Menelisik Sejarah Perkembangan Teologi Kristen

Menelisik Sejarah Perkembangan Teologi Kristen

Oleh Sonny Zaluchu & Nur Rosyid Setiawan

Dalam mempelajari teologi Kristen dan perkembanganya hingga saat ini, perlu dilakukan bersamanya dalam mempelajari sejarah filsafat barat. Hal ini sekilas dibuktikan oleh Sonny Zaluchu dalam artikelnya bahwa faham pragmatisme, rasionalisme dan empirisisme telah memberikan kontribusi besar bagi gereja untuk memposisikan dirinya dalam menanggapi faham-faham tersebut. Gereja telah bergeser dari yang sebelumnya berpegang teguh pada doktrin al-kitab dan tradisi gereja menuju penyesuaian diri agar bisa diterima oleh faham-faham isu-isu di atas.

Di dalam artikelnya, Sonny mengutip dari pandangan Enns bahwa sejarah teologi Kristen terbagi menjadi empat kurun waktu dengan cirri khas yang berbeda; Pertama, Teologi Abad Permulaan (1 s/d 590 AD); merupakan teologi oleh Bapa Apostolik yang sangat signifikan dan biblikal karena dikembangkan oleh orang2 yg masih hidup dan dekat dengan peristiwa-peristiwa kehidupan Kristus dan para rasul. Kedua, Teologi Abad Pertengahan (590 s/d 1517 AD); pada masa ini rancang bangun teologi mengandung banyak sekali distorsi pengajaran Alkitab, terutama pasca masa renaissance. Teologi bergesar pada lebih mengunggulkan akal manusia karena faham rasionalisme. Gereja Barat di Vatikan berpisah dengan Gereja Timur di Konstantinopel karena berbeda pendapat bahwa roh kudus bersumber dari Tuhan Bapak dan Anak atau tidak. Beberapa tokoh yang muncul dalam berkontribusi menggeser posisi teologi Kristen karena pemikirannya adalah Martin Luther, Thomas Acuinas, dll.

Ketiga, Teologi Reformasi (1517 s/d 1750); pada masa ini Teologi Kristen kembali ingin dimurnikan dengan usaha membawa Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran dan dasar pijakan utama dan semua tradisi-tradisi gereja yang tidak sesuai dengan al-kitab akan ditolak. Aliran Kristen protestan semakin kuat. Ditambah lagi bahwa faham empirisisme mulai mendominasi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Diantaranya dengan kemunculan Copernicus dg teori Heliosentrisnya dan Colombus yang dikatakan di dalam sejarah menemukan benua Amerika sebagai bukti bahwa bumi tidaklah datar. Keempat, Teologi Modern (1750 s/d sekarang) [1]; merupakan masa reformasi, suatu tradisi gereja akan ditolak jika tidak sesuai Alkitab. Tetapi di zaman pencerahan atau modern, justru Alkitab yang dikaji secara kritis terlepas dari ajaran gerejawi. Beberapa tokoh yang muncul adalah Immanuel Kant, Friedrich Schleiermacher, George Hegel, dll.

Menurut Sonny setidaknya ada 3 hal yang dapat disimpulkan bahwa perkembangan teologi paling tidak ditentukan oleh (a) corak zaman, (b) latar belakang para pemikir dan (c) kebutuhan mendesak yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran teologis tersebut. Masih mengutip dari Enns, Sonny menuliskan dalam artikelnya bahwa sejarah teologi bertujuan untuk “menjabarkan asal usul sejarah dogma dari gereja dan menelusuri rentetan perubahan dan perkembangannya“[2]. Dan setidaknya sudah ada 3 hal perubahan yang terjadi di dalam sejarah perkembangan teologi Kristen, yaitu; skolastikisme [3], reformasi [4] dan pencerahan [5].

Penulis juga dapat meyimpulkan juga bahwa setidaknya para ahli filsafat barat juga ikut andil dalam mengembangkan teologi kristen selain kemudian corak zaman yang berbeda dan kebutuhan masyarakat yang mendesak dengan dalih untuk merubah nasib mereka. Berbeda dengan Islam yang memiliki pandangan itsbat (perkara-perkara yang tetap) dan mutaghoyyirat (perkara-perkara yang berubah). Jadi tidak semua perkara boleh berubah apalagi yang berkenaan dengan aqidah. Tidak juga menjadi kekhawatiran ketika illmuwan muslim mempelajari filsafat, selama ia berpegang teguh pada pandangan islami dunia (Islamic worldview) maka sejarah di kristen tidak akan terjadi di Islam. Wallahu a’lam bisshowab.

[1] Paul Enns, The Moody Handbook of Theology Jilid 2 (Malang: Literatur SAAT, 2004), 20-23.

[2] Ibid, 19.

[3] Paham yang menekankan penalaran mempengaruhi teologi untuk menjauhi kedaulatan Allah.

[4] mengembalikan kepada sentralitas Alkitab (Sola Scriptura), juga mengembalikan teologi untuk menekankan anugerah (Sola Gracia), juga mengembalikan teologi untuk menekankan iman (sola fide).

[5] mengarahkan teologi ke arah kecenderungan kepada anti supranatural.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *