KAJIAN PUASA AGAMA-AGAMA: PUASA DALAM AGAMA YAHUDI

So it was, when the king saw Queen Esther standing in the court, that she found favor in his sight, and the king held out to Esther the golden scepter that was in his hand. Then Esther went near and touched the top of the scepter (Esther 5, 2). Wood engraving from the book "Illustrirte Familien-Bibel nach Dr. Martin Luther (Illustrated Family bible after Dr. Martin Luther)", published by A.H. Payne, Reudnitz near Leipzig, in 1886.

KAJIAN PUASA AGAMA-AGAMA: PUASA DALAM AGAMA YAHUDI

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A.

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor.

Menyelami Puasa dalam Agama Yahudi artinya mendalami lebih dalam sumber-sumber otoritatif dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana mafhumnya, Ttadisi berpuasa dengan bermacam variasinya dapat ditemukan di setiap agama. Varian tersebut, mencakup konsepsi dan latar belakang teologis yang mendasari puasa. Termasuk bahkan, adanya eksistensi agama yang alih-alih melarang ummatnya berpuasa. Padahal, secara umum, berpuasa dalam pandangan agama-agama identik dengan ekspresi penyesalan, permohonan maaf dan pertaubatan.[1] Dalam kesempatan kali ini kita akan mengenal tradisi berpuasa dalam Agama Yahudi (Yudaisme).

Dalam catatan  Rabbi Arnold Bienstock, puasa dalam agama yahudi memiliki peran signifikan dalam pembentukan tradisinya. Puasa dalam Yudaisme –sebagaimana puasa pada umumnya- secara harfiah didefinisikan sebagai penghentian dari segala upaya makan dan minum. Hanya saja, puasa dalam agama Yahudi dikenal dengan praktik puasa hari kecil yang dimulai semenjak subuh hingga petang. Sementara puasa hari besar dimulai dari mulai petang hingga petang hari berikutnya. [2]

Salah satu fondasi teologis atas perintah puasa yang kita dapati di dalam narasi Bibel, adalah dalam Perjanjian Lama, II Samuel 11-12. Di dalam bab tersebut, kita akan mendapati upaya Raja David untuk bertaubat pada Tuhan setelah ‘menikahi paksa’  Bathsheba. Padahal, Bathsheba sendiri sudah merupakan istri dari Uriah, seorang prajurit kerajaan yang gagah berani.[3] Dalam upaya pertaubannya kemudian itulah, Raja David melaksanakan puasa.[4] Rekaman puasa Raja David yang bersifat personal inilah yang kemudian dijadikan pegangan setiap umat Yahudi dalam setiap pensucian spiritual dan pertaubatan dari dosa.

TAKHTA-Bathsheba memohon kepada Raja David agar Solomon, anak mereka diangkat menjadi Putra Mahkota. Kisah yang diabstraksikan di II Samuel 11-12 menjadi salah satu sumber teologis Puasa dalam Agama Yahudi. Sumber: <a href="https://www.artbible.info/art/large/173.html">https://www.artbible.info/art/large/173.html</a>
TAKHTA-Bathsheba memohon kepada Raja David agar Solomon, anak mereka diangkat menjadi Putra Mahkota. Kisah yang diabstraksikan di II Samuel 11-12 menjadi salah satu sumber teologis Puasa dalam Agama Yahudi. Sumber: https://www.artbible.info/art/large/173.html

Baca Juga: MELACAK JEJAK YAHUDI DARI SURABAYA: MENGKAJI BERSAMA MENACHEM ALI

Adapun Puasa Besar adalah yang dilaksanakan di hari Yom Kippur dan hari Tisha B’av. Puasa Yom Kippur dilaksanakan mulai pada tanggal 10 bulan Tishri sebagai hari pertaubatan tahunan Umat Yahudi. Sementara Tisha B’av dilakukan pada hari kesembilan bulan Av. Tisha B’av adalah hari peratapan akan kehancuran rumah suci Yahudi. Selain makan dan minum, kedua hari ini juga melarang umat Yahudi untuk mandi dan mencuci, berhubungan suami istri, dan memakai sutra sesuai dengan durasinya, yaitu dari mulai petang hingga petang hari berikutnya. [5]

PENGEPUNGAN JERUSALEM, ESTHER, DAN TA’ANIT BECHORIM SEBAGAI FONDASI TEOLOGIS PUASA DALAM AGAMA YAHUDI

Puasa Kecil, memiliki aturan yang lebih luwes dari pada Puasa Besar. Tidak hanya durasi berpuasa yang lebih pendek, namun umat Yahudi juga diperkenankan untuk mandi dan mencuci, juga mengenakan sutra. Ada tiga hari dari Puasa Kecil yang terkait dengan hari peringatan kehancuran tembok Jerusalem oleh Nebukadnezar II.[6] Pertama, Puasa hari ke 10 dari Bulan Tevet, yang menunjukkan hari awal pengepungan. Kedua, pada tanggal 17 di bulan yang sama, menunjukkan hari di mana dinding Jerusalem dihancurkan. Ketiga, Puasa yang dilakukan di hari ketiga Bulan Tishri sebagai peringatan akan kematian Gedaliah, Gubernur Judea.[7]

GELAP-Ilustrasi J.M.W Turner atas kutukan anak pertama di Mesir yang menjadi sumber teologis salah satu puasa dalam Agama Yahudi: Ta'anit Bechorim. Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a5/Turnertenth.jpg
GELAP-Ilustrasi J.M.W Turner atas kutukan anak pertama di Mesir yang menjadi sumber teologis salah satu puasa dalam Agama Yahudi: Ta’anit Bechorim. Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a5/Turnertenth.jpg

Puasa Kecil Selanjutnya adalah Puasa Esther yang dilaksanakan pada tanggal 13 Bulan Adar. Puasa Esther dilakukan untuk mengenang Esther, figur Ratu Yahudi dari Raja Persia Ahasuerus (Xerxes I) yang bertahta dari 486-465 BCE. Ummat Yahudi juga melakukan Puasa Esther sebagai pembuka dari Hari Raya Purim. [8]Adapun terakhir, adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 14 dari Nissan tepat sebelum Passover. Dalam Puasa yang juga biasa dikenal dengan  Ta’anit Bechorim ini, anak lelaki pertama dalam keluarga diwajibkan untuk berpuasa sebagai peringatan atas selamatnya Bangsa Israel dari kutukan ke 10 yang diberikan Tuhan atas Mesir. Kutukan tersebut, tidaklah lain yaitu kematian setiap anak lelaki sulung dari Bangsa Mesir. Adapun anak sulung dari Ummat Yahudi diselamatkan oleh Tuhan.[9] Anak-Anak lelaki Sulung yang melaksanakan Ta’aanit Bechorim berbuka bersama setelah didahulu dengan berdoa dan belajar Torah bersama sebelumnya. [10] (Rizal Maulana)

 

REFERENSI

[1] Vergilius Ferm, ed., An Encyclopedia of Religion (New York: The Philosophical Library, 1945), 272-273.

[2] Kevin Corn, ed., Fasting and Feasting in Three Traditions: Judaism-Christianity-Islam (University of Indianapolis, 2006), 5.

[3] Perjanjian Lama, 2 Samuel 11: 2. {11:2} And it came to pass in an eveningtide, that David arose from off his bed, and walked upon the roof of the king’s house: and from the roof he saw a woman washing herself; and the woman [was] very beautiful to look upon. {11:3} And David sent and enquired after the woman. And [one] said, [Is] not this Bath-sheba, the daughter of Eliam, the wife of Uriah the Hittite?

[4] Corn, Fasting and Feasting in Three Traditions: Judaism-Christianity-Islam, 5.

[5] Sara E Karesh and Mitchell M Hurvitz, Encyclopedia of Judaism (New York: Facts On File, Inc., 2006), 154.

[6] https://www.livius.org/sources/content/mesopotamian-chronicles-content/abc-5-jerusalem-chronicle/, diakses 12 Mei 2019.

[7] Karesh and Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, 154.

[8] Perjanjian Lama, Esther: {4:16} Go, gather together all the Jews that are present in Shushan, and fast ye for me, and neither eat no drink three days, night or day: I also and my maidens willfast likewise; and so will I go in unto the king, which [is] not according to the law: and if I perish, I perish. {4:17} SoMordecai went his way, and did according to all that Esther had commanded him.

[9] Perjanjian Lama, Exodus: {12:29} And it came to pass, that at midnight the LORD smote all the firstborn in the land of Egypt, from the firstborn of Pharaoh that sat on his throne unto the firstborn of the captive that [was] in the dungeon; and all the firstborn of cattle.

[10] Karesh and Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, 154.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *