Metode Antropologi dalam Ilmu Perbandingan Agama

Oleh: Dimas Prihambodo

Latar Belakang Masalah

Antropologi dipandang sebagai metode yang tepat dalam studi agama. Kemunculan metode ini, seolah membuka ruang terhadap studi agama untuk mengepakkan sayapnya. Apabila jika kita lihat dalam sejarah perkembangan keilmuwan khususnya di barat, ilmu studi agama termasuk yang masih muda. Hal demikian disebabkan karena para ilmuwan barat memandang studi agama adalah suatu hal yang tidak mungkin dan kurang diminati. Namun semenjak abad ke-19 ilmu ini mulai memiliki posisinya dikarenakan pengaruh yang ditimbulkan oleh teori evolusionistik. Begitu juga dengan metode antropologi yang menambah beri bumbu dalam perkembangan ilmu ini, karena bila kita sadari bahwa ilmu antropologi juga mendapatkan pengaruh dari teori evolusionistik. Namun sebelum mencapai kepemahaman akan pentingnya ilmu ini, alangkah baiknya di mulai dengan pemahaman akan definisi dan sejarah perkembangan ilmu ini.

 

Definisi Antropologi

Salah satu sifat Antropologi adalah holistik atau menyeluruh, oleh demikian cakupan ilmu ini sangat luas. Secara bahasa Antropologi, terdiri dari dua kata; yaitu Anthropos yang artinya manusia dan logos yang artinya ilmu, kedua ilmu itu diambil dari bahasa Yunani. Jadi secara istilah adalah ilmu yang membahas tentang manusia dan masyarakatnya, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup, beserta perkembangan manusia serta asal-usulnya yang ditelusuri hingga masa lampau.[1] Antropologi adalah satu cabang ilmu pengetahunan sosial yang mengkaji hubungan manusia dengan kebudayaan seperti: kehidupan, ilmu, peradaban, bahasa, dan masyarakat.[2]

Menurut R. Benedict dalam bukunya yang berjudul Patterns of culture yang diterbitkan di London pada tahun 1995, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari sifat khusus jasmani dan cara produksi manusia serta tradisi sdan nilai-nilai tumbuh dan berkembang sebagai makhluk masyarakat.[3]

Secara istilah ilmu ini memiliki arti yang bermacam-macam. Ada yang mengartikan sebagai ilmu yang membahas tentang proses evolusi manusia dari manusia primitif hingga manusia modern, ada yang mengartikan sebagai ilmu yang membahas tentang berbagai keragamaan manusia secara fisik. Definisi lainya, sebagai ilmu yang mengkaji tentang benda-benda fisik (kebudayaan meterial) yang pernah digunakan manusia pada masa lampau. Dari proses pengkajian tersebut akan mengantarkan peneliti kepada pemahaman tentang kebudayaan manusia pada masa lampau. Tentang bagaimana benda ini dibuat, atas dasar apa benda ini dibuat, dengan apa benda ini dibuat, dan bagaimana perubahan yang terjadi pada masa itu. Selain itu ada yang mendefinisikannya sebagai ilmu yang membahas tentang perilaku sosial, seperti hubungan masyarakat dengan mata pencaharian (sistem ekonomi), sistem organisasi sosial (keluarga, klan, kekerabatan, perkumpulan, asosiasi), sistem religi (ritual, agama, dan kepercayaan), berbahasa, kesenian, serta perlengkapan hidup lainnya.[4]

Beragam definisi diatas merupakan pengertian dari Antropologi, namun masih bersifat parsial. Hal demikian terjadi karena sifat Antorpologi yang holistik sehingga definisi diatas hanya mengartikan sebagian kecil dari definisi Antropologi. Secara umum Antropologi adalah ilmu yang mengkaji, menganalisa, mendeskripsikan manusia secara menyeluruh. Menurut Claude Levi-Strauss,”Antorpologi itu menempatkan manusia sebagai objek penelitian. Walaupun demikian Antropologi memiliki perbedaan dengan ilmu sosial lainnya. Perbedaan terletak dari kajian Antorpologi yang luas terhadap manusia.[5]

 

Fase-Fase Perkembangan Ilmu Antropologi

Ilmu Antropologi merupakan suatu sistem ilmu yang terdiri dari berbagai metode yang saling membangun mengembangkan ilmu tersebut. Antropologi bukanlah ilmu yang tiba-tiba jadi tanpa melewati sebauh proses. Prosesnya pun berangsur-angsur, melewati fase demi fase untuk mencapai puncak keilmuwannya. Ilmu ini pertama kali muncul dari Peradaban Barat. Namun, jika kita melihat jauh ke-abad sebelumnya. Herodatus, seorang ahli sejarah Yunani melakukan perjalanan ilmiah selama bertahun-tahun di Asia, Mesir  dan Yunani. Dalam perjalannya ia berhasil menulis gambaran terperinci tentag pakaian, panen, etiket dan ritual dari orang-orang yang ia jumpai. Kemudian seorang ulama muslim bernama Ibn Khaldun, seorang ahli politik dan sejarah yang tinggal di Aljazair. Selama di sana, beliau berhasil menulis sebuah karya ilmiah yang di dalamnya berisi tentang masyarakat di Aljazair.  Hasilnya, Ibn Khaldun mengelompokkan masyarakat tersebut menjadi dua kelompok besar, yaitu: Suku Bedouin yang identik dengan sifatnya yang liar, nomaden, serta agresif, kemudian masyarakat kota yang identik dengan sifat berpendidikan, memiliki tempat tinggal yang tetap dan bercocol tanam.[6]

Sehingga pada nantinya fase-fase dan tokoh pelopornya akan lebih identik dengan Barat dan Tokoh Barat. Makalah ini berusaha untuk menjelaskan fase perkembangan ilmu ini secara komperhensif. Namun penjelasan ini bukanlah yang paling final, sehingga pada nantinya mungkin terjadi perbedaan dengan penjelasan yang lainnya. Pemakalah membagi perkembangan ilmu ini menjadi 5 fase;[7]

Fase pertama terjadi sekitar abad ke-15 dan 16, yaitu ketika Barat mencapai jaman renainsans. Revolusi terjadi di berbagai negara di Eropa yang diawali dengan Revolusi Perancis. Revolusi tersebut terjadi begitu cepat dan luas meliputi segala aspek kehidupan, seperti Revolusi ke-ilmuwan dan Revolusi Industri. Disamping itu, terjadi ekspansi-ekspansi besar-besaran ke negara di laur Eropa. Ekspansi tersebut membuat perjumpaan bangsa Eropa dengan budaya lain yang tidak pernah mereka jumpai di negaranya masing-masing. Kemudian muncul setelahnya berbagai macam tulisannya, seperti: buku-buku kisah perjalanan, laporan, dan sebagainya, yang ditulis oleh para pelaut, ilmuwan, pendeta, dan lain-lain. Dalam buku-buku itu termuat pula suatu himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa deskripstif tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik  dari beraneka ragam suku-bangsa di Afrika, Asia, Oseania (yaitu kepulauan di lautan teduh), dan suku-suku bangsa indian (penduduk asli Amerika).[8]

Lalu pada akhir abad ke-16, Michael De Montaige seorang sarjana Perancis berusaha memadukan pengetahuannya dengan karya-karya penulis klasik seperti Xenophanen, Lucterius dan Virgil sebagai penolakan terhadap pemakaian kata “Barbar” dan “Biadab” kepada masyarakat selain mereka. Kemudian pada tahun 1651, seorang penulis Inggris bernama Hobbes, menulis bahwa manusia dalam kondisinya yang alamiah, tanpa organisasi politik merupakan makhluk yang pada dasarnya egois dan kejam. Ia menganggap masyarakat Indian Amerika sangat dekat dengan tingkatan kehidupan seperti ini, dimana kehidupan mansuia diaanggap miskin, kejam, pendek dan ganas. Sebagai tandingan dari pandangan tersebut, muncul karya-karya Jeans-Jacques Roussau yang mengkaitkan kebahagian dengan kehidupan di tengah alam, bebas dari pengaruh buruk duniawi. Menurutnya kehidupan selaras dengan gagasan injil tentang kondisi suci umat manusia sebelum jatuh dari kemuliaan.[9]

Puncak fase pertama pada abad ke`18 dimana mulai diminati oleh ilmuwan Barat. Setidaknya ada tiga sikap Barat terhadap kebudayaan diluar Eropa sebagai hasil dari pergulatan dalam ilmu ini, diantaranya:[10]

  1. Sebagian orang Barat memandang buruk perilaku dan budaya bangsa-bangsa diluar Eropa. Barat mengganggap mereka bukan manusia, melainkan iblis, manusia liar dan sebagainya. Setelahnya muncul istilah-istilah yang dipakai barat untuk menyebut mereka, seperti: savages dan primitives.
  2. Sebagian orang Barat memandang baik perilaku dan budaya bangsa- bangsa diluar Eropa. Mereka mengatakan, bahwa masyarakat tersebut merupakan contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum tersentuh dengan perilaku buruk seperti masyarakat modern.
  3. Sebagian yang lainnya tertarik dengan kebudayan bangsa-bangsa diluar Eropa. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya pengumpulan barang-barang kuno dan tulisan-tulisan yang berisi adat-istiadat dan dihimpun dalam sebuah museum.

Fase kedua muncul sekitar pertengahan abad ke-19. Pada abad ini penelitian Antropologi tidak dilakukan secara acak atau tanpa tujuan yang pasti seperti sebelumya. Pada abad ini, sudah dimulai dilakukan integrasi dari berbagai etnografi yang telah terkumpul pada abad sebelumnya. Sehingga ilmu sudah mendapatkan tempatnya pada kegiatan akademisi. Pada fase ini, Antropologi memiliki tujuan untuk mencari persamaan asas kebudayaan manusia yang dapat ditemukan pada bangsa lain.[11]

Pada tahun 1897, Kongres Amerika membentuk Biro Etnologi atas bujukan John Powel untuk membuktikan anggapan yang salah terhadap suku  Indian di Amerika. Di samping itu, tujuan lainya adalah untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam membantu masyarakat Indian berasimilasi dengan masyarakat Amerika kota. Lalu pada tahun 1898, sebuah ekspedisi dikirim ke Selat Torres dan Universitas Cambridge di Inggris untuk melakukan penelitian antropologi di sana. Ekspedidi itu dipimpin oleh Alfred Haddon, seorang kurator musuem, ahli zooologi, dan pakar hewan tropis, atas dasar keprihatinannya dengan kebudayaan bangsa melanesia yang mulai pudar.[12]

Pada permulaan abad ke-20, antropologi mencapai fase ketiga. Pada saat itu, sebahagian negara-negara Eropa telah berhasil mencapai masa kejayaannya dengan menjajah daerah-daerah lain diluar Eropa. Pada fase ini, antropologi mempunyai tujuan baru, yaitu tujuan praktis. Ilmu ini digunakan oleh negara-negara eropa sebagai senjata dalam menaklukan daerah jajahannya. Dengan mengenali adat-istiadat, bahasa, warna kulit, cara makan dan lingkungan, memudahkan penjajah dalam urusannya. Sehingga ilmu antropologi mendapatkan posisi baru dalam kehidupan masyarakat.[13]

Fase keempat terjadi sekitar pada tahun 1930, dimana ilmu ini memiliki kemajuan yang pesat. Ilmu Antropologi mengalami perkembangannya yang luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Namun pada awal fase ini sempat mengalami kemunduran,  disebabkan perubahan tatanan kehidupan kala itu. Ada dua faktor yang menyebabkannya, diantaranya: (1) Timbulnya rasa anti terhadap Barat semenjak perang dunia II usai (2) Menghilangnya bangsa primitif di berbagai bangsa di luar Eropa (dalam arti bagsa-bangsa asli dan terpencil) semenjak tahun 1930 atau setelah perang dunia II. Hal demikian sempat menyebabkan ilmu ini kehilangan lahan penelitiannya, sehingga ilmu mengalami kebingungan dalam mempertahankan posisinya. Namun ilmu ini berhasil bertahan dalam masa itu dan tampil dengan tujuan baru. Semenjak itu, antropologi tidak lagi mengkaji tentang bangsa primitf, namun mulai mengkaji masyarakat perdesaan yang ditinjau dari fisiknya, sistem masyarakat, serta budayanya. Setidaknya pada fase ini ilmu Antropologi mempunyai dua tujuan, yaitu:

  1. Tujuan akademika, yaitu untuk mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisik, masyarakat, serta kebudayaan.
  2. Tujuan praktis, yaitu untuk mempelajari manusia dalam anekawarna masyarakat suku-bangsa guna membangun masyarakat suku-bangsa.[14]

 

Antropologi Masa Kini dan Pembagiannya

Ilmu Antropologi pada akhir abad ke-20 dan abad ke-21 menjejaki wajah yang berbeda. Wajah baru ini memiliki perbedaan pada setiap negara, tergantung kepada tujuan dan ruang lingkupnya disebabkan sifatnya yang komplek dan holistik. Sehingga sampai saat ini, masih terjadi perbedaan di kalangan para ilmuwan tentang ilmu ini. Perbedaan ini dapat kita lihat di berbagai universitas di mana ilmu ini berkembang, seperti: Amerika, Inggris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Uni Soviet dan negara berkembang lainnya.[15]

Di Amerika Serikat, ilmu Antropologi mengalami perkembangan yang pesat. Ilmu ini telah mencapai kepada fase keempat disebabkan berhasilnya proses integrasi dari seluruh warisan bahan dan metode dari ilmu antropologi pada fase pertama, kedua dan ketiga. Di Inggris, ilmu ini baru mencapai perkembangannya pada fase ketiga. Hal tersebut disebabkan telah lepasnya daerah-daerah jajahan dari tangan Inggirs, maka ilmu ini pun semakin menjauh dari posisinya.[16]

Sekitar 15 tahun yang lalu, Ilmu Antropologi di Eropa Tengah seperti Jerman, Austria dan Swiss masih mencapai pada fase kedua. Ilmu ini masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa untuk mencapai perngertian tentang sejarah penyebaran dari kebudayaan-kebudayaan dari seluruh umat manusia di muka bumi. Namun pada saat ini, ilmu ini sudah mengalami perkembangan disebabkan pengaruh dari ilmu Antropologi Amerika. Di negara Skandivania (Eropa Utara), ilmu telah bersifat akademikal. Mereka berusaha mempelajari banyak daerah di benua-benua di luar Eropa yang puncaknya penelitian tentang bangsa Eskimo. Di Uni Soviet, perkembangan Ilmu antropologi tidak banyak di ketahui oleh dunia luar dikarenakan sikapnya yang mengisolasi diri dari dunia luar. Namun semenjak tahun 1960 dikatahui bahwa perkembangan ilmu antropologi mengalami kemajuan yang pesat. Ilmu ini digunakan sebagai alat dalam mengembangkan sikap toleransin antara suku-suku bangsa yang beragam. Selain itu, terbit pula berbagai macam buku antropologi, yang puncaknya terbitlah sebuah buku yang berjudul Narody Mira yang merupakan  ikhtisar tentang kebudayaan suku-suku bangsa di sana.[17]

Dari segi istilah pun terjadi perbedaan dikalangan para ilmuwan sehingga menyebabkan perbedaan posisi dan pembagian ilmu ini. Ada yang menyebutnya Etnografy, Ethnology, Volkerkunde, Kulturkunde, Antroplologi, Cultural Anthropology, dan Social Anthropology. Ethnografy di pakai oleh Eropa Barat untuk bahan keterangan yang tertulis dalam karangan tentang masyarakat di luar Eropa. Ethonology di pakai oleh Amerika dan Inggris untuk menyebut bagian dari antropologi yang membahas tentang sejarah perkebangan kebudayaan manusia. Vorkerkunde memiliki pengetian yang sama dengan ethnofrafy. Istilah ini dipakai di kawasan Eropa Tengah. Kulturkunde berarti ilmu kebudayaan. Istilah ini dipakai oleh seorang sarjana Jerman bernama L. Fronbenius yang digunakan untuk menyebut pengertian yang sama dengan ethnografy. Antropologi berarti ilmu tentang ilmu manusia. Pada jaman dulu, ilmu di gunakan untuk menyebut suatu kajian tetang manusia dari segi fisik. Cultural anthropology pertama kali dipakai di Amerika. Namun kemudian istilah ini dipakai oleh negara-negara lain untuk menyebut kajian tentang manusia selain dimensi fisik. Lalu Social Antropology di pakai oleh Inggris untuk menyebut antropologi dalam fase ketiga.[18]

Sedemikian banyaknya istilah untuk menyebutkan  ilmu ini, sehingga pada nantinya pun pembagian ilmu ini begitu banyak dan belum ada kesepakatan diantara para ilmuwan. Namun, setidaknya berusaha untuk mengunggkapkan beberapa pembagian Ilmu Antropologi, diantaranya:

  1. Antropologi fisik, adalah studi antropologi yang mengkaji manusia sebagai makhluk biologi. Studi ini berusaha mengkaji asal-usul manusia, perkembangan manusia, struktur tubuh dan perbedaan ras. Pada kajiannya di Barat, studi ini berusaha memahami asal-usul manusia.[19] Menurut mereka, nenek moyang manusia adalah Homonid yang memiliki persamaan jenis dengan homonide dan homo sapiens. Pada kajian  awal antropologi, ini berusaha mengkaji manusia dari warna kulit sehingga menimbulkan dikotomi ras.[20] kemudian muncul lagi di bawahnya cabang lain seperti: Palaeontologi Primat, evolusi manusia, antropometri manusia, somatologi, antropologi rasial, studi perbandingan tentang pertubuhan organik dan antropologi konstitusional.[21]
  2. Arkeologi, adalah studi perkembangan pada saat manusia belum mengenal tulisan.[22] Studi ini menggunakan data yang berupa benda peninggalan atau dari situs pemukiman masyarakat pada masau lampau. Para ilmuwan antropologi Amerika memasukkan studi ini sebagai bagian dari antropologi.[23]
  3. Antropologi Linguistik, adalah studi manusia dari sisi kebahasanaan. Studi ini memandang bahasa sebagai hal yang penting, sehingga terdapat kajian khusus terhadaptnya. Para antropolog tertarik dengan bagaimana penggunaan bahasa dalam sebuah konteks tertentu bisa menjelaskan tentang hubungan sosial atau politik di sana.[24]
  4. Antropologi Sosial dan Budaya, adalah studi tetang bagaimana manusia prose perkembangan budaya manusia serta asal-usulnya.[25] Dalam kajian sosial, antropologi berusaha mengkaji tentang organisasi sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.[26]

 

Antropologi Sebagai Metode Ilmu Perbandingan Agama

Telah disampaikan di atas tentang sifat antropologi yang holistik. Sehingga pada perkembangannya ilmu antropologi dijadikan metode dalam pengembangan keilmuwan lainnya. Dalam ilmu bahasa, budaya, sosial, atropologi dijadikan untuk mengungkap realitas kebenaran dan tidak lupa dibindang di bidang agama. Akhirnya muncul setelahnya cabang keilmuwan dibawah antropologi seperti: Antropologi agama, antropologi bahasa, antropologi budaya dan lain-lain.

Antropologi sebagai metode kajian agama telah berhasil menciptakan  sebuah cabang baru di bawah Antropologi. Di Barat ilmu tersebut disebut Antropology of Relegion. Antropologi memandang agama sebagai aspek yang memilili peran dalam proses kehidupan manusia, sehingga diperlukan kajian terhadapnya. Ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu: (1) bahasa (2) sistem pengetahuan (3) organisasi sosial (4) sistem hidup (5) sistem mata pencahariam (6) sistem religi (7) keseniam.[27]

Prof Harsojo juga mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Pengantar Antropologi. Setidaknya ada 5 aspek-aspek kebudayaan, diantaranya: (1) teknologi dan kebudayaan material (2) Mata pencaharian hidup (3) organisasi sosial (4) religi (5) ksesenian.[28]

Kebudayaan adalah keseluruhan dari kehidupan manusia yang diwariskan yang terpola dan di dapatkan dari proses berpikir terhadap alam, lalu kemudian di wariskan secara turun temurun.[29] Dari situ kita pahami, bahwa wajar saja bila antropologi mengkaji agama sehingga menjadikannya sebagai metode dalam studi agama. Namum, pemahaman ini tidak menjadikan agama bagian dari kebudayaan yang pada nantinya menibulkan agama budaya atau human creation, human made sebagai mana Barat memandang agama.[30] Agama di pandang sebagai ekspresi simbolis dari kehidupan manusia yang dengannya manusia menafsirkan dirinya dan alam. Berbeda dengan masyarakat agamis, budaya di pandang sebagai hasil dari agama. Agama lah yang melahirkan budaya. Hal demikian terjadi karena metode antropologi berasal dari barat, sehingga diperlukan ulasan-ulasan mengapa metode tersebut dapat digunakan dalam studi agama.  Barat memandang agama sebagai bagian dari kebudayaan, kebudayaan lah yang menghasilkan agama.[31]

 

Pendekatan Antropologi dalam Ilmu Perbandingan Agama

Pendekatan antropologi berbeda dengan pendekatan yang dilakukan dengan ilmu sosial. Walaupun dalam banyak hal antropologi sering dipersamakan dengan sosiologi. Sosiologi dalam studinya menggunakan metode sebab dan akibat dalam memecahkan masalah. Dalam memulai studinya sosiologi selalu didahului dengan apa yang menyebahkan masalah tersebut. Kemudian dilanjutkan, apa dampak yang ditimbulkan dari penyebab tersebut. Barulah kemudian di tarik sebuat kesimpulan yang pada nantinya dijadikan sebuat teori sosiologi. Hal demikian berbeda dengan antropologi yang melakukan pendekatan humanistik. Antropologi berusaha memahami gejala tersebut dari perilaku si pelaku yang memiliki gagasan, inisatif, keyakinan dan memiliki hubungan dengan sekelilingnya.[32]

Pada perkembangannya, Antropologi dalam studinya tentang keagamaan berusaha untuk mengungkap realitas mengapa manusia beragama? Mengapa manusia memerlukan sesuatu yang supranatural untuk diyakini? Mengapa manusia melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang disebut beribadah? Mengapa manusia yang satu memiliki sistem religi yang berbeda-beda? Bagaimana bisa sistem religi mengalami perkembangan?. Kemudian pertanyaan senada di ungkapkan oleh Geertz, ia bertanya apa sebabnya manusia dipengaruhi oleh simbol-simbol agama? Semua pertanyaan tersebut merupakan usaha dalam mengungkapkan realitas agama.[33]

Pendekatan sosiologi yang menggunakan pendekatan kuantitatif bersifat positivistik. Yaitu objektivitas penelitian apabila bisa terukur, terindra dan empiris. Sehingga pada hasilnya berbentuk angka-angka yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah teori. Peneliti pada studinya harus menjaga jarak dengan agama yang diteliti atau biasa di sebut outside. Berbeda dengan antropologi yang menggunakan pendekatan kualitatif sehingga bersifat fenomenologis. Suatu gejala agama di ungkapkan sebagaimana orang beragama pahami dan meninggalkan segala yang bersifat prasangka atau subjektif. Maka pada studinya, peneliti harus terjun dan berpartisipasi atau disebut inside.[34]

Berbeda dengan sosiologi yang menggunakan metode kuantitatif dan memandang gejala agama sebagai sains. Sehingga pada studinya metode ini berusaha memahami gejala agama dalam teori yang mengungkapkan hubungan sebab akibat atau hubungan variabel dependen dan variabel independen. Antropologi menggunakan metode kualitatif sehingga dalam studinya pelaku menggunakan metode wawancara terhadap objek. Hasilnya pun dapat objektif, karena gejala agama bukan seperti sains yang dapat diubah menjadi angka dalam penelitiannya.[35]

Menurut Hilman Hadikusuma, terdapat 4 metode yang digunakan antropologi dalam mengkaji agama, diataranya:[36]

  1. Metode Historis, adalah metode studi agama dengan menelusuri asal-usul agama dan mengumpulkan data sejarah
  2. Metode Normatif, adalah metode studi agama dengan mengkaji norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yang beragama.
  3. Metode Deskriptif, adalah dengan mencatat, merekam dan memerhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama.
  4. Metode Empirik, adalah memerhatikan segala sesuatu dipikirkan, diyakini, dirasakan dan dilakukan oleh masyarakat agama.

Clifford Geerzt, seorang tokoh antropologi menulis sebuah esai yang berjudul Think Description: to Word an Interpretatif Theory of Culture sebagai pengantar bagi karangan sebelum-sebelumnya. Di dalam bukunya dijelaskan bahwa untuk memahami kebudayaan (termasuk agama) suatu masyarakat harus dengan pendekatan dari dalam (inside) dan bukan dari luar (outside).[37] Geerzt beranggapan bahwa agama terdiri dari simbol-simbol yang saling berkaitan dan bersifat komplek, pada setiap simbol memiliki makna-makna yang merangkai menjadi sebuah kesimpulan, maka tidak cara yang tepat selain dengan melukiskan secara mendalam. Yaitu mencari makna, menemukan  apa yang sesungguhnya maksud dibalik simbol tersebut kemudian dilukiskan secara mendalam tidak saja pada apa yang secara aktual terjadi, tetapi bagaimana pemahaman seseorang tentang simbol-simbol dalam agama.[38]

Menurut Geerzt, agama adalah satu sistem simbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seorang dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah tatanan umum eksistensi dan melekarkan konsepsi ini kepada pancaran-pancaran faktual, dan pada akhirnya perasaan dan memotivasi in akan terlihat sebagai suatu realitas yang unik.[39]

Menurut Drs. Romdon MA, terdapat tiga aliran yang dipakai antropologi dalam studi agama, diantaranya:[40]

  1. Aliran Fungsional yang dipelopori oleh Brosnilaw Kacper Malinowski (1884-1942). Aliran ini beranggapan bahwa segala aspek kebudayaan termasuk keagamaan itu mempunyai fungsi dalam kaitannya dengan aspek lain sebagai kesatuan, dan juga berkeyakinan bahwa organisasi-organisasi demikian tidak sia-sia, bahkan mempunyai fungsi-fungsi yang vital dalam masyarakat. Molinoswki dalam studinya kurang mempercayai dan tidak mencukupkan informasi-informasi lisan dari orang-orang yang diinterviu, ia terjun ke lapangan dan membuat pemahaman sendiri.
  2. Aliran Historis, dipelopori oleh E.E. Evans Pritchard (1902-1973). Aliran ini menggunakan metode heurmenetika dalam metode antropologinya. Dalam melakukan studinya Evans melakukan participant observation dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang di teliti, mencoba berpikir seperti mereka, dan selalu menerjemahkan objeknya ke dalam bahasanya sendiri dengan berusaha memahami kemungkin-kemungkinan terjemahan yang paling mendekati.
  3. Aliran Struktural, dipelopori oleh Claude Levi Strauss (1908-1975). Aliran ini berbeda denga aliran sebelumnya yang melakukan participant observation. Aliran ini bersifat distansi, yaitu menjaga jarak dengan objek.

 

Refensi:

  • Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi”. Diterjemahkan dari Simon Colemenand Helen Watson, An Introduction to Antropology. Penerbit Nuansa, Bandung: 2005.
  • Sutardi, Tedi “Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya, untuk Kelas XI SMA/Madrasah Aliyah”. Pt Setia Purna Inves, Bandung: 2007.
  • Harsojo “Pengantar Antropologi” Penerbit Binacipta, Bandung, Cetakan ke-7: 1998.
  • Pujileksono, Sugeng. “Pengantar Antropologi, Memahami Realitas Sosial Budaya”. Intrans Publishing, Malang: Cetakan ke-2: 2016.
  • Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi”. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta: 1990.
  • Agus, Bustani “Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama”. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2006.
  • Connoly, Petter “Aneka Pendekatan Studi Agama” LkiS Printing Cemerlang, Yogyakarta, Cetakan ke-3: 2011.
  • Pals, Daniel L “Seven Theories of Relegion” IRCiSod, Yogyakarta: 2012.
  • Romodon “Metodologi Ilmu Perbadingan Agama” PT Raja Grafindo Persada,Jakarta: 1996

 

Catatan Kaki

[1] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi”. Diterjemahkan dari Simon Colemenand Helen Watson, An Introduction to Antropology. Penerbit Nuansa, Bandung: 2005. Hal: 8

[2]Sutardi, Tedi “Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya, untuk Kelas XI SMA/Madrasah Aliyah”. Pt Setia Purna Inves, Bandung: 2007. Hal: 4

[3] Harsojo “Pengantar Antropologi” Penerbit Binacipta, Bandung, Cetakan ke-7: 1998. Hal: 1

[4] Pujileksono, Sugeng. “Pengantar Antropologi, Memahami Realitas Sosial Budaya”. Intrans Publishing, Malang: Cetakan ke-2: 2016. Hal: 2-6

[5] Ibid. Hal: 6

[6] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 24-26

[7] Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi”. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta: 1990. Hal: 1

[8] Ibid. Hal: 1

[9] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 26

[10] Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi…Hal: 2

[11] Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi… Hal: 3-4

[12] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 32-33

[13] Koentjaraningrat “Pengantar Ilmu Antropologi… Hal: 4

[14] Ibid. Hal: 5-6

[15] Ibid. Hal: 6-7

[16] Ibid. Hal: 7

[17] Ibid. Hal: 7-8

[18] Ibid. Hal: 10-12

[19] Harsojo “Pengantar Antropologi…Hal: 3-4

[20] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 9

[21] Harsojo “Pengantar Antropologi…Hal: 4

[22] Ibid. Hal: 8

[23] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 10

[24] Ibid. Hal: 10

[25] Harsojo “Pengantar Antropologi…Hal: 6

[26] Coleman, Simon & Watson, Helen “Pengantar Antropologi…Hal: 10

[27] Sutardi, Tedi “Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya, untuk Kelas XI SMA/Madrasah Aliyah…Hal: 35

[28] Harsojo “Pengantar Antropologi…Hal: 199

[29] Agus, Bustani “Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama”. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2006. Hal: 35

[30] Ibid. Hal: 15

[31] Ibid. Hal: 32-38

[32] Ibid. Hal: 21

[33] Pujileksono, Sugeng “Pengantar Antropologi, Memahami Realitas Sosial Budaya” Instrans Publising, Malang, Cetakan ke-2: 2016. Hal: 85-86

[34] Agus, Bustani “Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama…Hal: 14

[35] Ibid. Hal: 13

[36] Ibid. Hal: 22

[37] Connoly, Petter “Aneka Pendekatan Studi Agama” LkiS Printing Cemerlang, Yogyakarta, Cetakan ke-3: 2011. Hal: 46

[38] Pals, Daniel L “Seven Theories of Relegion” IRCiSod, Yogyakarta: 2012. Hal: 337-338

[39] Ibid. Hal: 342

[40] Romodon “Metodologi Ilmu Perbadingan Agama” PT Raja Grafindo Persada,Jakarta: 1996. Hal: 125-132.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *