Problematika Umat Beragama

Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari peran komunikasi antar manusia, baik lintas ras, suku, bangsa, dan agama. Namun keberagaman yang ada, tak ayal menjadi tombak perselisihan, termasuk perselisihan antar pemeluk agama sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakselarasan antar umat beragama. Dalam hal ini, Forum Kajian Studi Agama Agama (FoKSAA) mengadakan kajian bersama Al-Ustadz Hifni Nashif, M.Ud serta mahasiswi Program Studi Agama-Agama tema “Problematika Umat Beragama” di Kampus Putri, Mantingan, Rabu (21/3).

Al-Ustadz Hifni Nashif, M.Ud selaku pemateri membuka kajian dengan membawa topik utama dari permasalahan umat beragama, yaitu toleransi. Toleran secara bahasa berarti kelembutan hati, kesabaran, dan persaudaraan. Menurutnya, dalam toleransi melihat kebenaran diluar agama lain, memperkecil perbedaan antar agama, menonjolkan persamaan antar agama, dan memupuk rasa persaudaraan se-Tuhan. Toleransi dalam Islam menurut beliau pun  berarti Tasamuh, yaitu keyakinan terhadap kemuliaan manusia dan keyakinan bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbudi pekerti yang mulia. Beliau memaparkan, melihat pada hasil survei nasional kerukunan umat beragama, sejauh ini kerukunan umat beragama di Indonesia dinilai baik dengan melihat pada skor tahun 2015 dengan porsentase 75,26% dan pada tahun 2016 yang mencapai skor 75,47%.

Selanjutnya, problematika Umat menurutnya merupakan dampak dari media dan problem worldview (cara pandang). Media memainkan peran mengenai isu-isu tentang Islam sehingga tercitralah Islam yang keras dan kejam. Dampaknya, muncul di negara minoritas islam sikap anti islam atau yang biasa disebut islamophobia. Namun kini, Islamphobiapun telah hadir di negara mayoritas Muslim, seperti di Indonesia yang terlihat pada kasus pelarang cadar. Ustadz. Hifni menambahkan cara pandang Barat yang sekuler, rasional, dikatomi dan non-metafisik  bertentangan dengan Islam yang mempercayai wahyu, akal dan intuisi. Berangkat dari cara pandang yang salah akan berakibat pada kesalahan  cara pandang seseorang terhadap apa saja yang terjadi disekitarnya. Maka untuk menghindarinya, harus memiliki worldview yang benar agar tidak salah dalam memahami arti  toleransi itu sendiri dan bersikap bijak terhadap segala pergesekan yang ada.

Maka dari itu, kesimpulannya bahwa permasalahan kerukunan antar umat beragama yang sering beredar di media sosial tidak seburuk dengan kenyataan yang ada. Pasalnya,  diperkirakan hanya sekitar 25,00% perselisahan antar-agama yang mengakibatkan ketidak-rukunan. Kajian ini mengajak untuk bersikap  bijaksana dalam memahami berita di media sosial dan menyadarkan kita akan pentingnya worldview. Oleh karena, dengan Worldview yang baik akan berdampak pada sikap dan keputusan dalam kehidupan kita. Karena Islam sendiri telah mengajarkan kita untuk bertasamuh yaitu bersikap adil dan berbudi mulia, termasuk dalam masalah sosial dan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *