Keikhlasan di Puncak Hijriyah: Belajar dari Qabil dan Habil

qabil dan habil saa studi agama-agama unida gontor

Keikhlasan di Puncak Hijriyah: Belajar dari Qabil dan Habil

oleh: al-Ustadz Hifni Nasif, M.Ud.

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Sesaat lagi, 1440 Hijriyah akan pergi. Di akhir -sekaligus awal- Tahun Hijriyah ini, sekiranya kita mampu berefleksi tentang Figur  Nabi dan Manusia pertama Adam ‘alayhissalam. Sosok Abul ‘Anbiyaa’, Ibrahim ‘alayhissalam  selalu menjadi kajian utama dalam membahas mengenai sejarah kurban dalam perjuangan ‘ikhlas’nya dalam memenuhi perintah Tuhan menyembelih puteranya Ismail ‘alayhissalam. Faktanya, jauh sebelum perintah itu disampaikan, telah terjadi kisah pengurbanan suci  di antara putera Nabi dan Manusia pertama Adam ‘alayhissalam , Qabil dan Habil yang dapat menjadi kacamata dalam meneropong hikmah dan makna dari ibadah kurban. Lalu apakah sesungguhnya makna ibadah kurban dalam Islam? Apakah hikmah dibalik ibadah ini? Apakah nilai dari kisah tersebut yang dapat dijadikan contoh dalam berqurban?

Kata qurban berasal dari Bahasa Arab qurbaanun, (قربان) yang berarti dekat. Kurban dalam Islam juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga: Kurban dalam Agama Yahudi

Kurban yang dilaksanakan setiap hari Idul Adha menurut Islam termasuk dalam tataran ibadah. Ibadah dapat diartikan amal dan perbuatan yang bisa mendekatkan umat manusia kepada Tuhannya dan menghadirkan wujud keagungan-Nya. Tidak hanya itu, ibadah dalam Islam merupakan ekspresi dari pengakuan akan keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad SAW. Sesuai dengan pandangan hidup (Worldview) Islam, Ibadah berorientasi pada kebersihan hati, kesucian jiwa, serta kekuatan yang mendorong untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. (Abbas Mansur Tamam, Islamic Worldview, 37-38)

Oleh karena kurban adalah ibadah, maka pelaksanaannya pun selayaknya harus sesuai yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (Kholid Muslih, et.al, Worldview Islam, 47-48). Jika ibadah merupakan cerminan dari ketundukan hamba kepada Tuhannya, maka niat dan tata caranyapun harus menunjukkan ketundukan yang menyeluruh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Memaknai kurban berdasarkan kisah Nabi Adam ‘alayhissalam dapat diambil dari kisah berikut: Dikisahkan bahwa Nabi Adam memerintahkan kepada kedua puteranya untuk memberikan kurban yang terbaik yang dipunyai. Habil kemudian kembali kerumahnya untuk mencari hewan ternak terbaik yang dimiliki. Ia membawa seekor domba yang kuat, gagah, memiliki banyak daging dan juga sehat. Sedangkan Qabil setelah pulang ia berfikir kenapa harus memberikan hewan yang terbaik karena pastinya akan membuatnya rugi. Ia datang dengan membawa seekor domba yang paling kurus yang ia punya.

Baca Juga: Kurban dalam Agama Katolik

Akhirnya kurban Habillah yang diterima dikarenakan ketakwaan dan ketulusan hatinya menyerahkan harta terbaik tanpa terbersit hitungan untung rugi. Sedangkan qurban Qabil tidaklah diterima sebab diberikan dengan setengah hati dan kurang yakinnya dia bahwa harta yang dikeluarkan untuk berqurban lillah sekali-kali tidak akan membuat rugi, tapi justru Allah lipat gandakan dalam perwujudan yang lain.

Kisah ini tercatat dalam al-Qur’an pada surat al-Maidah : 27. “ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil).”

Dari kisah diatas setidaknya terdapat tiga nilai yang dapat kita teladani. Yang pertama yaitu keikhlasan. Ikhlas secara terminologis kebahasaan berasal dari bahasa Arab yang maknanya ialah shafa yang berarti murni. Murni disini dapat berarti berqurban dengan penuh keimanan, lahir batin, karena makna iman adalah keyakinan dalam hati, ikrar dalam lisan dan amal soleh. (Roghib al-Asfahani, al Mufradat fi Gharib al-Qur’an, 26). Habil telah memberikan kurbannya dengan keimanan kepada Alah tanpa harapan untuk mendapatkan hasil yang lebih. Maka seyogyanya dalam memberikan kurban haruslah dengan sepenuh hati dan tidak memberikan ruang untuk mendapatkan pujian dari orang lain.

Lihat Juga: Panca Yadnya Kurban dalam Agama Hindu

Nilai kedua adalah kesungguhan dalam berkurban. Qabil mencari hewan terbaik diantara miliknya untuk ia kurbankan. Artinya, dalam berkurban haruslah disertai spirit untuk mencari ridho hanya kepada Allah SWT. Dengan hanya berharap pada-Nya maka memberikan sesuatu yang terbaik bukanlah kerugian. Karena harta kita adalah apa yang kita infakkan. Dan memberikan harta yang paling kita cintai merupakan sebaik-baik pemberian. Bukankan seseorang dikatakan beriman jika menyayangi saudaranya seperti menyayangi dirinya sendiri?

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

Maka setengah-setengah dalam berqurban mencerminkan tingkatan ketakwaan kita. Semakin sayang mengeluarkan harta, semakin rendah derajat taqwa dan iman kita.

Ketiga adalah keyakinan bahwa imbalan yang terbaik disisi Allah adalah pahala di sisinya dan bukanlah sanjungan dan pujian di dunia. Maka sebanyak apapun usaha kita Allah telah menjanjikan derajat yang mulia di akhirat kelak. Dan Allah maha mengetahui segala kebaikan dan keburukan meski sekecil biji sawi. Maka ketika Habil berqurban dengan mengharap ridho-Nya, segala pengorbanan yang telah dikeluarkan tidak akan berakhir sia-sia. Dan bahkan menjadi pijakan kaki kita di surga nanti. Demikianlah, kisah pengurbanan Habil dan Qabil memberikan pelajaran keikhlasan bagi segenap Umat Islam.

Semoga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang ikhlas sesuai dengan Worldview Islam. Selamat tinggal Hijriyah 1439. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1440. Wallahul Muwaffiq ila Aqwaamitthariq (Hifni Nasif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *