Keinsyafan dalam Beragama

keinsyafan dalam beragama

Oleh: M. Nurrosyid Huda Setiawan

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor 

Keinsyafan dalam beragama adalah kunci releksi kehidupan saat ini. Tidaklah berlebihan, jikalau kita lihat bahwa inilah kata yang tepat bagi kita dalam menghadapi hiruk pikuknya zaman. Siapapun itu, baik anak-anak, remaja, dan bahkan orang tua tentu sepakat akan semakin rusaknya kehidupan keagamaan dari berbagai aspeknya. Keinsyafan dalam beragama, artinya adalah usaha dalam diri manusia untuk mejadi lebih baik dalam menjalankan ajaran agama. Tidak ada satu orang pun yang menyangkal untuk menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemaren, karena memang inilah konsep untung yang sebenarnya. Sebaliknya, maka sungguh sangat rugi bagi orang yang terlena di dunia ini. Berati, ‘insyaf’ dan ‘untung’, ‘terlena’ dan ‘rugi’ adalah antonim kata yang sebenarnya menjadi pilihan manusia untuk dijalani di hidupnya. Input dari sebuah keinsyafan maka outputnya akan menghasilkan nilai keuntungan dan sebaliknya input dari sebuah kelalaian atau keterlenaan akan menghasilkan kerugian ini semua tergantung bagaimana orang menyikapinya.

Dalam bahasa arab keuntungan disebut dengan “ribhun” orang yang berutung disebut “robih”, namun dalam alqur’an kata “muflih” juga diartikan sebagai orang yang beruntung. Orang yang rugi disebut “khosir” dan kerugian disebut “khosaroh”. Jika demikian tentu timbullah pertanyaan, siapakah sebenarnya orang yang “robih” atau “muflih” itu ? Dan siapa pula yang disebut “khosir” dalam hidupnya ?

BACA JUGA:  MENERJEMAHKAN AGAMA PADA MODERNITAS: CATATAN ATAS KULIAH UMUM PROF. SALAH BASALAMAH

Sebagai orang muslim tentu kita gunakan paradigma kita sebagai seorang muslim yang hakiki. Paradigma tersebut, merujuk pada dua buah warisan Rasulullah Muhammad SAW sebagai berikut. “Aku tinggalkan kepada kalian 2 buah perkara, kalian tidak akan pernah tersesat selamanya jika berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah rasulnya”. Rasulullah juga pernah bersabda ; “Jika kalian berselisih terhadap sesuatu masalah kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya”. Yang pertama kali harus kita tanamkan dalam diri kita adalah meyakini betul semua kandungan al-Qur’an. Pun apabila menemukan sesuatu yang belum teruraikan dalam al-Qur’an, Rasulullah SAW pun menerangkannya kemudian dalam hadits-hadits beliau. Hadist tersebut, tentunya bukan hanya sekedar ucapan namun juga fondasi ajaran keagamaan.

Dalam Al-Qur’an Allah membicarakan tenang orang-orang yang beruntung ada 40 tempat dalam surat dan ayat yang berbeda – beda (yaitu Thoha : 64, Al-mu’minun : 1, Al-A’la : 14, As-Syams : 9, Al-Kahfi : 20, Al-Baqarah : 189, Ali-Imran : 130, Ali-Imran : 200, Al-Maidah : 35, Al-Maidah : 90, Al-Maidah : 100, Al-A’raf : 69, Al-Anfal : 45, Al-Hajj : 77, An-Nuur : 31, Al-Jumu’ah : 10, Al-An’am : 21, Al-An’am : 135, Yunus : 17, Yunus : 77, Yusuf : 23, Thoha : 69, Al-Mu’minun : 117, Al-Qoshoh : 37, Al-Qoshoh : 82, Yunus : 69, An-Nahl : 116, Al-Baqarah : 5, Ali-Imran : 104, Al-A’raf : 8, Al-A’raf : 157, At-Taubah : 88, Al-Mu’minun : 102, An-Nuur : 51, Ar-Ruum : 38, Luqman : 5, Al-Mujadalah : 22, Al-Hasyr : 9, At-Taghabun : 16, Al-Qoshoh : 67). Sementara Allah membicarakan mengenai orang yang merugi sampai 61 kali di dalam surat dan ayat yang berbeda pula.

BACA JUGA:  STUDIUM GENERALE DI ERASMUS HUIS: IDENTIFIKASI ATAS TANTANGAN MUSLIM INDONESIA

Al-Qur’an menunjukkan sejumlah  ciri orang yang beruntung itu baik di dunia maupun di akhirat. Di antara, Selalu bertaqwa kepada Allah SWT (Al-Maidah: 100). Selalu berdzikir atau mengingat akan keagungan Allah (Q.S.Al-Anfal: 45). Selalu bersabar dan mempererat tali ukhuwwah islamiyyah (Ali Imron: 200). Selalu beribadah kepada Allah dan beramar ma’ruf nahi munkar (Al-Mukminun: 102). Berjihad di jalan Allah dan berbuat taubat (Q.S.Al-Maidah: 35).

Mudah-mudahan kita selalu dapat insyaf untuk tetap teguh dengan prinsip kita sebagai seorang muslim dan muslimah di tengah hiruk pikuknya zaman saat ini. Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *