Movie Review as Media in Learning Interreligious Relations

movie-review-presentasi-aicis-studi-agama-agama-saa-unida-gontor

Movie Review as Media in Learning Interreligious Relations

Jakarta- AICIS (Annual Conference on Islamic Studies) ke 19 kembali digelar. Setelah sebelumnya sukses diselenggarakan di Palu, kali ini Jakarta kembali menjadi tuan rumah agenda tahunan ini. AICIS kali ini mengambil tema ‘Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam’ dan berlangsung selama 4 hari mulai 1 hingga 4 Oktober 2019.

Animo para pengkaji Islam dari berbagai dunia yang hadir pada ACIS tahun ini terlihat cukup besar. Panitia penyelenggara melaporkan sedikitnya ada 7 negara yang terlibat dalam konferensi ini seperti Indonesia, Malaysia, Srilangka, Amerika Serikat, Australia, Palestina, dan  Singapura. Total ada 400 paper yang akan dipresentasikan dalam lebih dari 100 panel diskusi. Panel tersebut terbagi ke dalam invited panel, selected panel, open panel, dan extended panel.

Baca Juga: Movie Review’ God’s not Dead

Dosen Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor juga turut memeriahkan konferensi internasional yang diinisiasi oleh Kementerian Agama RI ini. al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, M.A. bersama dua orang mahasiswa semester 5 prodi Studi Agama-Agama, Saqifah Iklilun Nikmah dan Ninda Anjani, temasuk salah satu presenter dalam open panel. Mereka mempresentasikan paper berjudul “Movie Review as Media in Learning Interreligious Relations in University of Darussalam Gontor” bersama Dr. M.I.M. Jazeel dari Srilangka, Martin Sawyer French dari University of Chicago, dan Prof. Dr. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si. dari UIN Raden Fatah Palembang.

Paper ini berisi pengalaman ajar mata kuliah ‘Hubungan Antar Agama’ di Prodi SAA semester 4. Dalam paparannya, Alumnus Kajian Timur Tengah UGM ini merasa gelisah ketika melihat semakin besarnya tantangan yang dikandung materi ‘Hubungan antar Agama’. Oleh karena itulah, guna mengembangkan materi ini, menurut al-Ustadz Yuangga, materi tidak hanya seyogyanya berhenti pada tataran hafalan dan ingatan mahasiswa saja, namun juga butuh praktik akademis.

Hal tersebut dipandang menjadi urgen melihat latar belakang para mahasiswa yang homogen, di mana seluruh mahasiswa SAA UNIDA Gontor memiliki kesamaan latar belakang pendidikan Islam. Sedikitnya, mahasiswa telah nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor dalam kurang lebih minimal 4 tahun. Homogenisme latar belakang inilah, yang menurut analisa al-Ustadz Yuangga harus senantiasa dibarengi dengan sejumlah strategi da’wah terkait pluralitas keagaman. Terutama dalam ranah pertemuan dengan pemeluk agama lain.

Lihat Juga: Menangkal Radikalisme dengan Film Animasi

al-Ustadz Yuangga pun menawarkan sebuah solusi yang memanfaatkan kemajuan dunia digital. Penting untuk diketahui bahwa generasi millennial memiliki kecenderungan lebih suka menonton dibandingkan mendengarkan dan membaca. Atau dengan kata lain, metode audio visual lebih berperan dalam proses pembelajaran bagi generasi millenial. Beberapa riset menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik untuk berkonsentrasi pada pelajaran yang disampaikan dengan metode ceramah hanyalah berlaku pada 20 menit pertama. Sementara menit-menit selanjutnya, konsentrasi sudah berkurang. Oleh karena itu, al-Ustadz Yuangga merekomendasikan metode ajar melalui apa yang dinamakan ‘movie review’

Di antara kelebihan metode ini adalah, film dapat menyampaikan pesan suara (audio) dan gambar (visual) secara bersamaan. Selain keduanya, ada perasaan dan emosi (feelings and emotions) yang dapat tersampaikan kepada para penontonnya. Hal inilah yang ingin ditumbuhkan ke dalam diri para mahasiswa yang homogen tersebut.

Menurut al-Ustadz Yuangga, bila materi hanya disertai dengan teori-teori belaka, maka tujuan dari pembelajaran mata kuliah tersebut tidak akan tersampaikan. Hal ini terutama karena tidak semua mahasiswa memiliki pengalaman pribadi tentang perjumpaan dengan pemeluk agama lain. Film dalam ‘movie review’ digunakan sebagai alat untuk mengkonstruk realitas tentang hubungan antar agama beserta sejumlah seperangkat isu yang menyertainya. Indahnya toleransi hingga buruknya disharmoni dapat menjadi topik diskusi yang baik dalam ‘movie review’.

Review Movie: Bhajrangi Bhaijaan

Melalui film ‘Bhajrangi Bhaijaan’ dan ‘Aisyah, biarkan kami bersaudara’, misalnya. Al-Ustadz Yuangga mencoba menanamkan pemahaman tentang makna ekslusivisme, inklusivisme, pluralitas, pluralisme, relativisme, dan multikulturalisme.

Seusai menonton, al-Ustadz Yuangga meminta mahasiswa untuk membuat refleksi atas apa yang mereka tonton. Mereka juga diminta memilih sikap apa yang akan mereka ambil bila mereka dalam kondisi serupa. Hasilnya sangat memuaskan. Para mahasiswa dapat menikmati pelajaran dan menyerap berbagai pesan-pesan baik yang ada di dalam film, sekaligus mengkritis apa-apa yang sekiranya tidak sesuai dengan pandangan hidup islam. Hal ini kemudian diharapkan tidak hanya dapat dipahami sebatas teori namun juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan beragama mereka sehari-hari. (Yuangga Kurnia Yahya/Ed: Rizal Maulana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *