Simbol Keagamaan Hinduisme di Pura Danu Mandara

pura-danu-mandara-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

Simbol Keagamaan Hinduisme di Pura Danu Mandara

 Minahasa – Objek kedelapan dari Studi Pengayaan Lapangan Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Kampus Kandangan adalah Pura Danu Mandara yang terletak di Minahasa. Rombongan Sivitas Akademika peserta SPL disambut dengan sangat baik oleh sejumlah Umat Hindu yang ada di Pura tersebut. Mereka adalah Bapak Dewo Agung Nugroho, Ibu Dewi Ekaswari, dan Bapak Wayan Gede. Selain menjadi jemaat Hindu aktif di Pura, mereka juga bertugas sebagai dosen di beberapa universitas di Manado.

Mayoritas jemaat yang aktif di Pure Danu Mandara ini datang dari berbagai daerah. Sebelumnya, mereka adalah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Minahasa. Adapun keluarga masyarakat Hindu yang pertama hanya berasal dari 3 kepala keluarga yang berdomisisli di sana. Yaitu Pak Wayan sebagai pendiri pertama beserta dua anaknya, Ibu Dewi Ekaswari bersama keluarga kecilnya, dan satu kepala keluarga lagi yaitu putra dari pendiri Pure Danu Mandara itu sendiri.

Sejarah Pura Danu Mandara

Pura Danu Mandara  adalah pura satu-satunya yang berada di Minahasa. Ia didirikan pertama kali pada tahun 2010 dan diresmikan tahun 2012. Ajaran Hindu yang berada di Minahasa ini dibawa oleh pendirinya yang berasal dari Bali. Oleh karena itulah, meskipun terletak di Manado, kultur dan ajaran Hindu yang dianut di Minahasa ini sangat bercorak Hindu Bali.

Ketentuan bagi orang yang dapat memasuki Pura adalah mereka yang tidak ‘berhalangan’. Arti dari  berhalangan di sini adalah berupa wanita yang sedang datang bulan dan orang yang sedang melalui masa bersedih karena berkabung atau berduka. Seperti halnya bersedih atas meninggalnya sanak saudara.

Mengenai altar/tempat peribadatan, sengaja dibuat bertingkat-tingkat (Atma sane). Hal ini dikarenakan nilai yang dikandung di dalam altar tersebut.  Pertama, dari tingkat yang paling tinggi melambangkan posisi yang tertinggi pula. Posisi tertinggi tersebut adalah simbol yang melambangkan hubungan manusia dan Tuhan (Parahyangan). Tingkat yang berada di tengah adalah simbol yang melambangkan hubungan manusia dengan manusia (Pawongan), sementara dan tingkat yang paling rendah adalah simbol yang melambangkan relasi manusia dengan alam sekitar termasuk alam hunian roh (Palemahan).

Simbol Peribadatan Hinduisme Pura Danu Mandara

Diskusi kemudian beralih pada simbol yang ada pada upacara peribadatan. Di antara sejumlah alat yang menjadi dasar dari peribadatan mereka adalah dupa dan sesajen. Sesajen menggunakan beberapa benda yang memang digunakan berdasarkan sifat yang dimilikinya. Seperti keberadaan kelapa dilihat dari fungsinya sebagai tanaman serbaguna yang dapat dimanfaatkan dari ujung batang sampai ujung daunnya. Simbol selanjutnya adalah telur bebek.  Hal ini dikarenakan bebek, dalam kepercayaan mereka adalah simbol kesucian dan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan itu pula, di gerbang Pura, dapat kita temukan ukiran dua bebek yang ditengahnya terdapat Dewi Saraswati. Dewi Saraswati pun, merupakan simbol dari Dewi Ilmu Pengetahuan dalam ajaran Hindu.

Simbol Dupa dan Ngaben Pura Danu Mandara

Dupa, dalam proses ritualnya, dibakar dan mengeluarkan asap. Dengan asap ini diharapkan doa dan amalan apapun yang dilakukan oleh umat Hindu dapat tersampai ke langit  singgasana Tuhan.

Menurut Umat Hindu Pura Danu Mandara, konsep kehidupan setelah kematian adalah kembali kepada Tuhan. Oleh karena itulah, Umat Hindu melaksanakan upacara kematian dengan cara membakar mayat yang biasa disebut dengan Upacara Ngaben. Dalam upacara ini, mereka meyakini bahwa pembakaran jasad pada mayat dalam upacara ini adalah untuk membantu jiwa seseorang kembali ke Tuhan. Tetapi di sisi lain mereka mempunyai kepercayaan bahwa bagi manusia yang sudah mencapai Moksa atau Nibbana tidak membutuhkan pembakaran jasad kasar karena jasad tersebut telah meninggalkan alam dunia beserta jiwanya menuju Nibbana.

Yang juga tidak boleh tertinggal adalah penggunaan daun kamboja yang disematkan di belakang telinga. Dengan adanya bunga ini, seorang hamba menyatakan dirinya dalam keadaan suci dan siap melaksanakan sembahyang ataupun peribadatan. (Ratih Ovis/ Nurcahya Rahmadhan/Liris Purwa Maharsi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *