Pendekatan Fenomenologi dalam Komunikasi Antaragama: Pendekatan Penuh Kesadaran

Pendekatan Fenomenologi dalam Komunikasi Antaragama: Pendekatan Penuh Kesadaran

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya

Fenomenologi adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sosial. Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani “phainein” ‘memperlihatkan’ atau “phaenesthai” ‘menyala, menunjukkan dirinya, muncul’ yang kemudian dari akar kata ini menjadi kata “phainemenon” atau “phenomenon” ‘sesuatu yang muncul, menerangi, menempatkan sesuatu dalam terang’. Dalam definisi sederhana, fenomenologi dianggap sebagai “kembali kepada benda itu sendiri” (back to the things themselves) (Ahimsa-Putra, 2012: 276 dan Rusli, 2008: 141).

Adapun Hegel merumuskannya sebagai suatu pengetahuan sebagaimana pengetahuan itu tampil atau hadir dalam kesadaran (“knowledge as it appears to consciousness”) (Ahimsa-Putra, 2012: 273). Menurutnya, fenomenologi menunjukkan sebagaimana ia tampak, ilmu yang menggambarkan apa yang dipikirkan, dirasakan dan diketahui oleh seseorang dalam kesadarannya saat itu (Rusli, 2008: 142) atau apa yang disebut sebagai immediate awareness dan experience (Ahimsa-Putra, 2012: 274). Fokus pendekatan ini adalah sebuah upaya mengungkapkan “phenomenal consciousness” ‘kesadaran fenomenal’ melalui ilmu pengetahuan dan filsafat, menuju ke “the absolute knowledge of the absolute” (Ahimsa-Putra, 2012: 274 dan Rusli, 2008: 142). Istilah ini akrab dengan nama Edmund Husserl sebagai pelopornya. Namun istilah fenomenologi sendiri telah digunakan dalam beberapa tulisan Immanuel Kant dan definisi lebih lanjut diberikan oleh Hegel (Ahimsa-Putra, 2012: 273 dan Rusli, 2008: 141).

Edmund Husserl

Pada awalnya Husserl berupaya menemukan dasar bagi sebuah filsafat yang membahas dan menelaah kenyataan. Dasar ini hanya dapat dicapai dalam bentuk kenyataan itu sendiri (things in themselves), sebagaimana ia menampakkan dirinya. Karenanya, Husserl mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu pengetahuan yang lekat dengan kesadaran (Ahimsa- Putra, 2012: 274). Dengan struktur kesadaran tersebut memungkinkan kesadaran-kesadaran itu menunjuk kepada obyek lain di luarnya (Rusli, 2008: 142). Husserl menjelaskan bahwa kesadaran ini meliputi dua aspek. Pertama, proses sadar itu sendiri (the process of being conscious). Kedua, yang menjadi objek dari kesadaran tersebut (Ahimsa-Putra, 2012: 274). Pendekatan dan studi ini membutuhkan refleksi tentang isi pikiran dengan mengesampingkan berbagai hal lain yang memungkinkan untuk mempengaruhi penampakan asli dari kenyataan atau fenomena tersebut atau natural attitude (Rusli, 2008: 142 dan Kersten, 1989: 30). Metode yang digunakan menuru Husserl adalah “follows the nature of things to be investigated and not our prejudices or conceptions” ‘mengikuti bentuk natural dari hal tersebut tanpa dibarengi dengan prasangka dan konsepsi awal’. Metode ini mengadopsi prosedur epoche dan eidetic vision dengan kajian terhadap beragam simbolik yang direspons oleh orang-orang sebagai nilai yang tidak terbatas (Ahimsa-Putra, 2012: 275 dan Rusli, 2008: 145). Refleksi ini yang disebut oleh Husserl sebagai “reduksi fenomenologis” (Rusli, 2008: 142).

Ide terpenting yang dimunculkan Husserl adalah tentang deskripsi fenomenologis sebagai deskripsi, penggambaran dari segala sesuatu apa adanya. Hal tersebut akan dideskripsikan sebagaimana ia tampil dan hadir di hadapan manusia dalam cara tampilnya. Ide ini memiliki relevansi terhadap ilmu sosial budaya (Ahimsa-Putra, 2012: 277). Kemudian Albert Schutz, murid Husserl memodifikasi pandangan ini ke dalam ranah sosiologi. Ia mengembangkan dasar konsep intersubyektivitas sebagai suatu hubungan timbal-balik perspektif, yang mencakup dua macam idealisasi, yaitu interchangability of view-points dan congruence of system of relevances. Idealisasi yang pertama adalah anggapan seorang bahwasanya ia dan orang lain akan mendapatkan pengalaman yang sama atas “dunia bersama” (common world). Adapun pada idealisasi yang kedua, masalah yang perlu dipahami adalah bagaimana si pelaku mendefinisikan situasi yang dihadapi. Dengan kedua idealisasi tersebut, interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari dapat berlangsung dengan lancar. Dalam interaksi tersebut, pelaku sadar atau tidak sering membuat sebuah “typification” ‘pemberian tipe atau ciri’(Ahimsa-Putra, 2012: 279-280).

Beberapa karakteristik dasar fenomenologi dapat dilihat dalam 5 poin. Pertama, watak deskriptif. Kedua, antireduksionisme. Ketiga, intensionalitas. Keempat, pengurungan (epoche). Kelima, Eidetic vision (Rusli, 2008: 143). Selain itu beberapa hal di bawah menjadi landasan epistemologis pendekatan ini dalam fenomena sosial budaya:

1. Fenomenologi memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran.
2. Pengetahuan pada manusia ini berawal dari interaksi atau komunikasi di antara manusia, antara
satu individu dengan individu lain.
3. Karena kesadaran tersebut lahir dari proses interaksi dan komunikasi, maka ia bersifat
intersubyektif.
4. Perangkat pengetahuan ini menjadi pembimbing individu dalam mewujudkan perilaku-perilaku
dan tindakan-tindakannya. Dengan demikian, perilaku dan tindakan individu tidak berdasar pada
situasi yang obyektif, namun oleh kesadarannya terhadap hal tersebut.
5. Adanya typification atau pemberian tipe-tipe terhadap unsur-unsur yang ada dalam kehidupan
manusia.
6. Pengakuan bahwa kehidupan manusia merupakan kehidupan yang bermakna.
7. Dalam memahami gejala sosial menuntut pula pemahaman atas kerangka kesadaran yang
digunakan untuk membangun perangkat pemaknaan tersebut.
8. Metode yang tepat dalam memahami gejala sosial adalah dengan mengetahui dan memahami “hakikat” dari gejala yang dipelajari tersebut (Ahimsa-Putra, 2012: 281-283). Memahami dalam konteks ini adalah mengetahui pandangan-pandangan, pengetahuan, nilai-nilai, norma, aturan yang ada dalam suatu masyarakat atau yang dianut oleh individu. Setelah itu menetapkan relasinya dengan perilaku warga masyarakat, perilaku sebuah kolektivitas atau perilaku individu tertentu (Ahimsa-Putra, 2012: 285).

Pendekatan ini memiliki dua unsur pokok yang tak terpisahkan. Unsur yang pertama adalah usaha untuk menunda prasangka dan ide atau konsepsi awal tentang sesuatu yang sedang diteliti atau yang dikenal dengan “epoche” ‘pengurungan’ (bracketing ) (Kockelmans, 1994: 43; Rusli, 2008: 145 dan Langdridge, 2007: 17). Epoche adalah pengurungan semua anggapan dan penilaian sebelumnya dan memposisikan diri terhadap obyek dengan setiap pengalaman konkret yang dialami oleh peneliti dan pelaku (Kockelmans, 1994: 43 dan Langdridge, 2007: 17). Inti dari epoche adalah keraguan, yaitu keraguan tentang natural attitude atau prasangka yang telah dimiliki sebelumnya (Langdridge, 2007: 17). Unsur kedua adalah eidetic vision atau eidetic intuition. Eidetic vision berarti melihat ke dalam jantung makna (makna agama). Pada unsur ini, peneliti melihat, mengenali secara komprehensif dan mendeskripsikan fenomena yang ditemui sebagai suatu kesatuan makna (unity of meaning) (Rusli, 2008: 145 dan Kockelmans, 1994: 43).

Dalam penerapan pendekatan fenomenologis, khususnya yang berkaitan dengan fenomena keagamaan, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra (2012: 298-300), pakar antropologi menetapkan beberapa prinsip etis-metodologis yang perlu diperhatikan. Pertama, tidak menggunakan kerangka pemikiran tertentu untuk menilai kebenaran pandangan subyek. Hal tersebut dikarenakan tugas peneliti bukanlah menilai atau menentukan kebenaran pandangan keagamaan yang diteliti, namun mendeskripsikannya sebaik mungkin melalui perspektif penganutnya. Kedua, pandangan keagamaan yang didapat juga tidak memerlukan penilaian. Dalam kacamata fenomenologi, semua “kesadaran” adalah “benar”. Ketiga, dalam melihat fenomena atau subyek, peneliti dapat dianalogikan sebagai “murid” yang ingin memahami pandangan keagamaan suatu individu atau komunitas dan bermaksud mendeskripsikannya sesuai pemahaman individu tersebut. Keempat, peneliti harus selalu mengingat bahwa tujuan utamanya adalah mengungkapkan pandangan, keyakinan atau kesadaran kolektif masyarakat terhadap suatu fenomena keagamaan. Karenanya, hendaknya peneliti menahan diri dari memberikan pendapat yang mungkin bertolak belakang dengan pandangan subyek. Konsep-konsep inilah yang akan dibawa dalam ranah komunikasi antaragama sebagai pendekatan awal dalam memahami konsepsi agama menurut kacamata penganutnya.

Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2012. Fenomenologi Agama: Pendekatan Fenomenologi untuk Memahami Agama. Paper in Walisongo Journal, Vol. 20, No. 2, November 2012, 271-304.

Langdridge, Darren. 2007. Phenomenological Psychology: Theory, Research and Method. Essex: Pearson
Education Limited.

Rusli. 2008. Pendekatan Fenomenologi Dalam Studi Agama: Konsep, Kritik dan Aplikasi. Paper in
journal ISLAMICA, Vol. 2., No. 2, March 2008, 141-153

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *