PLURALISME AGAMA: UTOPIA ATAU LUBANG BIAWAK?

oleh: Indra Ari Fajari

Dosen Program Studi Agama-Agama

Fakultas Ushuluddin

Universitas Darussalam Gontor

 

Pluralisme Agama Telaah Kritis Cendikiawan Muslim mencoba memberikan jawaban atas kerancuan paham Pluralisme Agama. Adalah tidak benar jika kebenaran dan keselamatan di agama-agama bisa disetarakan atau disamakan. Secara diskursus, buku ini juga diproyeksikan untuk secara kritis melihat fenomena-fenomena keagamaan yang sering disalahkaprahi terkait dengan eksistensi keberagamaan agama seperti: titik temu agama-agama, relasi kesatuan transenden agama-agama dengan tasawuf, konsepsi Teologi Global (Global Theology), paham agama Posmodern, hingga konsepsi Ahl al-Kitab.

Diskursus akan ‘Kesatuan Transenden agama-agama’ menjadi setengah bagian dari awal buku yang diterbitkan oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini. Adnin Armas, selaku Editor menginisiasai diskusi lewat kritiknya atas mengkritik gagasan Frithjof Schuon tentang titik temu agama-agama yang menurut Schuon niscaya ditemukan pada level esoteris (3-22). Dalam pembacaan kritisnya, pertemuan tersebut sesungguhnya tidaklah lain dari sekedar utopia. Level transenden yang dimaksud sesungguhnya “melampaui” tingkatan pegalaman keagamaan masyarakat umum dan tentu jelas bukan yang dimaksud sebagai agama yang diturunkan untuk ummat. Konsep agama Islam adalah agama yang bukan diturunkan untuk elit tertentu, namun untuk seluruh umat manusia. Di Makalah selanjutnya, Mohd Sani Badron secara kritis namun epik menjaga marwah Ibn al-A’rabi dari gagasan sejumlah Pluralis Agama membawakan esensi-esensi ajaran pluralisme agama dalam tasawufnya (23-50). sering dicatat namanya sebagai pendukung gagasan Pluralisme Agama. Asumsi yang keliru ini ternyata lahir dari pembacaan yang fragmentatif (sepotong-sepotong) atas karya Ibn al-Arabi’ sehingga menimbulkan kesimpulan yang tidak tepat akan konsepsi beliau atas agama. Bagian pertama dari buku ini diakhir dengan refleksi Wan Azhar Wan Ahmad atas kesatuan transenden agama-agama. Menurut Wan Ahmad, diskursus kesatuan transenden agama-agama terkait dengan wajah Islam yang seringkali digambarkan begitu ekslusif, dan intoleran. Islam secara eksklusif sesungguhnya sangat komitmen pada konsep teologi dan metafisika, namun juga sangat inklusif pada perkara moral dan etika. Lagi-lagi, fenomena ini tidaklah lain dari kacamata yang tidak tepat dalam memandang Islam (51-84).

Pada bagian kedua tentang Teologi global, dapat kita dapati diskusi awal Pluralisme dan kaitannya dengan persoalan teologi Kristen oleh Adian Husaini. Menurut Adian, jika konsepsi dan entitas historisitas antara teologi Kristen dan Islam benar-benar dikaji secara cermat, semestinya tidak perlu ada kalangan Muslim  semerta-merta ‘mengamini’ dan ‘menyebarkan’ paham Pluralisme Agama. Biarlah Barat dengan pengalaman traumatisnya terhadap konsep dan praktik keagamaan, memeluk berbagai paham yang menghancurkan sendi-sendi agamanya sendiri. “Jika mereka masuk ke lobang biawak, mengapa kita harus ikut?” (105)

Terkait dengan sejarah traumatik Barat atas agama, Hamid Fahmy Zarkasyi kemudian melanjutkan diskusi atas agama dalam pemikiran barat modern dan pascamodern. Menurut Beliau, Pascamodernisme membangun suatu “teologi” berdasarkan pada alasannya sendiri yang pada hakekatnya tidak bisa disebut teologi. Pasalnya, “Teologi” Pascamodernisme ini memasukkan Tuhan ke dalam sistem penjelasan rasional yang tertutup. Dalam tradisi Pascamodernisme, akal manusia dianggap tidak mampu memahami hakikat Tuhan. Dengan kata lain, Pascamodernisme merubuhkan jalan berfikir metafisis. Hal ini mengakibatkan para Pscamodernis memahami agama dengan cara yang sangat berbeda dari dan bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh para teolog. Kajian Hamid Fahmy Zarkasyi sekiranya krusial untuk kemudian dijadikan kaca pembanding awal konsepsi agama di peradaban Islam dan peradaban Barat. (107-126)

Malki Ahmad Nasir kemudian, membahas dekonstruksi Arkoun terhadap makna Ahl al-Kitab. Malki menemukan sejumlah distorsi makna yang tidak sesuai dalam konsepsi pandangan hidup Islam. Alih-alih menemukan titik temu toleransi atas Ahl al-Kitab,  konsep dekonstruksi Arkoun justru meragukan umat Islam sendiri. Dekonstruksi hanya menyebabkan pemahaman umat Islam terhadap teks Al-Qur’an menjadi semakin jauh dari makna aslinya, semakin dangkal dan boleh jadi meragukan (127-146).Diskusi tersebut terkait dengan Muhammad Azizan Sabjan & Noor Shakirah Mat Akhir yang menelaah  Ahl- Al-Kitab sesuai dengan tradisi keislaman. Ahl al-Kitab nyatanya mendapatkan kedudukan khusus dalam hukum Islam dan mereka tunduk di bawah perlakuan seperti, seperti pajak pojok, penyembelihan binatang-binatang, pernikahan, makanan, dan ucapan salam. Meski demikian, Ahl al-Kitab adalah orang-orang yang tidak beriman karena tradisi keagamaannya telah rusak, sehingga lumrah jikalau Ahl al-Kitab saat ini sejajar dengan golongan Musyrik (Polytheist) (147-168). Buku ini kemudian diakhiri dengan pembahasan tafsir ayat-ayat Ahl Al-Kitab oleh Fahmi Salim berdasarkan tafsir klasik guna meluruskan kembali konsepsi Ahl al-Kitab dalam pandangan hidup Islam (169-192).

Di tengah-tengah hegemoni teoritis Pluralisme Agama, generasi millenial Muslim cenderung terpukau atas tawaran yang diberikan oleh Kesatuan Transenden Agama-Agama dan Teologi Global. Asumsi-asumsi epistemologis itu seyogyanya terbatas akan kekeliruan pandangan konseptual akan agama dan bagaimana selayaknya ia disikapi. Problem Toleransi nyatanya tidak hanya terbatas pada diskursus sosial namun juga teologis. Civitas Akademika Studi Agama-Agama diharapkan mampu menawarkan diskusi teologis yang menarik dalam konteks dialog dengan senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip keislaman. Dus, Plularisme Agama dalam tinjauan kritisnya, nyatanya tidaklah lain utopia yang menipu atau lobang biawak yang menjebak. Larilah yang kencang! (Indra Ari Fajari)

Al-Ustadz Indra Ari Fajari, M.Ag

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *