Politisi Muslim dalam Studi Agama

politisi-muslim-saa-unida-studi-agama-agama

Politisi Muslim dalam Studi Agama

Gontor – FOKSAA (Forum Kajian Studi Agama-Agama) merupakan kegiatan kajian rutin yang diadakan oleh Himpunan Mahasiwa Prodi (HMP) Prodi Studi Agama-Agama bertemakan keagamaan beserta isu-isu yang mengitarinya. Acara ini ditujukan terutama untuk mahasiswa prodi SAA dan terbuka untuk umum.

Malam tadi, Rabu (4/9) Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) melaksanakan FOKSAA yang bertemakan ‘Agama dan Politik’. Acara ini terutama bertujuan untuk membongkar syarat-syarat yang harus dimiliki seorang Politisi Muslim. Kajian yang dihadiri hampir 20 orang peserta mahasiswa ini berlangsung lancar dan mahasiswa dengan seksama aktif dalam menyimak penjelasan al-Ustadz Kharis Majid, M.Ag selaku pemateri.

al-Ustadz Kharis Majid membuka diskusi ini dengan relasi permasalahan politik dengan problematika kepemimpinan dan pemerintahan. Dewasa ini, Barat memandang agama harus diletakkan pada tempatnya. Dalam arti, agama tidak memiliki otoritas apapun dalam  kebijakan politik. Hal ini diawali dengan pengalaman traumatik atas Gereja dan akhirnya memisahkan politik dan agama.  

Lalu bagaimana yang terjadi di Indonesia hakekatnya sebagai mayoritas muslim akan tetapi masih terjadi problematika politis di antara umat Islam sendiri? Menurut al-Ustadz Kharis Majid, yang perlu dipertanyakan tentu saja adalah sistem pemerintahan yang digunakan sebagai alat dalam pemerintahan tersebut.

Merujuk pembahasan yang lebih mendalam, ada pertanyaan yang muncul terkait “Apakah Ulil Amri apakah sudah sesuai dengan pemimpin yang ada di Indonesia saat ini?”Jawabannya tentu lazim untuk merujuk kepada tingkatan dari seseorang dalam memimpin yang tentunya berbeda-beda. Apakah pemimpin tersebut masih tergolong ke dalam kriteria muslim, atau sudah mukmin, bahkan lebih dari itu yaitu muhsin?

Idealnya, pemimpin kita saat ini yang diperlukan adalah pemimpin yang berkriteria mukmin bahkan kalau perlu muhsin. Indikator seorang mukmin itu salah satunya dapat dilihat dalam sholatnya, apakah sholatnya tanha ‘anil fakhsya wal munkar (menghindarkan dari perbuatan keji dan munkar) atau tidak? Apakah sholatnya berdampak pada perilakunya sehari-hari? Hal inilah yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama, sehingga tidaklah mungkin di saat yang bersamaan seorang mukmin dia korupsi, membunuh, berzina dsb. Karena hal-hal tersebut sangat berlawanan dengan sifat seorang mukmin itu sendiri.

Ini artinya, kepemimpinan dalam pandangan hidup Islam tersusun atas perbandingan yang lurus antara aspek spiritualitas dengan pribadi yang memimpin. Aspek spiritualitas memiliki peranan penting dalam membentuk pemerintahan yang integral (tauhidi) tanpa dikotomi. Paradigma Tauhid inilah yang harus dimiliki pertama kali oleh seorang Politisi Muslim. Dalam hal ini beliau menyampaikan sebuah hadits:

كما تكونوا يولى عليكم

“Pemimpinmu adalah cerminan kamu”

Maka, yang menjadi catatan di sini adalah sudah sampai manakah tingkatan masyarakat muslim khususnya di Indonesia saat ini, yang mana bentuk dari pemimpin kita saat ini adalah cerminan dari suatu masyarakat itu sendiri yang harus kita perbaiki kualitasnya sehingga termasuk ke dalam kriteria yang mukmin tadi. Adapun problematika politis di antara umat Islam sendiri yang notabene penduduknya adalah mayoritas muslim pun tidak berlangsung secara independen melainkan juga lahir berdasarkan permasalahan sistem pemerintahan yang digunakan sebagai alat dalam pemerintahan tersebut.

al-Ustadz Kharis Majid juga menyampaikan, bahwa seorang mukmin sejatinya harus memiliki al-Akhlaq al-Karimah dalam memimpin. Di antaranya: santun, sopan, dan adil. Politisi Muslim yang memegang jabatan hendaknya memegang teguh rukun iman sehingga dapat menyingkirkan hal-hal yang berbau kapitalis dalam berbagai hal, sehingga yang terjadi ia dapat mengedepankan kepentingan umat dari pada urusan pribadi. Mahasiswa SAA dituntut untuk senantiasa melihat realitas keagamaan di Indonesia guna mencapai figur-figur politisi Muslim yang mumpuni dan berkualitas, berjuang demi mashalat bangsa, I’laan likalimatillah. (Adi Rahmat Kurniawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *