“Kritik atas Dekonstruksi Syari’ah”

“Kritik atas Dekonstruksi Syari’ah” Topik Pembuka Kajian Ilmiah di Kampus Mantingan

Dengan berjalannya masa aktif perkuliahan, Dewan Mahasiswi (DEMA) Universitas Darussalam Gontor Kampus Mantingan mengadakan Kajian Ilmiah Perdana yang diadakan pada hari Kamis tanggal 4 Juli 2019 di Gedung Kulliyatul Banat Gontor Putri Kampus 1. Acara ini dihadiri oleh al-Ustadz Asif Trisnani, M.A dan al-Ustadz Hifni Nasif. M. Ud. Selaku Dosen Tetap UNIDA Kampus Mantingan. Tema pada Kajian ilmiah malam itu berjudul “ Kritik atas Dekonstruksi Syari’ah” dan disampaikan langsung oleh Wakil Rektor II UNIDA Gontor, Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, Lc. M.A. dan dihadiri oleh seluruh Mahasiswi Universitas Darussalam Gontor Kampus Mantingan dari semester satu hingga tujuh.

Dalam kesempatan itu, Beliau menjelaskan bahwa makna Dekonstruksi Syari’ah adalah sebuah paham untuk meruntuhkan, membongkar dan membangun kembali Syari’ah Islam. Ia merupakan upaya pembacaan ulang syari’ah dan desakralisasi syari’ah. Dekonstruksi adalah metode dan pendekatan barat yang digunakan oleh orang Islam untuk mengubah apa yang ada karena dianggap tidak sesuai dengan zaman modern.

Kajian Ilmiah Perdana (Kritik atas Dekonstruksi Syari’ah)

Ada sejumlah macam-macam bentuk dekonstruksi Syari’ah seperti, Desakralisasi Syari’ah, Desakralisasi otoritas ulama, desakralisasi sejarah Islam, dan Konstektualisasi Ijtihad. Selain itu, terdapat banyak tokoh yang memegang erat paham dekonstruksi Syari’ah dari para tokoh besar barat maupun timur. Tokoh dekonstruksi Syari’ah dari kalangan Muslim seperti, Mahmud Muhammad Taha, Muhammad Syahrur, Muhammad Arkun, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, dan masih banyak lagi. Dekonstruksi Syari’ah kemudian menimbulkan berbagai isu dan masalah secara global. Di Indonesia, problematiku itu seperti, Hermeneutika, Reformasi Hukum Warisan, Reformasi Hukum Jilbab, Penghapusan Poligami, LGBT, Haji diluar Arafah, mina dan diluar bulan Dzulhijjah, pernikahan beda Agama, Penghapusan qishas, qatl, rajam, dan potong tangan, kebebasan memilih agama, penghapusan riddah serta yang sedang marak saat ini adalah munculnya Islam Nusantara.

Dr. Setiawan juga menekankan  bahwa dekonstruksi syari’ah bukanlah barang baru yang muncul dalam khazanah pemikiran Islam namun merupakan isu lama yang di daur ulang. Oleh karena itu, Ummat Islam dituntut sesungguhnya untuk mendahulukan wahyu dari akal atau nalar. Hal ini tentu saja berangkat berdasarkan pemahaman bahwa syari’at tidak pernah berubah karena ia bersifat fundamental. Jikalau ada perubahan, yang berubah hanyalah fiqh sebagai keilmuan sesuai dengan kebutuan zaman. Oleh sebab itu, kritik atas dekonstruksi syari’ah menjadi penting. Acara Kajian Ilmiah Perdana ini dimulai pukul 20.30 hingga 22.00, berlangsung selama 1 jam setengah dengan sesi tanya jawab dan berakhir dengan tertib. (Alif Nur Fitriyani/SAA 7)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *