Problem Gagasan Dialog Antaragama Perspektif Muhammad Arkoun

arkoun saa https://media2.ledevoir.com/images_galerie/nwd_148225_113192/image.jpg

Problem Gagasan Dialog Antaragama Perspektif Muhammad Arkoun

oleh: Alhini Zahratana, S.Ag.

Alumni Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Adanya perbedaan antarmanusia merupakan fitrah. Di lain sisi, perbedaan tersebut lebih sering berakhir dengan perselisihan antara satu kelompok dengan kelompok lain yang kemudian menyebabkan timbulnya konflik khususnya dalam lingkup agama. Muncullah akhirnya sejumlah cendekiawan yang mengupayakan perdamaian dengan mengadakan dialog antaragama.

Salah seorang cendekiawan muslim yang ikut andil dalam terlaksananya cita-cita tersebut adalah Muhammad Arkoun, intelektual muslim asal Aljazair yang pemikirannya dilatarbelakangi oleh budaya dan bahasa dari tiga wilayah yaitu Kabilia,[1] Arab,dan  Prancis.[2] Pada umumnya Arkoun menggunakan analisis ilmu-ilmu sosial kontemporer yang berkembang di barat terutama Prancis.[3]

Arkoun memiliki prespektif baru untuk membentuk dialog Muslim-Kristen-Yahudi. Ide tersebut ia sampaikan di beberapa bukunya termasuk buku Islam kontemporer menuju dialog antaragama’. Arkoun mengisiasi gagasannya berdasarkan perhatiannya atas kondisi yang terjadi antara beberapa masyarakat Muslim dan masyarakat Barat terutama Yahudi dan Muslim Arab juga kehadiran masyarakat Muslim di Eropa yang kebanyakan menjadi minoritas dan terintimidasi oleh beberapa pihak.

Dialog yang awalnya merupakan kewajaran bagi umat manusia agaknya telah menjadi sebuah problem serius jika terminologi tersebut berubah menjadi frase berdimensikan teologis. Dialog antar agama (Interfaith/Interreligiuos Dialogue) berpotensi menjadikan agama, ideologi dan segala jenis keyakinan sebagai objek utama dialog. Dalam ranah sosiologis, hal ini tentu lumrah. Sebab, dialog bisa menemukan apa-apa yang bisa ditemukan sebagai solusi di bidang kesehatan, lingkungan, dan lain sebagainya. Namun ketika dialog terlaksana dalam ranah teologis, ia sesunguhnya sarat dengan masalah.

Lihat Juga: Ghazali, Izutsu, hingga Mohammed Arkoun

Dari ide inilah kemudian muncul pihak penentang seperti Abdusshomad Buchori. Ia menyatakan bahwa sudah sepatutnya umat muslim bersikap eksklusif dalam masalah akidah dan ibadah dengan artian tidak boleh mencampurkan akidah satu dengan akidah lain dengan perantara apapun termasuk dialog antaragama seperti yang ditawarkan oleh para cendekiawan seperti Arkoun.

Selan itu, Prof Naquib Al-Attas juga menegaskan pentingnya memahami konsep Tuhan dan agama sebagai dasar worldview Islam.[4] Kedua konsep itu memiliki jalinan dengan konsep-konsep lain yang kemudian membentuk sebuah struktur konsep yang sistematis dimana setiap agama sejak awal kemunculannya telah memiliki perbedaan dalam dua konsep dasar itu. Jika seseorang memiliki pemahaman mendalam tentang dua konsep dasar yang telah tersebut di atas maka tidak akan ada pemikiran yang melampaui butasannya seperti yang telah terjadi pada Arkoun.

Pendekatan Arkoun yang bermasalah ini terbukti karena pemikirannya selama ini cenderung bersifat humanis, yaitu sebuah pendekatan yang hanya melihat dari sisi keberagaman masyarakat berdasarkan kebutuhan keagamaan setiap individu atau masyarakat lalu dilihat dari pendekatan sosiologis-antropologis manusia beragama yang memilih agamanya karena memiliki kepentingan manusiawi. 3Akhirnya, karena Arkoun telah menyamarkan perbedaan teologis dalam pemikirannya. Maka yang terjadi kemudian formulasi pendekatan ini melihat sebuah realita keberagaman umat manusia dalam beragama pada hakikatnya sama yaitu menuju satu tuhan yang sama meski dengan jalan yang berbeda. Akhirnya konklusi pemikiran Arkoun dari pendekatan ini bahwa tidak sepatutnya terdapat agama yang beranggapan bahwa agamanya merupakan satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya jalan menuju keselamatan.[5] Pendapat semacam itulah yang menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak yang dampaknya menumbuhkan para pemikir bersifat inklusif terhadap agama yang dianutnya.

Baca Juga: Pluralisme Agama Utopia dan Lubang Biawak

Bukti lain adanya problem dalam ide Arkoun adalah adanya anggapan bahwa antara Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki kesamaan dalam segi genealogis yaitu berasal dari satu rumpun yang sama, Nabi Ibrahim As dan dari segi Teologis yaitu memiliki konsep ketuhanan yang sama, monoteisme.[6] Padahal hakikatnya, konsep ketuhanan antar ketiga agama tersebut jelas berbeda, Yahudi maupun Kristen memang mengklaim diri mereka monoteisme yang artinya percaya pada satu Tuhan namun tidak diketahui secara gamblang siapakan Tuhan yang dimaksud itu tetapi Islam memiliki konsep yang berbeda yaitu Tauhid, sebuah konsep dimana umat muslim  meyembah pada satu tuhan bernama Allah SWT bukan yang lain. Dalam hal ini, Arkoun menggunakan pendekatan sosiologis yang berakibat pada lahirnya pemikiran keagamaan tanpa memandang sedikitpun perbedaan ideologis secara signifikan pada agama-agama.

Arkoun juga meyakini bahwa dialog antaragama adalah wujud toleransi. Sebab, baginya umat muslim secara umum belum memiliki sikap tersebut, hal ini dibuktikan dengan kentalnya nalar dogmatis eksklusif pada sebagian besar umat muslim yang dianggap Arkoun telah memonopoli kebenaran tunggal dan telah disakralkan.[7] Toleransi yang ia tawarkan merupakan toleransi yang digunakan dalam ranah Teologis, jelas konsep toleransi semacam ini sangat bertentangan dengan konsep toleransi yang diajarkan dalam Islam. Dimana kata tersebut lebih sering disebut dengan konsep Tasamuh yang berarti tidak memaksa seseorang yang non-Islam untuk menganut agama Islam dan meninggalkan agama yang dianutnya serta sikap yang selalu berupaya berbuat baik terhadap segenap umat manusia walau berbeda agama tanpa menyentuh ranah spiritual seperti yang telah dilakukan Arkoun.

Dengan demikian, jelas bahwa dialog antaragama bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian antar umat beragama. Meminimalis konflik tersebut bisa dengan upaya menjaga keharmonisan dengan saling menghargai, saling membantu dan saling mempedulikan tanpa melampaui batas hingga ranah teologis, cukup pada tataran sosiologis agar tidak terjadi tumpeng tindih antara satu pemahaman agama dengan pemahaman agama lain. (Alhini Zahratana)

 Referensi

[1] Orang-orang berbangsa Kabilia menggunakan bahasa Barber yang diwarisi Afrika Utara sejak zaman  pra-Islam dan  pra-Romawi sebagai bahasa pengantar sehari-harinya.

[2] Muhammad Arkoun, Rethinking Islam, (Pustaka Pelajar, Cetakan 1, Maret 1996), p. x.

[3] Muhammad Arkoun, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antaragama, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), p. vi.

[4] Naquib Al-Attas, The Metaphysics of Islam an exposition of the Fundamental element  of the worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. ix

[5] Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog Antaragama, Yogyakarta : Bentang, Juni 2000, p. 15.

[6] Muhammad Arkoun, Islam Kontemporer Menuju ……, p. xxii.

[7] Ibid, p. 171.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *