Metode Psikologi dalam Ilmu Perbandingan Agama

Oleh: Dimas Prihambodo

Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Sejarah Barat menunjukan perkembangan Psikologi Agama di barat sejak abad ke-19. Psikologi digunakan sebagai metode dalam memahami fenomena keagamaan berupa; sikap, pola pemikiran, tradisi dan lain-lain. Namun jauh sebelum itu, didalam Agama Budha telah muncul Sidharta Ghautama yang bergelut dibidang kebatinan. Sebelumnya ia merupakan seorang putra dari seorang raja Kapilawestu. Ia bersedia meninggalkan kemegahan dan kenikmatan dunia dan beralih kepada meditasi dan peningkatan kebatinan.[1]

Menurut Thoeles, sejarah perkembangan Psikologi Agama ditandai dengan terbinya sebuah buku yang berjudul The Varietes of Relegion Experience pada tahun 1903, yang merupakan kumpulan materi kuliah William James di empat universitas di Skotlandia. Semenjak itu Psikologi Agama mulai menapaki jejak baru dan diteruskan dengan terbit berbagai karangan dan buku yang membahasnya setelah 30 tahun semenjak itu.[2]

Diantara buku-buku tersebut adalah The Psychology of Relegion karangan E.D Sturbuck yang mendahului karangan William James. Kemudian disusul setelahnya The Spiritual Life oleh George Albert Coe pada tahun 1900, kemudian The Belief in God and Immortality pada tahun 1921 oleh J.H Leuba dan Robert H. Thouless dengan judul An Introduction to the Psychology of  Religion pada tahun 1923, serta Nicholshon yang khusus mempelajari tentang sufisme dalam islam dengan bukunya Studies in Islamic Mystisctism pada tahun 1921.[3]

Sejak itu kajian-kajian tampaknya kajian Agama dengan menggunakan metode psikologi tidak berbatas pada masalah kehidupan beragama. Melainkan meluas kepada masalah yang bersifat khusus. Seperti J.B. Pratt, misalnya mengkaji mengenai kesadaran beragama melalui bukunya The Relegious Connsciousness (1920) Dame Julian yang mengkaji tentang konsep wahyu dengan bukunya yang berjudul Revelations of Devine Love tahun 1901.[4]

Dari islam sendiri terdapat banyak tokoh yang mengkaji agama dengan menggunakan metode psikologi, diantranya: di abad ke-7 muncul seperti Muhammad Ishaq ibn Yasar yang menulis buku berjudul Al-syiar wa al-Maghazi dan juga Risalah Hayy Ibn Yaqzan fi Asrar al-Hikmah al-Masyriqiyyat yang ditulis oleh Abu Bakar Muhammad ibn Abd al-Malin ibn Tufail. Selain mereka berdua terdapat karangan yang paling populer yang ditulis oleh Abu Hamid Muhammad al-Ghazali dengan judul Ihya Ulumuddin. Merupakan sebuah buku yang mengkaji agama dari dengan metode psikologi.[5]

Di zaman modern muncul karya-karya lain yang mengkaji agama dibidang psikologi, seperti: al-Maghary dengan judul Tasawur al-Syu’ural al-Diny ‘Inda Tifl wa al-Murahid (Perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja), lalu terbit pula sebuah buku yang berjudul an-Nummuwu al-Nafsy (Perkembangan Kejiwaan) yang merupakan sebuah buku yang khusus mengkaji kejiwaan secara spesifik.[6]

Karya lain yang lebih spesifik kajiannya seperti: karangan Alif Abd al-Falah dengan judul Ruh al-Din al-Islamy (Jiwa Agama Islami), karangan Mustofa Fahmi dengan judul al-Sihah al-Nafsiyah dan masih banyak lagi karangan ulama muslim yang mengkaji agama dengan menggunakan metode psikologi.[7]

Di Indonesia pengkajian agama dengan metode psikologi dipelopori oleh toko-tokoh yang memiliki latar belakang profesi sebagai ilmuwan, agamawan, dan dokter. Diantara karya-karya awal, diantarnya: Agama dan Kesehatan Badan atau Jiwa karangan Prof. Dr. H. Aulia. Lalu pada tahun 1975, K.H. S.S Djam’an menulis sebuah buku dengan judul Islam dan Psikomatik. adapun pengenalan di kampus-kampus dilakukan oleh Prof, Dr. H. A. Mukti Ali dan Prof. Dr. Zakiah Daradjat. Namun buku khusus yang membahas agama dengan metode psikologi banyak ditulis oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat.[8]

 

Metode Psikologi dalam Ilmu Perbandingan Agama

Sebagai metode yang sistematis, psikologi mengkaji agama secara objektif dengan mengumpulkan data dan fakta, kemudian membentuk sebuah kesimpulan. Didalam agama terdapat dimensi metafisik yang tidak mungkin dikaji menuggunakan metode yang sering dipakai oleh ilmu kealaman. Oleh karenanya metode psikolgi dirasa penting dalam studi perbandingan agama. Ada delapan hal yang perlu diperhatikan dalam studi agama dengan menggunakan metode psikologi, diataranya:

  1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
  2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris
  3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis.
  4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali
  5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya
  6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya
  7. Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama
  8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.

Dengan metode diatas diharapkan, peneliti dapat mengumpulkan data dan mengolah serta menganalisa dengan cermat sehingga pun hasilnya dapat objektif.[9] berikut akan dipaparkan metode-metode psikologi dalam studi agama:

  1. Metode Introspeksi

Introspeksi terdiri dari dua kata yaitu; intra yang artinya dalam dan spectare yang artinya melihat, memandang. Jadi introspeksi adalah melihat atau memandang ke dalam jiwa. Secara terminologi introspeksi adalah metode dimana subjek melihat ke dalam dirinya sendiri tetang proses kejiwaan tertentu.[10]

Selain itu terdapat ekstropeksi, berasal dari kata extrare yang artinya luar. Secara terminologi adalah suatu metode yang memandang atau menyelidiki proses kejiwaan pada diri orang lain. Lalu terdapat pula retrospeksi, berasal dari kata re yang artinya kembali. Jadi secara terminologi adalah penyelidikan tentang kejiwaan manusia dengan cara menyelidiki kembali tentang proses-proses kejiwaan manusia pada masa lalu.[11]

  1. Metode Eksperimental

Yaitu suatu metode dengan menggunakan percobaan-percobaan sebagaimana yang dilakukan pada ilmu alam. Metode eksperimental dalam ilmu jiwa berbeda dengan metode eksperimental dalam ilmu alam, karena objeknya berupa jiwa. Jiwa tidak seperti alam yang selalu tetap, akan tetapi jiwa selalu mengalami perubahan bedasarkan keadaan dan situasi yang mempengaruhi subjek. Ilmu jiwa modern lebih suka menggunakan metode ekperimatal dikarenakan hasilnya yang mudah untuk dibuktikan.[12] Dengan menggunakan metode ini, peneliti dapat dengan mudah menimbulkan situasi, kondisi dan keadaan yang akan diteliti. Wilhem Wundt merupakan tokoh yang pertama kali memakai dan mendasarkan metode ini dalam psikologi secara ilmiah. Ia menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh eksperimental, yaitu:[13]

  1. Harus dapat menentukan dengan tepat waktu terjadinya gejala yang ingin diteliti.
  2. Harus dapat mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin diteliti dari awal hingga akhir dan peneliti juga harus mengamatinya dengan perhatian yang khusus.
  3. Tiap-tiap penelitian harus dapat diulangi dalam keadaan yang sama.
  4. Harus dapat mengubah-ubah dengan segaja syarat-syarat keadaan eksperimental.

Dalam prakteknya, peneliti dapat menggunakan dua percobaan atau lebih. Didalam percobaan, peneliti merupakan penentu dari kondisi dan situasi percobaan tersebut. Sebagai contoh: anak pertama diberikan film tentang kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Anak kedua diberikan film tentang kisah azab kubur. Dari dua contoh tersebut, peneliti dapat mengambil kesimpulan dari dua kondisi atau situasi tersebut. Kemudian percobaan tersebut diulang-ulang dengan subjek yang berbeda hingga menemukan kesimpulan final.[14]

  1. Metode Enquete, Kuesioner dan interview

Metode enquete atau kuesioner Adalah metode dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang akan diselidiki. Metode ini adalah metode yang paling tua dalam ilmu jiwa.[15] Peneliti dalam prosesnya, membuat daftar pertanyaan yang akan diberikan kepada objek. Daftar tersebut merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menyelidiki data yang ingin diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Linda L. Davidoff  berpendapat bahwa metode penelitian yang banyak berisi daftar pertanyaan untuk meminta informasi segera, tanpa harus benyak berpikir.[16]

Metode ini memiliki banyak keunggulan, diantaranya; (1) metode praktis; yaitu peneliti dapat menjangkau tempat yang jauh tanpa harus datang ke lokasi (2) membutuhkan waktu yang singkat untuk mendapatkan data yang banyak (3) objek penelitian dapat menjawab dengan leluasa. Sehingga pada pembagiannya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak lansung. Langsung adalah peneliti melakukan penyelidikan langsung di lokasinya, sedangkan tidak lansung adalah sebaliknya.[17]

  1. Metode Observasi

Adalah suatu metode penelitian yang dijalankan dengan sistematis dan sengaja diadakan melalui pengunaan alat indra sebagai alat untuk menangkap secara langsung kejadian-kejadian  pada saat sebuah peristiwa itu terjadi.[18] Observasi adalah suatu metode dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena keagamaan. Dalam hal ini, bukan bagaimana seseorang melakukan suatu ibadah, akan tetapi tentang kesadaran seseorang dalam melakukan ibadah.[19]

  1. Metode Personal Dokument dan Autobiografy

Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman batin  dan kehidupan seseorang dalam hubungannya dengan agama. Salah satu cara yang ditempuh dalam metode ini dengan mengumpulkan dokumen pribadi seseorang yang dapat berupa autobiografi, biografi, tulisan maupun catatan-catatan yang dibuatnya.[20] Biografi merupakan sumber yang paling penting dalam metode ini, karena penulisan pengalaman-pengalaman sendiri biasanya lebih objektif daripada ditulis oleh orang lain. Metode ini memiliki kelemahan. Hal tersebut karena metode ini biasanya besifat subjektif, misalnya; biografi orang lain, tentu berbeda-beda. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan sikap komparatif dalam penyelidikan. Sikap komparatif dapat mempermudah tercapai kebenaran objek yang holistik.[21]

William James menggunakan metode ini dalam penelisan bukunya yang berjudul The Varieties of Relegius Experience. Walaupun objek penelitiannya hanya berbatas kepada para ahli agama dan tidak mencakup didalamnya orang awam. Namun, karyanya dirasa memiliki manfaat dalam perkembangan keilmuwan. Dalam bukunya dijelaskan sejumlah kasus pribadi tentang penagalaman keagamaan yang dirasakan oleh masing-masing individu.[22]

  1. Metode Nomotetik

Adalah suatu metode dengan cara meyelidiki tentang sifat bawaan manusia atau tabiat dasar manusia. Penyelidikan tersebut dilakukan dengan cara menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dengan kondisi-kondisi yang mempengaruhinnya. Pendekatan ini digunakan untuk menemukan perbedaan dari setiap individu. Dalam penerapannya, metode ini mengasumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan dasar dalam sruktur kepribadian manusia. Hasilnya dari metode tersebut, ditemukan bahwa setiap individu manusia memiliki sifat dasar yang secara umum sama. Perbedaan masing-masing hanya dalam derajat atau tingkatan saja.[23]

 

Referensi:

  • Jalaluddin “Psikologi Agama” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Cetakan ke-3: 1998
  • Fudyartanta “Psikologi Umum” Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2011.
  • Mahmudah, Siti “Psikologi Sosial, Teori dan Model Penelitian” UIN Malik Press, Malang: Cetakan Ke-2, 2012.
  • Tumanggor, Rusmin “Ilmu Jiwa Agama, The Psikologi of Religion” Kencana, Jakarta, Cetakan ke-2: 2016.
  • Ramayulis “Psikologi Agama” Kalam Mulia, Jakarta, cetakan ke-7: 2002.

[1] Jalaluddin “Psikologi Agama” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Cetakan ke-3: 1998. Hal: 27

[2] Ibid. Hal: 27-28

[3] Ibid. Hal: 28

[4] Ibid. Hal: 28

[5] Ibid. Hal: 30

[6] Ibid. Hal: 31

[7] Ibid. Hal: 31

[8] Ibid. Hal: 33

[9] Ibid. Hal: 35

[10] Fudyartanta “Psikologi Umum” Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2011. Hal: 43

[11] Fudyartanta “Psikologi Umum…Hal: 44

[12] Ibid. Hal: 45

[13] Mahmudah, Siti “Psikologi Sosial, Teori dan Model Penelitian” UIN Malik Press, Malang: Cetakan Ke-2, 2012. Hal: 11-12

[14] Ibid. Hal: 12

[15] Fudyartanta “Psikologi Umum…Hal: 50

[16]  Mahmudah, Siti “Psikologi Sosial, Teori dan Model Penelitian…Hal: 15

[17] Fudyartanta “Psikologi Umum…Hal: 50

[18] Mahmudah, Siti “Psikologi Sosial, Teori dan Model Penelitian…Hal: 14

[19] Tumanggor, Rusmin “Ilmu Jiwa Agama, The Psikologi of Religion” Kencana, Jakarta, Cetakan ke-2: 2016. Hal: 95

[20] Ramayulis “Psikologi Agama” Kalam Mulia, Jakarta, cetakan ke-7: 2002. Hal: 18

[21] Fudyartanta “Psikologi Umum…Hal: 52

[22] Jalaluddin “Psikologi Agama…Hal: 36

[23] Ibid. Hal: 36-37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *