Tantangan dalam Komunikasi Antar Agama di Dunia Maya

komunikasi-antar-agama-saa-studi-antar-agama-unida-gontor

Tantangan dalam Komunikasi Antar Agama di Dunia Maya

Diskusi perihal komunikasi antar agama di dunia maya semestinya dimulai dari kemajuan teknologi di era digital membawa banyak perubahan dalam hubungan antarmanusia. Perubahan yang terjadi mempengaruhi hampir seluruh aspek dan level sosial-budaya, termasuk dalam ranah agama. Ciri khas era globalisasi dan era digital yang meniadakan batasan (borderless) (Yahya, 2017: 48) nyatanya justru membuat ruang-ruang pribadi dalam komunitas majemuk di dunia maya. Komunitas dunia maya tersebut berisi mereka yang memiliki pemikiran dan keyakinan yang sama serta cenderung membicarakan hal yang senada.

Echo Chambers dan Komunikasi Antar Agama di Dunia Maya

Fenomena yang disebutEcho Chambers ini menciptakan sekat-sekat antar satu komunitas dan komunitas lainnya. Alih-alih menjadi lebih terbuka dan inklusif, fenomena ini berpotensi menciptakan sekat eksklusivisme baru di ruang digital. Bahkan, berbagai ‘suara’ di luar komunitas mereka akan dianggap bertentangan dan berseberangan dengan ideologi yang mereka anut dan anggap benar. Keadaan diperburuk dengan algoritma khusus media sosial yang akan merekomendasikan berbagai grup, tayangan, dan berita sesuai dengan minat dan kecenderungan pengakses.

Eksklusivisme dalam agama dan klaim kebenaran absolut dalam ranah sosial merupakan sebuah awal. Darinya, ideologi transnasional akan dapat mudah merasuk ke dalam bahan bacaan dan tontonan para pemuda pengguna internet. Selanjutnya akan melahirkan berbagai paham radikalisme digital yang berujung pada terorisme dan kekerasan atas nama agama (Hasse J, 2018: 113; Yahya, 2017: 208).

Lihat Juga: Dialog Antar Agama di Era Revolusi 4.0

Hal ini yang dipandang al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, dosen Prodi Studi Agama-Agaam UNIDA Gontor, sebagai tantangan dalam komunikasi ‘yang sehat’ antar komunitas dan pemeluk agama. Melalui prinsip komunikasi antar agama Stella Ting-Toomey (1999), beliau mencoba mengidentifikasi berbagai tantangan yang mungkin hadir dari fenomena echo chambers tersebut.

FOKUS- Mahasiswa Fakultas Ushuluddin serius mendengatkan pemaparan al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M.A.

Komunikasi Antar Agama di Dunia Maya: Pisau Bermata Dua

Dalam Kajian Forum Komunikasi Ushuluddin (FOKUS), dosen yang dahulu juga merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor ini membawa tema yang sesuai dengan kehidupan para mahasiswa. Bertempat di Masjid Pusaka Pondok Modern Darussalam Gontor, para mahasiwa yang tidak hanya berasal dari fakultas Ushuluddin tampak antusias mendengarkan bahaya echo chambers dalam kehidupan sosial. Mereka menyadari bahwa penting untuk mengenal dan berinteraksi dengan mereka yang memiliki sudut pandang berbeda.

Baca Juga: Literasi di Era Disrupsi Mengkaji Bersama Muhammad Chirzin

Di akhir sesi, dosen yang merupakan alumni UGM ini memberikan sedikit saran dan solusi untuk membendung gelombang ekslusivisme ini dan menghindari terciptanya radikalisme-radikalisme baru. Internet dan teknologi bukanlah sesuatu yang perlu dijauhi. Sebaliknya, ia bagaikan pisau bermata dua. Para pengguna internetlah yang memiliki pekerjaan rumah untuk dapat membuka cakrawala pemikiran dan tidak terjebak dalam fanatisme buta golongannya. Kebiasaan baik mereka di dunia maya akan berdampak pada hubungan sosial mereka di dunia nyata. (Yuangga Kurnia Yahya)    

Referensi

Hasse J. 2018. Kontestasi Identitas Agama: Lokalitas Spiritual di Indonesia. Yogyakarta: The Phinisi Press.

Ting-Toomey, Stella. 1999. Communicating Across Cultures. New York: The Guilford Press

Yahya, Yuangga Kurnia. 2017. Upaya Bahasa Arab Dalam Menghadapi Era Globalisasi. In Konferensi Nasional Bahasa Arab (KONASBARA) III  proceeding, Univ. Negeri Malang, 7 October 2017. Malang: UM Press. 38 – 48, 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *