Religiousitas Sains: Sinergi Ilmu dengan Agama berlandaskan Tauhid (Review Buku)

Religiousitas Sains

Religiousitas Sains: Sinergi Ilmu dengan Agama berlandaskan Tauhid

oleh: Kharis Majid, M.Ag

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Judul Buku    : Religiousitas Sains*

Pengarang     : Sutoyo.dkk

Penerbit         : Solusi LPP SDM & UB Press

Halaman        : 299

Tahun             : 2010

 

Dalam rangka penelitian studi agama, buku ini selayaknya menjadi salah satu pedoman ‘wajib’ yang tersedia bagi di level akademik manapun. Baik di level sarjana, magister, ataupun doktoral. Pasalnya, buku ini menerangkan  nilai-nilai fundamental keislaman yang diajarkan Tuhan melalui kitab suciNya. nilai tersebut kemudian, mampu menjadi asas sebuah penelitian.  Artinya,  ilmu pengetahuan dan teknologi tidak semata-mata ilmu yang disemati sebagai ‘sekular’ namun juga mampu mengantarkan kebaikan ilahiah bagi setiap manusia. Dus, sinergi Sains dan Agama adalah sebuah keniscayan dan keabsahan. Ilmu pengetahuan yang lahir secara sinergis dengan agama akan bermanfaat bagi kesejahteraan seluruh umat manusia dan alam semesta. Di sinilah maka peranan ilmu dapat kita lihat sebagai penjaga peradaban manusia.

Pada dasarnya, tidaklah tepat jika disampaikan bahwa ilmu pengetahuan kita pahami sebagai bebas nilai. Bebas nilai, artinya, baik buruk ilmu pengetahuan bergantung sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemakai. Konsep seperti ini berkonsekuensi akan kemungkinan ilmu untuk digunakan atau mendukung perilaku jahat dan keji. Tentu saja, paham ini tidak dapat dibenarkan. Hal ini dikarenakan kelahiran ‘ilmu’ itu sendiri tidak dapat lepas dari konsepsi filsafat yang artinya cinta hikmah/kebijaksanaan/kedamaian. Artinya, ilmu pengetahuan manapun seyogyanya digunakan sebagai sarana untuk mencari dan berbuat kebaikan. Bukan justru sebaliknya.

RELIGIOUSITAS SAINS DAN ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN MODERN

Dalam rangka menghadapi tantangan itulah kemudian, Ismail Raji Al-Faruqi menerangkan akan perlunya Islamisasi Ilmu Pengetahuan modern. Hal itu dilakukan dengan cara merumuskan kembali semua cabang ilmu pengetahuan dengan memberikan dasar dan tujuan yang konsisten secara Islami. Dasar dan tujuan tersebut mencakup keselamatan, kesucian dan juga kedamaian. Di situlah kemudian Ilmu Pengetahuan  mampu mengungkapkan, menghubungkan, dan menyebarluaskan sudut pandang ilmu terhadap kehidupan manusia berlandaskan  Tauhid sebagai kesatuan kebenaran yang mutlak. Dengan demikian, konsekuensi logisnya bahwa seluruh kekuatan alam ini kembalinya hanya kepada Allah yang Esa.

Sebagai contoh dari praktik Islamisasi Ilmu adalah sebagai berikut.: Dalam ilmu fisika, dikatakan bahwa kekuatan (gaya) terbagi menjadi tiga macam: elektro magnit, gaya gravitasi, dan gaya nuklir. Ketiga gaya tersebut sesungguhnya berawal dari satu Dzat Yang Maha Kuasa (Tuhan) yang dilambangkan dengan kapasitas kembalinya ketiga gaya tersebut  pada satu formula dasar yang satu. Demikian Prof.Dr. Abdussalam membuktikan.

Contoh lain adalah dapat kita ambil dari konteks sejarah peradaban. Selama ini, kita cenderung memahami sumber ilmu itu berasal dari peradaban Yunani Kuno. Padahal, Nabi Adam sebagai manusia pertama pun adalah  ilmuan pertama yang mengajarkan manusia dengan ilmu yang bersumber langsung dari Allah SWT. Konsekuensi logis yang serupa pun diharapkan mampu kita lacak dalam perjalanan transimisi keilmuan yang mewujudkan lahirnya formula-formula Filsafat Islam di tangan al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, dan lain sebagainya. Keilmuan mereka tidaklah semerta-merta memindahkan hasil penerjemahan Yunani, namun merupakan bagian dari transformasi keilmuan berbasiskan religiousitas dalam pandangan hidup Islam.

KESIMPULAN

Begitulah, religiousitas sains  bermakna sinergi ilmu pengetahuan dengan agama Islam berlandaskan Tauhid. Tujuan makhluk hidup di dunia ini tidaklah lain menuju Tuhannya melalui petunjuk-petunjuk yang diberikan pada Tuhan. Petunjuk-petunjuk (ayaat) tersebut, mampu dicerna melalui proses akali yang rasional. Tauhid, di sini tidak hanya bermakna keesaan allah, namun juga menderivasikan konsepsi kesatuan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sebagai sebuah sinergi tanpa dikotomi. Wallahu A’lam bisshawab.

*Buku Religiousitas Sains bisa dibaca di perpustakaan CIOS, UNIDA Gontor

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *