Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama

Oleh: Dimas Prihambodo

Ilmu Perbandingan Agama merupakan ilmu yang tergolong masih muda bila dilihat dari umurnya yang baru mencapai masa kejayaannya pada abad ke-19. Namun bila kita cermati seksama, tidak ada suatu apapun didunia ini yang muncul secara tiba-tiba tanpa disertai asal-usul, begitu pula dengan Ilmu Perbandingan Agama. Proses suatu keilmuwan memerlukan tahapan yang panjang dan waktu yang lama untuk mencapai sebuah disiplin keilmuwan. Sehingga Ilmu ini bukanlah tidak memiliki asal-usul atau suatu proses. Proses itu telah terjadi beberapa abad yang lalu, dan telah dikaji dari berbagai ilmuwan Yunani, Kristen, Yahudi dan lain-lain. Oleh karena itu, junal ini berusaha mengulas tentang sejarah perkembangan Ilmu Perbadingan Agama dengan menggunakan tinjauan pustaka atau literatur.

 

  1. Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di Yunani dan Romawo Kuno

Di Barat Ilmu perbandingan agama mulai mencapai masa keemasan yaitu sekitar abad ke-19 masehi. Pencapaian masa tersebut merupakan usaha dua tokoh besar ilmu perbandingan agama yaitu seorang sarjana belanda ahli mesir yang bernama “C.P Tiele” dan seorang ahli filologi kelahiran jerman yang bernama “Friedrich Max Muller”.[1] Namun ilmu ini telah di bahas jauh sebelum masa tersebut, yaitu ketika masa Yunani dan Romawi Kuno.  Munculnya ilmu ini di sebabkan rasa ketertarikan Yunani dan Romawi Kuno terhadap agama lain yang memiliki ajaran yang berbeda. Metode yang di gunakanpun tidak jauh berbeda dengan metode yang di gunakan pada saat ini dimana metode yang di gunakan adalah studi kritik terhadap bentuk-bentuk agama yang di pelajari. Selain itu, metode yang digunakan adalah dengan metode Fenomenologi dan Perbandingan. Metode Fenomenologi adalah metode dengan cara mencatat dan mendekskripsikan gejala-gejala agama sesuai dengan kejadian dan meninggalakan segala asumsi yang bersifat subjektif. Sedangkan metode perbandingan adalah metode dengan cara membandingkan agama satu dan agama lainnya untuk mencari persamaan universal dari semua agama.[2]

Xenophanes dan Colophon merupakan tokoh awal ilmu perbandingan agama di Yunani. Mereka adalah filusuf yang dalam usahanya telah melakukan studi kritik terhadap bentuk keagamaan di Yunani. Menurut Xenophanes “tidak seorang pun mengetahui atau dapat mengetahui tentang hakikat para dewa, karena semua yang di katakan tentang dewa-dewa tersebut hanya merupakn pendapat (DOXA) saja”. Studi kritik tersebut dilancarkan pada dua aspek yaitu pada antropromis dan immoral.[3]

 

  1. Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di Yahudi dan Kristen

Sebelumya telah di jelaskan tentang peradaban yunani yang mencerminkan sikap terbuka dan toleran.  Hal demikian terbukti dengan munculnya ilmu perbandingan agama di yunani  berbeda dengan yahudi yang memiliki sikap intoleran dan eksklusif. Yahudi memilki kepercayaan dan bertanggung jawab untuk menjaga kemurnian tehadap yahweh, sikap tersebut muncul sebagai reaksi terhadap agama yang ada pada saat itu yaitu agama kan’an yang memiliki dewa dewi yang banyak. Maka munculnya ilmu perbandingan agama di yahudi sangat sulit karna reaksi yang ada pada kaum yahudi itu sendiri.[4]

Sikap intoleran yang ada pada agama yahudi ini tidak berhenti sampai di sini, bahkan melanjut sampai kepada agama keristen yang menyatakan bahwasanya tidak ada keselamatan di luar gereja dan keselamatan hanya dengan mengimani yesus kristus sebagai tuhan, mereka bahkan sampai menyerang agama lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama mereka. Menurut mereka, ajaran di luar kristen merupakan karya setan atau roh jahat lainnya. Hal demikian sebagaman yang sering dikemukakan oleh para apologiste kristen abad ke 2 masehi seperti Justin Martyr,Tatian,Minucius, Felix, Tertulian, dan Cyprian.[5]

 

  1. Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di Barat

Sejarah ilmu perbandingan agama dapat terbagi atas tiga fase. Pertama, pada abad ke-15 dan 16 yang merupakan awal munculnya ilmu perbandingan agama. Ke dua, pada abad ke-17 dan 18 yang merupakan titik perkembangan dan pertumbuhan ilmu perbandingan agama. Ke tiga, abad ke-19 yang merupakan puncak keemasan ilmu perbandingana agama. [6]

Seperti yang kita ketahui, di abad 15-16 adalah abad di mana terjadinya masa Renaissans yang menimbulkan dua fenomena yaitu munculnya perhatian terhadap studi mithologi dan di lakukan perjalanan-perjalanan eksplorasi ke negara-negara lain. Akan tetapi gerakan reneissens ini hanya memilki dampak yang sedikit terhdapa ilmu perbandingan agama. Hal itu terbukti dengan jumlah tokoh yang mengkaji tentang ilmu perbandingan agama tidak terlalu banyak. Seperti Martin Luther yang mengkaji tentang islam dan Zwingli yang tertarik dengan filsafat yunani. Setelah melihat dari apa yang terjadi, abad ini hanya dapat di katakan sebagai titik awal munculnya ilmu perbandingan agama saja, karena susuahnya perkembangan ilmu perbandingan agama pada abad ini.[7]

Perkembangan ilmu perbandingan agama terlihat pada abad ke 17-18 dengan munculnya gerakan konter-reformasi, yaitu kelompok masyarakat yesus (The Society of Yesus) dan perluasan misi ke Amerika utara, Asia timus, India dan Cina. Perhatian lebih kemudian muncul pada studi agama di cina. Menurut Matteo Ricci ajaran konfusius tentang hakekat tuhan sama dengan ajaran gereja, dan ajaran konfusius untuk tidak memuja langit yang tidak terlihat akan tetapi memuji tuhan yang tidak terlihat, tuhan langit dengan mudah di serap menjadi ajaran agama keristen.[8]

Selanjutnya, terjadi penulisan buku-buku tentang cina oleh barat dengan komentar atau tanpa komentar. Hal ini merupakan bukti perkembangan ilmu perbandingan agama pada abad ini. Selain itu pada tahun 1625, di terbitkan sebuah karya dengan judul Lord Herbert Of Cherbury, De Veritate, yang menjelaskan tentang paham deisme sebagai bentuk theologi yang koheren. Paham ini berusaha untuk mencari titik temu dari semua agama dan sebagai denominator umum bagi semua agama.[9]

Fase terakhir, yaitu fase keemasan ilmu perbandingan agama terjadi pada abad ke 19. Fase ini di tandai dengan ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 M, yang merupakan fase sebelumnya. Oleh karena itu, pada awal abad ke -19 mulai bermunculan studi agama-agama yang bahan dasarnya dari Indo-Eropa.[10] Kemudian pada tahun 1856, terbit sebuah buku dengan judul Comparative Mythology oleh Max Muller. Kemudian di susul setelahnya pada tahun 1870 dengan judul Introduction to the Science of Religions.[11] Berkat jasanya dan perjuangannya di bidang ilmu perbandingan agama ia di nobatkan sebagai bapak ilmu perbandingan agama di dunia barat.[12]

Spencer merupakan tokoh yang juga memilki peran dalam perkembangan ilmu perbandinagan agama. Dalam bukunya First Principles yang di terbitkan pada tahun 1862, Spencer menyatakan bahwa benda benda berkembang secara uniform dari bentuk bentuk sederhana menuju bentuk bentuk yang lebih kompleks. Evolusi katanya adalah perubahan dari suatu homogenitas tidak menentu dan inkoheren menuju bentuk heterogenitas tertentu dan koheren, melalui diferensiasi dan integrasi yang terjadi secara terus menerus. Memang sekilas dari pendapat diatas tidak menunjukan peran Spencer dalam menjelaskan asal usul agama. Namun arti penting Spencer dapat telihat dari ushanya menjelaskan, bahwa agama sangat mungkin urntuk dikaji dengan menggunakan teori evolusionistik. [13]

Kemudian pada tahun 1896 – 1898, seroang sarjana belanda yang bernama C.P Tiele menjelaskan tentang kuliah kuliah Gifford, dan diterbitkan setelahnya sebuah buku dengan judul Elements of the Science of Religions. Buku itu menjelaskan perpindahan masa transisi babak pertama menuju babak ke dua. Walaupun buku ini dalam studinya masih terdapat unsur-unsur spekulatif dan metode historis namun teori evolusi telah muncul didalamnya. Abad ke-19 terbagi menjadi tiga babak yaitu babak pertama sangat mementingkan penelitian terhadap kesetaraan disertai dengan kegilaan penemua-penemuan baru. Pada babak ke dua cenderung mengabaikan perbedaan-perbedaan karena menyukai kesamaan-kesamaan. Kedua babak ini masih di pengaruhi oleh historisime shingga kajian agama bersifat historis. Ketika perang dunia pertama meletus terjadi perubahan besar. Historisisme yang menguasai babak sebelumnya mulai memudar walaupun penelitian-penelitian bahasa dan psikologi masih berlanjut dan metode positivisme tetap bertahan. Babak ke tiga di tandai dengan munculnya kembali kajian filsafat dan theologi, yang sebelunya runtuh akibat perkembangan positivisme dan historisisime. Pada babak ini ilmu perbandingan agama menenpati posisi yang strategis di dalam filsafat. Babak ini di warnai dengan tiga hal : pertama, keinginan untuk mengatasi perselishan-perselisihan yang timbuk akibat spesialisasi dan perbidangan yang terlalu berlebihan, malalui suatu pandangan yang terpadu. Kedua, keinginan untuk mengkaji hakikat pengalaman keagamaan secara mendalam. Ketiga, munculnya pembahasan masalah epistemologis yang wujud akhirnya dalah metafisis.[14]

 

  1. Perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di Islam

Munculnya ilmu perbandingan agama dalam islam di tandai dengan munculnya tokoh-tokoh ilmu perbandingan agama seperti Ibnu Hazm Alandalusy (wafat 1013 M), As-Shahrastani (wafat 1153 M), Abu Royhan Al-Birruni (wafat 1048 M), Abu Hamid Al-Ghazali (wafat 1111 M).[15]

Ibnu Hazm Al-Andalusy merupakan tokoh ilmu perbandingan agama dengan Karangannya adalah Al-Fashl fil Milal Wal Ahwa Wa Nihal. Ibnu Hazm menjelaskan di dalam bukunya tentang pembagian Kristen menjadi dua golongan. Golongan politeistis dan golongan yang masih berpegangan teguh dengan ajarannya. Golongan politeistis adalah mereka yang ajarannya telah di selewengkan oleh Yahudi dan kaum mereka sendiri. Selain itu Ibnu Hazm mengungkapkan terdapat 78 pasal dalam kitab injil yang saling bertentangan sehingga dapat di simpulkan bahwa kitab Injil bukanlah berasal dari wahyu.[16]

Kecerdasan Ibnu Hazm terlihat dari pemahamannya terhadap perjanjian lama dan perjanjian baru yang tergambarkan dalam karya agungnya di atas. Selain itu karena kritikan yang tajam terhadap umat Kristen dan sumbangan yang besar terhadap ilmu perbandingan agama, para sarjana barat dan islamis barat memberikan pengakuan dan pengukuan terhadap karya-karyanya.[17]

Ilmu perbandingan agama dalam Islam selanjutnya di kembangkan oleh seorang theolog terkemuka yang telah mendapat epresiasi besar dari Timur maupun di Barat. Diapun telah berhasil merekam sejarah panjang pemikiran para filusuf, theolog, ahli hikmah termasyhur dari penjuru dunia serta berbagai bentuk agama, kepercayaan, sekte lainnya di luar Islam di dalam sebuah buku yang berjudul Al-Milal wa Al-Nihal.[18]

Namun perkembangan ini hanya bersifat apologis, yaitu jawab atas kritik Kristen terhadapap islam. Sebagaimana Ahmand As-sanhaji Al-qorafi yang menulis tentang Al-Ajwibah Al-Fakhirah an Al-As’ilah Al-Fajirah. Kitab ini berisi tentang jawaban atas buku yang dikarang oleh Uskup dari Sidon dengan judul Risalah ila Ahad Al-Muslim. Lalu Muhammad Abduh menulis buku Al-Islam Wa Al-Nasroniah Ma’a Al-Ilmi Wa Al-Madaniayah sebagai jawaban terhadap tulisan-tulisan Farah Antum dalam Al-Jami’ah.[19]

Ada dua faktor yang menybabkan ilmu perbandingan agama kurang berkembang dalam Islam di antar lain sedikitnya literatur-literatur orisinil yang berasal dari penilitian dan pengkajian langsung terhadap agama. Selain itu kurangnnya perhatian agama islam terhadap ilmu-ilmu yang bersifat empiris dan lebih mementingkan ilmu yang bersofat theologis, seperti Tauhid, Fiqh, Ilmu Kalam, Tasawuf dan Ulum Al-Hadits.[20]

 

  1. Reverensi
  • Djam’annuri “Studi Agama-Agama, Sejarah dan Pemikiran” Pustaka Rihlah, Jogjakarta: 2003
  • Wach, Joachim “Ilmu Perbandingan Agama, Inti dan Bentuk Pengalaman Keagamaan”. Penerbit CV Rajawali, Jakarta Utara, cetakan ke -3 : 1992
  • Adib Fuadi, Muhammad “Ilmu Perbadingan Agama”. Spirit for Education and Development, Yogyakarta: 2012

[1] Djam’annuri “Studi Agama-Agama, Sejarah dan Pemikiran” Pustaka Rihlah, Jogjakarta: 2003. Hal: 19

[2] Ibid. Hal: 1-2

[3] Ibid. Hal: 2

[4] Ibid. Hal: 4

[5] Ibid. Hal: 5

[6] Ibid. Hal: 12

[7] Ibid. Hal: 7-9

[8] Ibid. Hal: 9

[9] Ibid. Hal: 9-10

[10]Ibid. Hal : 16

[11] Wach, Joachim “Ilmu Perbandingan Agama, Inti dan Bentuk Pengalaman Keagamaan”. Penerbit CV Rajawali, Jakarta Utara, cetakan ke -3 : 1992. Hal 3

[12] Ibid. Hal: 20

[13] Djam’annuri “Studi Agama-Agama, Sejarah dan Pemikiran” …Hal: 18

[14] Wach, Joachim “Ilmu Perbandingan Agama, Inti dan Bentuk Pengalaman Keagamaan… Hal. 4-9

[15] Adib Fuadi, Muhammad “Ilmu Perbadingan Agama”. Spirit for Education and Development, Yogyakarta: 2012. Hal: 29

[16] Ibid. Hal: 163-165

[17] Ibid. Hal: 164-165

[18] Ibid. Hal: 166-167

[19] Ibid. Hal: 43

[20] Ibid. Hal: 44

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *