MENERJEMAHKAN AGAMA PADA MODERNITAS: CATATAN ATAS KULIAH UMUM PROF. SALAH BASALAMAH

Dosen Prodi Studi Agama-Agama, Yuangga Kurnia Yahya, M.A. menjadi moderator dalam acara Kuliah Umum bersama Assoc. Prof. Salah Basalamah

UNIDA-  Salah Basalamah, Associate Professor dari School of Translation and Interpretation, Faculty of Arts, Universitas Ottawa, Kanada Selasa (19/6/2019), memberikan kuliah tamu di Universitas Darussalam Gontor. Kuliah yang dihadiri 375 orang mahasiswa baru UNIDA Gontor ini  bertajuk “Toward a Philosophy of Translation—Translating Islam into Modernity and Secularism”.  Dalam diskusinya, Prof. Salah Basalamah menjelaskan bahwa menerjemahkan agama pada modernitas adalah salah satu upaya dalam menghadapi sekularisme dengan berbagai isu yang dilahirkannya. Sebagai seorang ahli penerjamahan atau translation studies, Prof. Salah Basalamah menjabarkan bahwa penerjemahan tidak hanya mencakup transformasi kata atau kalimat, namun juga menerjemahkan agama dalam konteks fenomena-fenomena keagamaan termasuk pembacaan ulang atas ideologi. Dosen Prodi Studi Agama-Agama, Yuangga Kurnia Yahya, M.A. bertugas sebagai moderator dalam kuliah umum ini.

Di awal diskusi, Prof. Salah Basalamah mendefinisikan kembali sekularisme tidak hanya sebagai ideologi yang bertentangan pada agama. Sekularisme ternyata juga mampu dimaknai sebagai sebuah ‘neutral space’ yang mempertemukan agama dengan ideologi-ideologi lainnya dalam bingkai dialog. Hal ini berangkat dari sebuah realitas yang tidak bisa dielakkan antara kondisi umat Islam yang senantiasa berubah dan berbeda di setiap tempat regional (tempat) dan historis (waktu). Secara historis, Ummat Islam pernah mencapai puncak peradaban, dan saat ini diniscayakan mengalami kemunduran.  Secara regional, Ummat Islam ada yang menjadi mayoritas di sebuah negara, namun di negara lain menjadi minoritas. Di sinilah, Prof. Salah meyakini bahwa menerjemahkan agama, artinya juga memenuhi tantangan modernitas. Tantangan tersebut melahirkan kewajiban lebih untuk umat Islam saat ini dalam menyikapi progres ini tanpa terjebak dalam modernitas itu sendiri.

Urgensi Translation Studies dalam Menerjemahkan Agama Islam pada Dunia Modern Menurut Assoc. Prof. Salah Basalamah

Studi translasi (translation studies), menurut Prof. Salah Basalamah urgen dalam menerjemahkan nilai-nilai keislaman sebagai bentuk kontribusi atas dunia modern. Urgensi Translation Studies, ternyata berlaku secara diakronik dalam membahasakan apa yang telah terjadi di dunia Islam di masa lalu sekaligus sebagai strategi prospektif untuk menentukan arah pergerakan status, politik, dan budaya keislaman di masa mendatang. Translation Studies, lagi-lagi tidak hanya bermakna sebagai proses penerjamahan kata, namun juga upaya akan transformasi nilai-nilai keislaman dalam menyikapi dunia modern. Urgensi ini jelas disampaikan Prof. Salah Basalamah dalam  pidatonya bahwa, “Because this dealing puts into play the dynamics of interrelation between differences, i.e. different languages, religions, traditions, logics, political and social cultures, etc. then Muslim and Translation Studies have a common interest to cooperate by putting together their conceptual resources and concrete real-life challenges” .

Pantikan diskusi ini tentu saja menarik, terutama dalam perspektif metodis akademik UNIDA Gontor yang berasaskan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Di setiap lini program studinya, UNIDA Gontor senantiasa berupaya untuk menghidupkan cabang-cabang keilmuan sesuai dengan pandangan hidup Islam, yang dalam praktiknya, lahirlah konseptualisasi baru akan tradisi keilmuan Islam dalam konteks kekinian. Konseptualisasi ini, tentu lebih dari sekedar ‘menerjemahkan’ tradisi tersebut secara literal, namun juga mencakup bagaimana Muslim mampu menyikapi modernitas berbekal berbagai cabang keilmuan (multi-interdiscipline). Prof. Salah Basalamah pun mengafirmasi bahwa Translation Studies bersifat inter-discipline alias sangat terkait dengan cabang keilmuan lain.

Implementasi Translation Studies dalam koridor NKRI

Tantangan selanjutnya tentu saja dapat ditangkap dalam koridor NKRI dengan Pancasila sebagai basis filosofisnya. Ummat Islam dituntut mampu dalam mengkontribusikan nilai-nilai keislaman secara demokratis guna maslahat khalayak. Seperti misalnya, dalam memahamkan syariat pada masyarakat. Tidak hanya non-Muslim, namun Ummat Islam sendiri pun banyak yang keliru kaprah atas implementasi syariat. Pun dalam diskursus agama di ruang publik. Masih dapat kita temukan adanya pergulatan yang didasari kesalahapamahan remeh dan di situlah, ‘penerjemahan agama’ berdasarkan pandangan hidup (worldview) Islam diperlukan untuk dilaksanakan oleh setiap Muslim. Prof. Salah Basalamah menulis, “Translating Islam for/into Modernity and Secularism is not an option, it’s a citizen duty for every person who wants the best interest of the greatest number.” Tujuan mulia ini tentu saja tidak mampu dicapai kecuali melewati proses thalabul’ ilm yang maksimal, dan kesemuanya itu dimulai dari UNIDA Gontor. Thank you Prof. Salah Basalamah! We will be waiting for you again in Our University! (RM)

Assoc. Prof Salah Basalamah berphoto bersama Wakil Rektor UNIDA Gontor, al-Ustadz Dr. Hafidz Zaid, M.A, dan Civitas Akademika UNIDA Gontor
Assoc. Prof Salah Basalamah berphoto bersama Wakil Rektor UNIDA Gontor, al-Ustadz Dr. Hafidz Zaid, M.A, dan Civitas Akademika UNIDA Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *