Utama Mandala. Di wilayah Pura diskusi tetap berjalan disertai praktik melihat penggunaan air suci sekaligus bagian utama dari Pura (Utama Mandala). Di akhir kunjungan, al-Ustadz Rizal  sebagai Dosen pembimbing SA memberikan kenang-kenangan kepada Pura Agung Jagat Karana yang diwakilkan oleh Pak Mangku Ketut Sedana.

al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A, memberikan kenang-kenangan kepada Pedanda Pemangku Ketut Sedana
al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A, memberikan kenang-kenangan kepada Bapak Pemangku Ketut Sedana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *