Penerapan Dharma di Vihara Avalokitesvara

saa-studi-agama-agama-unida-gontor-vihara-spl-Dharma-Vihara-Avalokitesvara

Penerapan Dharma di Vihara Avalokitesvara

Mataram- Masih di Pulau Nusa Tenggara Barat. Kunjungan Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Mahasiswi SAA UNIDA Gontor kali ini mencoba untuk mengenal Agama Buddha di Vihara Avalokitesvara (Sabtu, 7/9). Para peserta mendapat sambutan yang sangat ramah dari segenap pengurus Vihara yang bertempat di Jln. Ahmad Yani No.9 Bertais, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Sambutan yang dilanjutkan oleh materi disampaikan oleh Bapak Roni Abdi Kesuma, sebagai Ketua dan Pendiri Yayasan Vihara Avalokitesvara. Pada kesempatan kali ini, Pak Roni mengenalkan beberapa hal mengenai Agama Buddha yaitu tentang sejarah, ritual ibadah, dan landasan hidup penganut Budha.

Sejarah Berdirinya Vihara Avalokitesvara

Mengawali materi yang akan disampaikan, Pak Roni bercerita mengenai sejarah berdirinya Vihara Avalokitesvara. Beliau memaparkan bahwa pendirian Vihara ini pada tanggal 28 Maret 1998, yang kemudian itu diresmikan pada tanggal 10 Januari 2001. Adapun tanah yang menjadi pondasi, tanahnya berasal dari hibah dan juga wakaf seluas 2000 hektar. Tujuan dari pendirian Vihara ini untuk membangun tempat ibadah, memberikan pendidikan tentang ajaran Buddha hingga dapat menjalankan kehidupan dengan baik.

Ibadah dan Rutinitas Vihara Avalokitesvara

Dalam Vihara ini tentunya tidak terlepas dari berbagai macam kegiatan, mulai dari segi ibadah, pendidikan maupun sosial. Pak Roni menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai pembinaan iman umat secara berjamaah. Pendidikannya berupa Buddhayana yang terdiri atas Patrayana, Mahayana dan juga Hinayana, yang mana masing- masing menggunakan bahasa yang berbeda seperti bahasa Mandarin dan bahasa Sansekerta.

Sementara ritual ibadah ini dilaksanakan dari pukul 06.00-12.00 pada hari Minggu. “Karena sudah tertera pada undang-undang bahwa setiap murid wajib mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kepercayaannya begitu ujar Ibu Indarwati, selaku penanggung jawab dan guru di Sekolah Minggu. Dalam Sekolah Minggu ini pun selain diajarkan tentang ibadah, mereka juga mendapatkan pendidikan tentang seni dan keterampilan, seperti menyanyi, menari, dan hal lain yang tentunya berguna untuk mendidik umat Buddha agar dapat bermanfaat bagi umatnya” tambah Ibu Indarwati kembali.

saa-studi-agama-agama-unida-gontor-vihara-spl-Dharma-Vihara-Avalokitesvara

Dharma sebagai Landasan Hidup Buddhis

Sebelum memasuki ruang pertemuan, salah seorang peserta SPL menemukan tulisan yang patut menjadi tanda tanya karena belum diketahui maknanya:

“Belajar tentang kebenaran (dharma)  itu sangat mudah, tetapi untuk dapat menyadari hakikat kebenaran (dharma) itu tidak mudah.”

“Banyak orang yang pandai berbicara tentang kebenaran (dharma), tetapi yang bisa menyadari hakikat kebenaran itu sangat langka”

“Syiar ini merupakan sebuah filsafat. Bagaimana kita dapat mengingat tentang kebenaran (dharma), paham dan juga dapat mengaplikasikan suatu dharma tersebut, ulas Pak Roni mengenai tulisan tersebut. Dharma ini juga sebagai landasan dalam melaksanakan kegiatan sosial oleh umat Buddha, baik dalam lingkup internal, maupun eksternal.

Salah satu kegiatan lingkup eksternal adalah keikutsertaan para jamaah dalam hal gotong royong. Baik gotong royong dalam membantu penganut Buddha itu sendiri maupun menolong penganut agama selain Budha seperti; Hindu, Kristen, maupun Islam. “Kami juga tidak segan-segan untuk membantu umat Muslim yang kesulitan dalam hal ekonomi, contohnya ketika Idul Fitri, kami juga membagikan beras untuk orang yang masih belum mampu” tutur Pak Roni dengan tulus. Artinya, kita sebagai umat beragama dilarang berburuk sangka dengan agama lain sebab setiap agama pasti mempunyai ajaran tentang kebaikan, dan bertoleransi dengan baik. (Nadya Amaliyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *