Nilai Karakteristik di STAHN Mataram

spl-stahn-unida-saa-studi-agam-agama-unida-gontor

STAHN Mataram, Nusa Tenggara Barat

Jum’at, 6 September 2019

Setelah mengunjungi Gereja Katholik, peserta SPL Prodi SAA juga belajar mengenai pembangunan karakter di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Gde Pudja di Mataram.

Kunjungan ini disambut hangat oleh Ketua STAHN, yakni Bapak Dr. I Nyoman Wijana, S.OS, M.Si, M.Pd dan dihadiri oleh segenap dosen-dosen yang ada disana. Yang menarik adalah bahwa tidak semua dosen di STAHN ini dalam menganut Agama Hindu, melainkan ada yang beragama Kristen, bahkan Islam.  Bapak Ketua STAHN pun menyampaikan salam untuk umat Hindu sendiri, umat Kristian, dan terakhir Islam. “Untuk tidak mengurangi rasa toleransi kami, maka kami sudah terbiasa dengan mengucapkan salam yang kami haturkan kepada semua Agama.” Tukas beliau saat sambutan pertamanya.

Sejarah Singkat STAHN

STAHN ini berdiri pada tahun 2001 pada masa pemerintahan Presiden yang keempat, KH. Prof. Dr. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Sebelum menjadi STAHN, kampus ini merupakan sekolah Agama atau serupa dengan Pendidikan Guru Agama (PGA) Hindu, dan juga PGA Islam.

Diumur yang ke-18, STAHN sudah mulai berkembang dan memperbanyak program studi. “Sejak berdirinya, sekolah ini pada awalnya sudah merilis empat program studi, diantaranya: Pendidikan Agama Hindu, Penerangan Agama Hindu, Filsafat Agama Hindu, dan Hukum Agama Hindu. Seiring berpurtarnya bumi pada porosnya, maka STAHN ini kemudian dapat menambah prodinya sebanyak lima prodi, yakni: Pendidikan Guru PAUD, Pendidikan Seni dan Budaya, Ekonomi Hindu, dan adapula Pascasarjana baik di bidang Ilmu Komunikasi dan juga Pendidikan Agama Hindu”. Ulas Dr. I Nyoman.

Al- Ustadz Nurrasyid Huda Setiawan, MIRKH dengan Dr. I Nyoman Wijana, S.OS, M.Si, M.Pd
Cinderamata –  Pembimbing Studi Pengayaan Lapangan, Al- Ustadz Nurrosyid Huda Setiawan, MIRKH (kanan) bertukar cinderamata dengan Bapak Ketua STAHN Gde Pudja, Dr. I Nyoman Wijana, S.OS, M.Si, M.Pd

Menjunjung Nilai Karakteristik di STAHN

Sesuai dengan motto STAHN yakni “Build Excellent Character”, maka STAHN ini sangat memperhatikan dan menjunjung tinggi perihal karakteristik. Bagi beliau, bagaimanapun nilai intelektual seseorang belum lengkap apabila nilai karakteristiknya kurang.

Adapun aspek-aspek yang dinyatakan sebagai pencapaian kebebasan dan kebahagiaan hidup dikenal dengan istilah Tri  Kaya Parisudha atau ‘tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan’. Ketiganya mencakup manusia harus berpikir yang bersih dan suci (Manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Dengan ketiga aspek ini, maka manusia akan menjadi bebas dari sengketa dan ikatan reinkarnasinya. Berdasarkan inilah kemudian, motto STAHN terbentuk. Tidak hanya itu, Dr. I Nyoman Wijaya juga memaparkan bahwasannya dengan itulah, Hindu bisa dihitung sebagai Agama yang menonjolkan segi filosofisnya dibanding segi hukumnya.

Reinkarnasi Perspektif Hindu

Materi di STAHN juga membahas mengenai reinkarnasi. Secara teologis, reinkarnasi adalah roh dari sebuah jasad yang kembali lagi dalam bentuk sesuai dengan apa yang ia perbuat. Dr. I Nyoman Wijana, memberikan definisi bahwa ‘reinkarnasi’ adalah “Barangsiapa yang berbuat baik pada masa hidupnya, maka ia dapat menyelamatkan kehidupannya dengan menjelma kepada manusia lain yang lahir”. Sedangkan barangsiapa yang berbuat buruk semasa hidupnya, maka sudah jelas dimana pula roh nya akan menjelma, baik itu akan menjadi hewan melata, ataupun hal lain yang buruk rupanya, sesuai dengan seberapa jahat perbuatannya.

“Cara mengetahui proses reinkarnasi, karena setiap perbuatan baik atau buruk kita, akan direkam oleh alat yang ada di tubuh kita. Jika kita telah merasa perbuatan jahat itu mendominasi kita, maka roh itu akan pergi ke neraka dengan daya tarik bumi yang mana mau tidak mau akan mendorong kita ke dalamnya. Sedangkan yang berbuat baik, rohnya akan pergi ke surga, dan kembali lahir disebabkan oleh daya tarik bumi pula.” Begitu beliau menjelaskan.

Dr. I Nyoman Wijaya juga menyampaikan, bahwa roh itu akan berlabuh pada komunitas orang suci. Apabila komunitas suci itu ada yang tidak lahir (tidak mengalami reinkarnasi), itu disebabkan ketika didunia sudah mengalami pembebasan. “Dengan adanya reinkarnasi, manusia sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya”. Tutur beliau sebelum menutup materi yang disampaikan. (Nadya Amaliyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *