Kurban Agama Katolik sebagai Simbol Kasih Sayang Kristus

kurban dalam katolik saa studi agama-agama unida gontor

Kurban Agama Katolik sebagai Simbol Kasih Sayang Kristus

oleh: Nuha Afra Makarim

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama VII

Kurban dalam Agama Katolik berangkat dari kitab Ibrani 11:17 “karena beriman juga, maka Abraham mempersembahkan anaknya Ishaq sebagai kurban ketika diuji oleh Allah. Kepada Abrahamlah Allah memberikan janjinya, namun Abraham rela menyerahkan anaknya yang satu-satunya.”[1] Agama Katolik juga mengenalkan makna kurban yang dalam bahasa Arab-Kristiani dimaknai ‘Ekaristi’.[2] Ekaristi sendiri, adalah ritual Katolik yang ditandai dengan memakan sebuah roti dan meminum anggur menyimbolkan daging dan darah Yesus.

Adapun kurban yang dipahami disimbolkan dengan penyembelihan domba dan sebagainya telah dijabarkan dalam sejumlah ayat Perjanjian Baru. Yaitu: Yohanes 1:29, 36, Petrus 1:18, dan Wahyu 5:6-10, 13:8. Dalam ayat-ayat ini, dikatakan bahwa figur Kristus dikatakan sebagai domba Allah yang disembelih. Darah Kristus yang suci memiliki kemampuan untuk menghilangkan dosa dunia.[3] Hal ini menunjukkan mengenai kurban dalam agama Katolik berakar dalam belas kasih.

Macam dan Tata Cara Pelaksanaan Kurban

  1. Kurban Rohani

Dalam surat I Petrus 1 : 2 dikatakan bahwa “orang-orang yang dipilih dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahnya”. Ayat ini menunjukkan bahwa Kristus adalah kurban dan tidak lain bahwa darah yang dimaksud adalah darah kurban.[4] Dalam hal ini, kurban Rohani mempunyai makna syukur. Syukur ini, berarti bahwa dengan pengurbanan, kita dapat menyenangkan hati Tuhan yakni dengan senantiasa memuliakan nama-Nya (Ibr 13:15).[5]

2. Kurban Kristus

Berkurban adalah salah satu cara penebusan dosa yang dalam sepanjang sejarah Katolik, korban yang paling mencukupi adalah seperti yang terjadi pada kayu salib Yesus di Golgota. Berita tentang salib ialah bahwa kristus telah mempersembahkan korban yang sesungguhnya adalah sebagi ganti umat kristiani bahkan bahwa Ia sendirilah korban itu.[6]

3. Kurban Misa

Kurban Misa adalah istilah populer untuk Misa Kudus sebagai perayaan umat Katolik untuk memperingati kurban salib. Misa Kudus dirayakan atas perintah Yesus pada perjamuan terakhir dengan ke dua belas muridnya pada malam sebelum wafatnya yaitu: “lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku’. Dengan demikian, Yesus menyuruh murid-muridnya untuk merayakan peringatan wafatnya dalam bentuk perjamuan.[7] Perjamuan inilah yang kemudian dikenal dengan ‘Ekaristi’, dilaksanakan dengan menggunakan roti dan anggur sebagai transignifikasi dan transfinalisasi dari tubuh dan darah Kristus.[8]

Lihat Juga: Panca Yadnya Kurban dalam Hinduisme

Perbedaan Tentang Kurban Dalam Ajaran Islam Dan Ajaran Katolik

Diantara perbedaan mengenai kurban dalam ajaran Islam dan Katolik adalah sebagai berikut:

 

Islam Katolik
1. Dalam Islam Qs. Ash Shaffat 100-113 bahwa yang diKurbankan oleh Ibrahim adalah Ismail 1. Dalam Katolik berdasarkan al-kitab Perjanjian Lama di Kejadian 22:2
yang diKurbankan adalah Ishaq
2. Hikmah dari ibadah kurban dalam
Islam:

a. Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan
b. Menghidupkan ajaran nabi Ibrahim as yang ketika itu memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan, yaitu Ismail
c. Agar setiap umat mukmin mengingat kesabaran nabi Ibrahim dan Ismail As, yang
membuahkan ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepadaNya lebih dari diri sendiri dan anak. Dan pengorbanan seperti inilah
yang menyebabkan lepasnya cobaan, sehingga Ismail berubah menjadi seekor domba.
d. Ibadah kurban lebih baik dari pada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan kurban.

2. Hikmah dari ibadah kurban dalam Katolik tidak memiliki hikmah yang jelas
3. Dalam Islam berkurban hukumnya  adalah wajib bagi yang mampu dan sunnah bagi yang tidak mampu. 3. Sedangkan dalam Katolik tidak ada hukum berkurban.
4. Islam menerangkan dengan rinci bagaimana tata cara berkurban
a. Membaca basmalah jika hendak menyembelih hewan kurban.
b. Disunahkan bertakbir ketika hendak menyembelih hewan kurban.
c. Yang menyembelih harus orang berakal dan harus muslim
d. Merebahkan hewan tersebut dan meletakkan kaki pada rusuk lehernya.
e. Alat yang digunakan menyembelih harus tajam hingga dapat memtus dua urat tebal yang meliputi tenggorokan.
4. Untuk tata cara perayaan kurban dalam Katolik adalah dengan mengambil roti dan di cacah lalu mengucap syukur dan mengatakan
“Inilah tubuhku ( matius 26:26)
5. Menyembelih hewan pada saat Idul Adha adalah suatu keutamaan atau amal shalih yang paling utama dan lebih utama dari pada bersedekah yang senilai harga hewan kurban
atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari nilai hewan kurban.
5. Sedangkan dalam ajaran Katolik, jika hati tidak mencintai apa yang dipersembahkan kepada Allah, maka tidak mempunyai nilai atau makna.

Referensi

[1] Lembaga Al-Kitab Indonesia, Alkitab (Jakarta: LAI, 1987), hal 11.

[2] Adolf Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja III (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1993), hal. 51.

[3] Donal Gutheri, Teologi Perjanjian Baru II Keselamatan dan Kehidupan Baru terjemahan Dr. Jan Aritonang dkk (Jakarta: Gunung Mulia, 1993), hal 86

[4] Donal Gutheri, Teologi Perjanjian Baru,…. hal 94-95.

[5] Lembaga Al-Kitab Indonesia,….. hal. 317.

[6] G.c. van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta: Gunung Mulia,
1997), hal. 259.

[7] Anonim, Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 9 (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1990), hal. 239.

[8] Anonim, Ensiklopedi Nasional…. hal. 160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *