Narasi Perdamaian dan Toleransi dalam Dokumen Sejarah dan Budaya

perdamaian-toleransi-prodi-saa-studi-agama-agama-unida-gonto- interfaith tour

Interfaith Tour 4.0, “Mengenal Narasi Perdamaian dan Toleransi dalam Dokumen Sejarah dan Budaya”

Ahad, 25 Agustus 2019

Program Studi Studi Agama- Agama mengutus 4 mahasiswanya untuk menjadi peserta Interfaith Tour 4.0 di daerah Malang. Acara ini memiliki konsep yang berupa kunjungan- kunjungan ke beberapa rumah peribadatan dari empat agama yaitu Viharra Dhammadhipa Aran, Biara Flos Carmedi, Masjid Padang Mahsyar, dan Pura Luhur Giri Arjuna.

Vihara-Dhammadhipa-STAB-Batu-gereja-paroki-batu-perdamaian-toleransi-prodi-saa-studi-agama-agama-unida-gonto- interfaith-tour
Bersama Yang Mulia Bante Jayamodho di Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Vihara Dhammadhipa

 

Vihara Dhammadhipa

Objek pertama yaitu Sekolah Tinggai Agama Budha (STAB) Vihara Dhammadhipa Batu. Di tempat ini, peserta yang datang dari berbagai daerah dan agama duduk untuk mendengarkan pidato dari seorang bikhu senior di Indonesia yaitu Bante Jayamodho atau Herman Endro. Beliau memberikan materi mengenai perdamaian dan toleransi di Indonesia berdasarkan dari pengalaman beliau setelah melanglang buana ke berbagai penjuru dunia.  Bante Jayamodho juga sudah mendapat gelar sebagai duta damai di Amerika. “Pentingnya acara Interfaith adalah memupuk keberagaman sosial antar agama.” tutur beliau dalam pidatonya. Beliau juga mengibaratkan perbedaan dengan sebuah pot yang terisi dengan bungan dari berbgai warna yang artinya keberagaman adalah sumber keindahan.

Bante Jayamodho juga menjelaskan bahwa dalam sejarah, Siddhartha Gautama pun sedemikian peduli dengan keberagaman dan terus berusaha memperbaiki manusia.  Bahkan ketika sakit sampai tubuhnya kering keronta. Bante Jayamodho ini juga menjelaskan bahwa toleransi bukan berarti Pluralisme Agama. Toleransi justru adalah kesabaran dan cinta yang dilaksanakan berdasarkan akal dan hati nurani. Setelah mendengarkan beberapa penjelasan dari yang mulia Bante Jayamodho, para peserta diajak untuk berkeliling Museum Dhammadhipa.

Bhiara Flos Carmedi

Objek kedua yaitu, Biara Kontemplatif Flos Carmedi. Di objek ini, peserta disambut baik oleh Suster Angelina sebagai pembuka acara sekaligus  menunggu Romo Andi, Wakil Keuskupan Malang Raya sebagai pemateri utama. Suster Angelina menjelaskan bagaimana kehidupan sehari- hari para suster di dalam Biara, seperti berdoa dan mendoakan apapun tentang kebaikan yang ada di muka bumi ini. Ini artinya, para suster yang bertugas telah berkomitmen untuk berdoa kepada Tuhan dengan totalitas. Bahkan, setiap istirahat dan makan, harus ada salah satu suster yang tetap memanjatkan doa. Dalam ajaran Biara, manusia tidak  hanya membutuhkan makanan lahiriyah, tetapi juga batiniyah.

gereja-paroki-batu-perdamaian-toleransi-prodi-saa-studi-agama-agama-unida-gonto- interfaith-tour
Bersama Suster Angelina dan Romo Andi

Suster Angelina juga menjelaskan asumsi yang keliru perihal tidak boleh menikahnya seorang Biarawati. Larangan pernikahan kepada Biarawati tidak ada, akan tetapi, menikah bisa merusak kualitas dan totalitas Biarawati dalam berdoa. Dalam kesehariannya, para suster pendoa ini diwajibkan untuk memakai jubah panjang sampai kaki dan memakai tudung.

Selanjutnya adalah materi dari Romo Andi sebagai wakil keuskupan Malang Raya. Dalam hal perdamaian dan toleransi, beliau menjelaskan bahwa Gereja tidak menolak kebenaran apapun dari agama lain. Hal ini ternyata sudah tertulis dalam dokumen Nostra Aetate, yaitu dokumen hasil Konsili terbaru yang diadakan di Gereja Santo Petrus, Roma pada tanggal 28 Oktober 1965.

Berikut adalah isi dari bab Islam dari “Pernyataan Hubungan Gereja dengan Agama- Agama bukan Kristiani” :

“juga menghargai umat Islam yang menyembah Allah satu- satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh dengan belas kasihan yang dan maha kuasa, pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan- ketetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham- iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya- telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormatinya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maryam bundanya yang tetap perawan, dan pada saat- saat tertentu dengan hikmat berseru kepadanya. Selain itu, mereka mendapatkan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka, mereka juga menjunjung tinggi kehiudupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberikan sedekah dan berpuasa.”

gereja-paroki-batu-perdamaian-toleransi-prodi-saa-studi-agama-agama-unida-gonto- interfaith-tour
di Gereja Paroki Batu

Konsili Suci mendorong umat Katolik untuk melupakan pertikaian yang sudah- sudah dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami. Tidak hanya itu, Konsili Suci juga bersama- sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai- nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.

Setelah beberapa penjelasam tersebut, para peserta diajak untuk mengunjungi satu- satunya Gereja Paroki di Malang raya dan satu- satunya gereja Khatolik di Indonesia yang mendatangkan replika patung kanak- kanak Yesus langsung dari Praha.

Masjid Padang Mahsyar

Setelah mendengarkan penjelasan dari beberapa materi di Biara dan Gereja Paroki. Peserta bergegas untuk mengunjungi Masjid Padang Mahsyar. Di Masjid ini, peserta melaksanakan Istirahat dan Sholat bagi peserta Muslim. Setelah melaksanakan sholat dzuhur, materi mengenai keberagaman dalam Islam di mulai. Sebagai pembicara adalah Al- Ustadz Nurbani Yusuf sebagai ketua takmir sekaligus Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Batu. Beliau menuturkan bahwa hubungan bahkan konflik agama Islam dengan agama lain sudah terjadi sejak lama. Paman Rasullah SAW pun juga masih menyembah berhala. Maka, cukup banyak sejarah yang bisa diambil pelajaran mengenai perdamaian dan toleransi. .“Inti dari Toleransi dalam Islam adalah membiarkan tanpa membenarkan” tutur beliau.

perdamaian-toleransi-prodi-saa-studi-agama-agama-unida-gonto- interfaith tour
Bersama Bapak Nurbani Yusuf di Masjid Padang Mahsyar

Sebelum penutup dan dilanjutkan sholat Ashar, beliau menuturkan “Meskipun tidak membenarkan ajaran agama lain, tetapi kita juga tidak boleh menghina. Sebab menghina kepercayaan orang lain sama saja menghina kepercayaan kita sendiri, Menghina Tuhan agama lain sama saja menghina Tuhan kita sendiri. Karena mereka yang dihina akan berbalik menghina”.

Pura Luhur Giri Arjuna

Objek terakhir adalah Pura Luhur Giri Arjuna. Pura ini terletak di dataran tinggi daerah Batu. Pura yang beranggotakan 96 kepala keluarga ini berada ditengah- tengah perkebunan jeruk, sayur, dan kopi milik warga. Pura ini juga merupakan bangunan terakhir di lereng tersebut dan jika keatas akan memasuki area hutan milik pemerintah. Tidak banyak materi yang didapat peserta disini, akan tetapi banyak pengalaman baru sebab kebanyakan peserta belum pernah sama sekali mengunjungi Pura. Salah satu petugas di Pura tersebut menjelaskan bahwa Pura ini lebih tua dari pura yang ada di Lereng gunung Bromo. “Masyarakat Hindu Tengger aslinya disini, sebab perpecahan mereka bertolak ke Bromo” tutur beliau. Sayang sekali, ketua peribadatan di Pura ini berhalangan hadir untuk memberikan materinya.

Acara ini ditutup dengan menyampaikan kesan dan pesan dari perwakilan beberapa komunitas peserta yang mengikuti acara ini.  (Azzamul Azhar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *