Kurban dalam Agama Yahudi: Ibadah Berdasarkan Perjanjian Lama

kurban yahudi studi agama agama saa unida gontor https://rkd.nl/en/explore/images/40898

Kurban dalam Agama Yahudi: Ibadah Berdasarkan Perjanjian Lama

oleh: Aulana Maghfiroh

Mahasiswi SAA VII

Baik Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki pandangan terkait figur Abraham (Ibrahim ‘alayhissalam) dalam ajaran ibadah kurban. Kisah kurban yang melibatkan Abraham tersebut telah membentuk tradisi, nilai-nilai etika, dan pandangan tiga agama itu pada relasi teologis, sosial, dan kehidupan. Dalam tradisi Islam, kisah Ibrahim diperingati tiap tahunnya pada Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini dapat diamati dengan pelaksanaan kurban binatang dengan pembagian dagingnya sebagai pengingat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alayhimassalam. Dalam kesempatan ini, pembahas akan membahas lebih detail tentang bagaimana deskripstif kurban dalam agama Yahudi.[1]

Kurban dalam bahasa Ibrani berarti pengorbanan. Korbanot, bahasa Ibrani adalah bentuk jamak dari Kurban yang bisa di deskripsikan dan merupakan perintah dalam Taurat.  Dalam Taurat sendiri, kurban yang bisa di gunakan adalah binatang termasuk kerbau, domba ,sapi atau kambing yang menjadi makanan sehari-sehari oleh pemberi persembahan. Sebagian diberi oleh Kohanim atau Kohen (pendeta) dan sebagian dibakar ke mezbah (altar). Buah-buahan, dupa, dan serealia juga dapat dikurbankan.[2]

Baca Juga: Dialog Muslim-Yahudi: Kunjungan Prodi SAA ke Synagogue Shaar HaShamayim

Secara konseptual, kurban dalam agama Yahudi sebagaimana yang diterangkan dalam Perjanjian Lama adalah suatu persembahan untuk Yahweh dan hanya kepada-Nya. Kurban tersebut kemudian dilambangkan dengan hewan, darah , roti, anggur dan wangi-wangian, yang disisihkan dari pemakaian manusia dengan meletakkannya di atas altar.[3] Altar itu sendiri merupakan simbol kepercayaan umat Yahudi dimana Abraham mengurbankan Ishak anaknya.

Kurban dalam bahasa Ibrani juga bermakna “persembahan korban binatang” (zevah זֶבַח), atau “persembahan pendamaian”, dan “persembahan korban bakaran” (olah). Persembahan tersebut juga seringkali digunakan oleh para imam di bait suci Yerusalem.

Kurban dalam agama Yahudi diderivasi dari Kitab Kejadian 22 :1-2  yang berbunyi : “Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetian Abraham. Allah memanggil, “Abraham ! Lalu Abraham menjawab, “ya tuhan.” Kata Allah, .? pergilah ke Tanah Moria dengan Ishaq anakmu yang tunggal, yang sangat kau kasihi. Di situ, di sebuah gunung yang akan kutunjukkan kepadamu, persembahkanlah anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku.”[4]

Ada versi lain dari kurban dalam agama Yahudi. Yaitu, pandangan sejumlah Rabbi Yahudi yang berpegang teguh bahwa kitab Taurat mengizinkan pelaksanaan hukum Yahudi tanpa pengorbanan binatang berdasarkan tradisi oral dan dukungan kuat dari Kitab Suci. Misalnya sebagaimana tertulis di Mazmur 51:16-19 dan Hosea 6:6. Terlepas dari ragamnya ajaran,  praktik dan hakikat kurban dalam agama Yahudi senantiasa memiliki relevansi dalam 613 mitzvot di dalam Mishna, Teologi Yahudi, dan Halakha (hukum-hukum Yahudi) terutama yang diyakini dalam Yudaisme Ortodoks.[5]

Lihat Juga: Puasa dalam Agama Yahudi

Perbedaan juga datang dari sejumlah umat Kristen yang dalam pembacaan mereka terhadap Perjanjian Lama, bahwa tujuan kurban menurut Yudaisme adalah guna mendamaikan dosa yang tidak disengaja. Kurban, kemudian hanya mengiringi inti penggunaan pendamaian yang penting untuk dapat dianggap sah. Di luar hal itu, lebih banyak tujuan mempersembahkan korban, terutama untuk berhubungan dengan Tuhan dan menjadi lebih dekat kepada-Nya. Kurban juga dipersembahkan dengan tujuan pujian, syukur, dan kasih kepada Tuhan.[6]

Perintah untuk berkurban seperti tersebut diatas, lambat laun menjadi berubah. Pada awalnya kauban-kurban yang dipersembahkan itu termasuk juga manusia sebagai mangsanya. Pernah manusia ikut di persembahkaa bersama dengan hidangan-hidangan lain dari binatang dan buah-buahan sebagai kurban. Tradisi seperti itu telah berjalan beberapa jaman yang panjang hingga jaman perpecahan dimana Raja Ahaz pernah mempersembahkan putranya sebagai kurban bagi Tuhan-tuhan termasuk juga sebagai mangsa yang harus dipersembahkan untuk hidangan Tuhan-tuhan itu ialah anak perempuan kepada Jephthah.[7]

Sebagaimana sejarah Yahudi menjelaskan, bahwa Abraham mengurbankan Ishak di altar, pemahaman ini kemudian mengalami perubahan dan kontekstualisasi di mana kurban yang semula manusia digantikan dengan hanya mengurbankan sebagian saja dari anggota tubuh manusia yang memadai sebagai ganti dari seluruh batang tubuh manusia untuk dipersembahkan kepada Yahweh. Anggota badan yang sebagian maksudnya adalah kulup kemaluan yang didapat ketika seorang anak laki-laki atau perempuan dikhitan. Dengan demikian jadilah khitan itu suatu lambang pengurbanan bagi manusia. Dalam prosesi khitan dalam agama Yahudi, juga dipersembahkan juga kurban binatang dan buah-buahan.

Baca Juga: Kurban Agama Katolik sebagai Kasih Sayang Yesus

Secara garis besar, kurban-kurban itu sebenarnya kejadian sehari-hari yang mempunyai hubungan erat dengan kuil dan tempat ibadah umat Yahudi. Dengan catatan, seringkali ada saja  kurban-kurban yang di hidangkan disertai  pesta yang berlebihan dengan upacara-upacara keagamaan yang di lakukan oleh para Rabbi dan umat Yahudi. Hal ini tentu saja tidak dibenarkan. Sebab, semua jenis persembahan kurban yang dihidangkan kepada Yahweh itu merupakan suatu bukti yang jelas adanya hubungan yang erat antara rakyat dengan Tuhan dan menjadi dalil bahwa Yahweh itu memang wujud di kalangan rakyat jelata. Alih-alih untuk berpesta pora, umat Yahudi semestinya melaksanakan kurban juga dalam rangka sedekah pada umat miskin.[8]

Berikut macam dan tata cara menyerahan kurban menurut yahudi menurut kitab imamat 7 : 37 ada lima macam bentuk kurban yang termasuk dalam hukum yang telah di nyatakan Tuhan Allah kepada Musa di Gunung Sinai :

  1. Persembahan kurban bakar atau pemberian total yang diberikan api Tuhan.
  2. Persembahan perdamaian dengan puncak ritual dalam bentuk makan kurban bersama.
  3. Persembahan dosa yaitu suatu kurban rujuk dan pertobatan yang di berikan untuk di persembahkan untuk melakukan perdamaian dan penyesalan terhadap Tuhan.[9]

Referensi:

[1] Khairullah Dzikri, Deconstructing Animal Sacrifice (Qurban) In Idul Adha, Vol 12 No. 2, 2011. hlm 1.

[2] Robert W. Jenson, Eugene Korn, Covenant and Hope: Christian and Jewish Reflections. Wm. B. Eerdmans Publishing. 2012

[3] Adolf Heuken SJ, Ensiklopedi Gereja III (takarta: Yay-asan Cipta loka Caraka, 1993) hlm. 51.

[4] Lembaga Alkitab lndonesia, Alkitab, (Jakarta : LAI, 1987 ) hlm. 28.

[5] Jewish Practices & Rituals: Sacrifices and Offerings (Karbanot)”. Jewish Virtual Library. AICE. Diakses tanggal 27 August 2017.

[6] Bleich J David, “A Review of Halakhic Literature Pertaining to the Reinstitution of the Sacrificial Order.” Tradition 9 ,1967 hlm. 103-24.

[7] Ahmad Shalabl’, Agama Yahudi Perbandingan Agama (Semarang: Bumi Aksara, 1996), hlm. 207.

[8] Ahmad Shalabl’, Agama Yahudi Perbandingan Agama,… hlm. 208.

[9] Joachim Wach, Ilmu Perbandingon Agama Terjemahan Joseph M. Kitagawa (Jakarta: PT Grafindo Persada, 1996), hlm. 165.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *