Pembukaan AICIS 2019: Tantangan ‘Digital Islam’

pembukaan-AICIS-studi-agama-agama-unida-gontor-flyer

Pembukaan AICIS 2019: Tantangan ‘Digital Islam’

Jakarta- Dosen Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kembali berkontribusi dalam AICIS (Annual International Conference on Islamic Studies) tahun ini. Pada kesempatan 19th AICIS yang bertemakan “Digital Islam, Education and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam” ini, al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya, S.Th.I., M.A. beserta Mahasiswi SAA semester V, Saqifah Iklilun Nikmah dan Ninda Anjani, menyampaikan paper riset mereka yang berjudul: Movie Review as Media in Learning Interreligious Relations in UNIDA Gontor. Berikut Reportasenya.

Pembukaan AICIS ke 19 ini diinisiasi secara resmi oleh Menkominfo RI, Rudiantara, Ph.D. Sesi kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama diskusi yang mengangkat isu utama “Respon perguruan Tinggi Islam Indonesia terhadap Era Disrupsi”. Acara yang dipandu langsung oleh Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama, Prof. Arskal Salim ini mengundang narasumber dari Pimpinan Perguruan Tinggi Islam berbagai daerah.

suasana-pembukaan-AICIS-studi-agama-agama-unida-gontor

Terkait Pembukaan AICIS lihat Juga Kegiatan SAA UNIDA Gontor di ASAI

Yang menarik, dalam pembukan AICIS ke-19 ini, semua yang menjadi narasumber merupakan pimpinan perguruan tinggi Islam adalah wanita. Mereka adalah Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A; Rektor UIN Kendari, Prof. Dr. Faizah Binti Awad; Rektor IAIN Ponorogo, Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag; Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr. Inayatillah, M.Ag; dan Rektor IAIN Metro, Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag. Para Rektor perempuan ini menyampaikan pengalaman PTAIN masing-masing dalam menyikapi tantangan dan memanfaatkan peluang dari era disrupsi kepada seluruh peserta.

Sesi diskusi dalam pembukaan AICIS ini kemudian berlanjut dengan pertanyaan dari Prof. Arskal Salim kepada seluruh panelis tentang pendapat mereka dalam menyikapi era disrupsi dari sudut pandang pimpinan perguruan tinggi. Mayoritas pimpinan perguruan tinggi tersebut mengemukakan bahwa era digital ini adalah peluang untuk perguruan tinggi dapat lebih berkembang. Bahkan yang terpenting adalah pembentukan literasi manusia yang mampu memanfaatkan teknologi, bersikap bijak, dan berpikiran terbuka.

Diskusi selanjutnya dibawakan oleh Keynote Speaker yang pertama, Peter Mandaville dari George Mason University, Virginia, USA dipandu oleh ketua Steering Committee AICIS 2019, Prof. Noorhadi Hasan dengan tema ‘Making and consuming Islam Online: The Reconfiguration of a discursive Tradition?‘.

Peter Mandaville sendiri merupakan salah satu ahli yang pertama kali menggaungkan terma ‘Digital Islam‘ sejak 20 tahun lalu. Di awal kemunculannya, sebagaimana analisa Mandeville, Digital Islam diharapkan dapat melahirkan pluralisasi dan demokratisasi pengetahuan keislaman, dan disintegrasi dari otoritas keagamaan tradisional. Tantangan itu, terutama dikarenakan munculnya berbagai isu internal-sektarian dalam tubuh Islam yang muncul dengan sangat cepat ke permukaan dunia digital. Di antara efek yang dihasilkan adalah berbagai otoritas keagamaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan juga menyebar dengan cepat. Setiap orang seakan-akan mampu menyampaikan isu keagamaan tanpa memandang latar belakang religiusitas dan keilmuan.

Tantangan itulah yang terutama pada hari ini, dihadapi Islam sebagai sebuah tantangan bentuk baru di dunia digital. Sejumlah modifikasi dalam belajar agama Islam pun mulai jamak ditemui, di mana salah satu fenomena yang paling sering ditemui adalah adanya penceramah yang popular di dunia digital. Penceramah tersebut tidak hanya menjadi panutan dalam hal agama, namun juga dalam gaya hidupnya yang mengadopsi budaya popular (pop-culture) seperti menggunakan topi sebagai pengganti peci, menggunakan kaos sebagai pengganti kemeja, dan menggunakan bahasa dan tata bahasa yang ‘gaul’ ala kawula muda, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Studi Agama 4.0

yuangga-kurnia-yahya-aicis-pembukaan
Delegasi- al-Ustadz Yuangga Kurnia Yahya. S.Th.I., M.A. bersama Saqifah Iklilun Nikmah dan Ninda Anjani.

Mandaville juga menyampaikan fenomena lainnya adalah apa yang yang disebut sebagai ‘Genre Blurring‘ atau ‘Blurring the boundaries’. Berbagai madzhab, aliran, dan ormas yang tidak mainstream juga dapat menyebar dengan cepat dan masif dalam rangka menjadi referensi para millennial dalam mencari informasi tentang Islam. Di UK, misalnya, ditemui fenomena Suhaib Webb, yang mampu memberikan fatwa hanya dalam hitungan 8 detik dan masyhur dengan istilah ‘quick fiqh‘. Di duni online juga dapat kita dapati sosok Yahya Birt dengan Wiki Islam.-nya Hal ini juga yang mengakibatkan lahirnya Hybrid Culture of Islamic Tradition.

Dalam kesimpulannya, Mandaville menyampaikan bahwa “Digital Islam is more than Islam Online”. Perpindahan media dari offline ke online tentu saja diikuti oleh berbagai konsekuensi perubahan lainnya, terutama dalam wilayah otoritas religiusitas dan keilmuan. Bila tidak siap dalam menyikapi berbagai perubahan ini, bukan tidak mungkin justru alih-alih Muslim dapat mengendalikan teknologi sebagai media dalam meneguhkan paham keislaman, malah justru berbagai paham radikal, konservatif, dan bermuatan kepentingan pihak tertentu akan mengendalikan Islam secara disruptif. (Yuangga Kurnia Yahya/ Ed: Rizal Maulana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *