KH Imam Zarkasyi di Mata Umat

kh-imam-zarkasyi-dimata-umat-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

KH Imam Zarkasyi di Mata Umat

oleh: Saief Alemdar

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2005

Mungkin banyak yang tidak mengenal Kyai Imam Zarkasyi ini, tapi hampir semua orang Indonesia mengenal Gontor, Pesantren yang beliau dirikan bersama dua kakaknya.

Buku ‘KH Imam Zarkasyi di Mata Umat’ merupakan buku lama,cetakan pertamanya tahun 1996. Aku sudah melihat buku itu sejak tahun 2002 ketika masih menjadi anak baru di Gontor, tapi sama sekali belum tertarik untuk membacanya, mungkin karena tidak ada gambar, atau karena terlalu tebal, atau mungkin tokoh-tokoh yang disebut di dalamnya sama sekali asing bagiku, kecuali satu orang saja, yaitu Prof. Aly Hasjmy, salah satu putra terbaik Aceh dan juga mantan Gubernur Aceh.

Suatu ketika, di universitas Damaskus, aku sedang membaca buku Ta’lil Ahkam karya Prof. Mustafa Syalaby. Buku itu relatif berat untuk anak baru tahun kedua, mungkin belum saatnya, tapi karena kebanyakan mendengar endorsement dari dosen-dosen di kampus, aku tertarik untuk membacanya.

“Kamu masih membaca buku itu, terlalu dini buat kamu untuk membaca buku itu”, komentar kawanku.

Akupun berpikir, ada benarnya, tidak semua buku yang bagus harus langsung dibaca, bukan karena ditakutkan kita tidak mengerti, tetapi memang terkadang tidak ada menariknya karena satu dan lain hal.

Mungkin itu juga kenapa aku tidak tertarik membaca buku KH Imam Zarkasyi di Mata Umat, karena aku tidak bisa menghargai apa yang diungkapkan tokoh-tokoh itu. Sederhana saja, tokoh-tokoh yang menulis tentang Kiayi Imam Zarkasyi semuanya tidakku kenal, tidak tahu siapa mereka, tempat-tempat yang mereka sebutkan dan orang-orang yang berinteraksi dengan mereka sama sekali asing bagiku, so, tidak ada menariknya.

Dalam makalah Prof. Aly Hasjmy, beliau menceritakan bagaimana mereka bertemu pertama kali di Padang, di Madrasah Tawalib, dan menjadi sahabat akrab, sampai akhirnya mereka berpisah masing-masing mengambil jalan sendiri-sendiri. Anyway, mereka berdua adalah murid kebanggaan Prof. Mahmud Yunus, hal itu diungkapkan Prof. Mahmud Yunus dalam pertemuan di Banda Aceh.

“Menurut saya, KH Imam Zarkasyi adalah seorang ulama yang berpengetahuan dan pemahaman yang luas. Selain itu, di samping beliau teguh pada keyakinannya, beliau juga menghormati keyakinan orang lain. Beliau sangat fanatik pada keyakinan Islam yang dianutnya, tetapi bukan ‘fanatik buta’, melainkan ‘fanatik sadar…”

“Menurut saya, KH Imam Zarkasyi adalah seorang ulama yang luas ilmunya, tidak banyak bicara, tenang dan sabar; ibarat laut yang tenang tetapi dalam. Apabila martabat dan harga diri dan keyakinannya dirasanya tersinggung, laut yang tenang itu dapat juga bergejolak. Kenyataan demikian saya dapatkan dalam rapat-rapat Majlis Ulama.” Cerita beliau lagi.

“Menurut saya, KH Imam Zarkasyi adalah seorang teman yang baik, yang lebih sayang pada kawannya daripada dirinya sendiri. Suatu ketika, dalam Munas MUI, kami ditempatkan dalam satu kamar ber-AC. KH Zarkasyi yang memiliki sakit asma tidak tahan dingin, sedangkan saya mengalami ‘kurang berfungsinya lever’ yang menyebabkan tidak tahan panas. Saya menolak tawaran beliau untuk menyalakan AC, beliau malah mengatakan agar saya menyalakan AC, karena beliau nanti bisa berselimut.

Akhirnya kami menyalakan AC, dan saya melihat beliau berselimut ketat, saya kasihan padanya dan saya matikan AC, kemudian saya tidur hanya dengan memakai singlet.

Tiba-tiba beliau terbangun, mungkin kehausan atau mau ke kamar mandi, ketika melihat AC mati beliau menyalakannya kembali. Ketika suhu kamar semakin dingin, beliau berselimut ketat lagi. Saya melihat itu, dan mematikan AC. Ternyata beliau bangun dan menyalakan kembali AC di kamar. Pikiran saya terganggu, hatta tidak dapat tidur. Akhirnya saya matikan kembali AC itu karena melihat beliau dalam kondisi sulit kena AC. Waktu beliau terbangun, beliaupun menghidupkan kembali AC. Begitulah seterusnya.

Mungkin itu lucu, tapi itulah kenyataan yang terjadi…..”. begitu ungkap Prof. Aly Hasjmy dalam buku “KH Imam Zarkasyi di Mata Umat”.

Mungkin, sekarang saatnya aku membaca buku ini.

“Jika kyai lebih terkenal daripada pesantrennya, maka pesantren telah berhasil membesarkan kyainya. Jika pesantren lebih terkenal daripada kyainya, maka kyai telah berhasil membesarkan pesantrennya” (Ed. Rizal Maulana)

1 thought on “KH Imam Zarkasyi di Mata Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *