Refleksi Katolik di Surabaya: Diskusi bersama Masyarakat Gereja Paroki Sakramen Mahakudus

Berphoto bersama di Gereja Paroki Sakramen Mahakudus Surabaya

Surabaya- Pada hari Jum’at 26 April 2019,  34 Mahasiswi Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) Semester II Kelas E Kampus Kandangan menginisiasi Perjalanan Studi Akademik (SA).  Kegiatan yang dilaksanakan di kota Surabaya dan Batu ini bertujuan  memahamkan lebih dalam realitas keagamaan bagi  mahasiswi SAA. Pemahaman tersebut, terutama terfokuskan atas  bidang-bidang studi agama major yang tercantum di Kurikulum SAA. Bidang Studi tersebut antara lain: Kristologi, Buddhisme, Hinduisme, dan Kong Hu Chu.  SA kali ini dibimbing oleh al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A. dan al-Ustadz Sufratman, S.Ag. Adapun objek pertama yang menjadi tujuan di kota Surabaya adalah Gereja Paroki Sakramen Mahakudus.

Gereja yang letaknya tepat berseberangan dengan Masjid al-Akbar Surabaya ini difungsikan untuk misa pertama kali pada tanggal 19 April 1998. Di mana misa perdana Gereja perdana dipimpin kala itu oleh Pastor J. Heijne, SVD. Sementara peresmiannya terlaksana 6 bulan kemudian, yaitu pada  tanggal 10 Nopember 2000 oleh Presiden Republik Indonesia  K.H. Abdurrahman Wahid.  Berdasarkan fakta ini, Gereja Paroki memiliki kedekatan historis dan geografis dengan Umat Islam di Surabaya.

HARMONI: Photo Gereja Paroki Sakramen Mahakudus Surabaya diambil dari depan terlihat bersebelahan dekat dengan Masjid al-Akbar Surabaya
HARMONI: Photo Gereja Paroki Sakramen Mahakudus Surabaya diambil dari depan terlihat bersebelahan dekat dengan Masjid al-Akbar Surabaya

Gereja Paroki dan Asas Kebhinnekaan

Ibu Yanti selaku Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Romo Yohanes Agus dan Romo Hadi sebagai Pastor Gereja Paroki menyambut rombongan dengan hangat. “Kami merasa bahagia atas kedatangan kalian, karena meskipun berbeda suku, agama dan budaya tapi kita tetap satu, satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa”, begitu Bu Yanti menyampaikan. Adapun Romo Yohanes Agus dan Romo Hadi sepakat menyampaikan pentingnya hubungan antar agama dalam bingkai Kebhinnekaan dan Cinta Tanah Air.

Dalam sambutannya kepada masyarakat Gereja Paroki, al-Ustadz Rizal menekankan kegiatan ini adalah murni silaturahim dalam bingkai akademik. Di awal, al-Ustadz Rizal menyampaikan salam damai dari Bapak Rektor UNIDA Gontor, Bapak Dekan, sekaligus Bapak Kaprodi SAA. “Kami datang untuk bersilaturahim menjalin keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Juga untuk belajar menggali wawasan dan menambah pengetahuan.” Begitu al-Ustadz Rizal memberikan sambutan. al-Ustadz Rizal juga menyampaikan adanya tantangan-tantangan stigma perojatif akan hubungan antar agama di Indonesia yang didasari oleh informasi yang sebenarnya tidak tepat. “Oleh karena itulah, kami ke sini  agar mahasiswi-mahasiswi kami bisa mendapatkan realitas sebenarnya dari Pemahaman Katolik, tidak hanya sebatas apa yang diajarkan di Buku Teks.”  Tegas al-Ustadz Rizal.

Baca Juga: Dialog antar Agama di era Revolusi Industri 4.0: Analisa Trilogi Film God’s Not Dead

Diskusi di Komplek Gereja Paroki Mahjakudus
Al-Ustadz Abdullah Muslich Rizzal Maulana, M. A., Romo Yohanes Agus, dan Mahasiswi Peserta Studi Akademik (SA) berdiskiusi i di Komplek Gereja Paroki Mahjakudus

GEREJA PAROKI  SEBAGAI ASAS PERSATUAN UMMAT KATOLIK SURABAYA

Tema utama yang disampaikan Romo Yohanes Agus dalam diskusi kali ini adalah ‘Relevansi dan Signifikansi Gereja di tengah Masyarakat’. Romo Yohanes Agus menekankan pentingnya pengabdian Gereja terhadap masyarakat berdasarkan asas-asas persatuan Bangsa. Ceramah ilmiah tersebut kemudian menjadi refleksi bagi Mahasiswi SAA dalam berdakwah dan menyampaikan nilai-nilai keislaman di masyarakat.  Tidak hanya itu, mahasiswi peserta SA juga mampu lebih memahami tentang sejarah Gereja. Seperti, resolusi sosial masyarakat Gereja paska Konsili Nicea II.

Usai Diskusi, Mahasiswi SAA diundang  berkeliling di Gereja dipandu langsung oleh Romo Yohanes Agus. Gereja  ini ternyata tidak hanya bersifat sebagai tempat Ibadah namun juga sentral masyarakat Katolik Surabaya. “Gedung (Gereja) ini mampu memuat 400 orang Jemaat, padahal yang tercatat jumlahnya adalah kurang lebih 3500 jemaat. Sehingga jika kami ada kebaktian kita gunakan bergantian. Rata-rata waktunya satu hingga Satu setengah jam.” Jelas Romo Yohanes Agus. Adapun kegiatan Gereja ini beraneka ragam. Dari mulai pendidikan, termasuk pengabdian masyarakat.

Mahasiswi SAA terlihat sangat antusias dalam mengobservasi Gereja dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut umumnya terkait dengan perbedaan dan persamaan yang ada dalam doktrin Islam dan Katolik. Misalnya, bagaimana pandangan Katolik terhadap Isa, konsepsi Maryam dalam Injil, dan seterusnya. Al-Ustadz Rizal juga menanyakan perihal kematian Yesus yang dalam kisahnya ternyata penuh dengan derita dan baru saja diperingati pada hari Paskah 21 April kemarin. Di akhir kunjungan, al-Ustadz Rizal mewakili peserta SA memberikan cendera mata untuk Keluarga Gereja Paroki  Sakramen Mahakudus.

Dosen Pembimbing Studi Akademik, al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A., memberikan cinderamata kepada Romo Yohanes Agus.
Dosen Pembimbing Studi Akademik, al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A., memberikan cinderamata kepada Romo Yohanes Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *