Sapta Darma: Sejarah, Praktik, dan Mistik (I)

Sapta Darma

Sapta Darma: Sejarah, Praktik, dan Mistik (I)

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Rahma Intan

Mahasiswi Prodi Studi Agama Agama V

Sapta Darma: Sejarah, Praktik, dan Mistik

Sapta Darma: Kisah dari Hardjosapoero

Sejarah banyak mencatat bahwa pendiri aliran Sapta Darma adalah Hardjosapoero[1] pada tahun 1955. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Panutan Agung Sri Gutomo[2]. Hardjosapoero juga sering dipanggil pak Sepuro. Ia berasal dari Desa Sanding Kawedanan Pare Kediri[3]. Setelah Panutan Agung Sri Gutomo wafat pada tanggal 16 Desember 1964, kepemimpinan Sapta Darma dipindahkan ke wilayah Yogyakarta dan digantikan oleh Panutan Agung Sri Pawenang. Ia adalah seorang wanita dengan nama asli Sri Suwartini[4].

Pendiri-Sri Gutama sang pendiri Sapta Darma
Pendiri-Sri Gutomo/Hardjosapoero sang pendiri Sapta Darma (sumber: kaskus.id)

Kata Sapta Darma sendiri diambil dari bahasa Jawa Kuno. Kata Sapto sendiri memiliki artian tujuh dan Darmo itu sendiri memiliki arti kewajiban[5]. Pada mulanya Hardjosapoero menerima ‘wahyu’ pada tanggal 27 Desember 1952. Pada hari kamis, 26 Desember 1952 atau sehari sebelum Hardjosapoero menerima wahyu, Hardjosapoero merasa gelisah. Hingga akhirnya mengantarkannya kepada temannya. Pada pukul 24.00, ia kembali ke rumahnya. Hardjosapoero mengambil tikar dan beralaskan lantai kemudian tidur-tiduran. Pada saat ia akan terlelap tidur, dengan “sekonyong-konyong”, ia digerakan oleh kekuatan supranatural untuk terus melakukan sujud. Sujud tersebut terus ia lakukan dengan melafalkan lafal yang sama hingga pukul 05.00 pagi[6].

Sapta Darma dan Praktek Sujud

Dalam melakukan sujud tersebut, ia dalam kondisi sangat sadar. Namun disisi lain, ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya. Kekuatan tersebut terus membimbingnya untuk melakukan gerakan sujud tersebut. Gerakan sujud tersebut dinamakan wahyu sujud. Dalam melakukan sujud tersebut, Hardjosapoero duduk bersila dengan tangan bersedekap dan sujud hingga dahi menyentuh lantai[7]. Wahyu sujud tersebut terus dilakukan dengan meneriakkan lafal dalam bahasa Jawa, yang berbunyi:

“Allah Hyang Maha Agung

Allah Hyang Maha Rakhim

Allah Hyang Maha Adil”

Gerakan sujud yang ia lakukan tersebut hingga tiga kali namun dengan keadaan tetap duduk bersila dan tangan bersedekap. Dalam sujud keduanya, ia melafalkan lafal yang berbunyi:

“Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa”

Lafal tersebut ia ucapkan sebanyak tiga kali dalam sujud keduanya tersebut. Dan pada sujud ketiga, dengan posisi duduk kemudian sujud hingga dahi menyentuh lantai dan mengucapkan lafal:

“Kesalahane Hyang Maha Suci, Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa”

Lafal tersebut juga ia ucapkan sebanyak tiga kali. Dalam keadaan bergetar dan ketakutan, ia kembali duduk dan mengulang gerakan sujud tersebut dengan lafal yang berbeda disetiap sujudnya. Kejadian ini terjadi pada Jum;at Wage pukul 01.00 WIB sampai 05.00 WIB[8]. Lafal tersebut pada akhirnya dijadikan acuan bagi penganut Sapta Darma ketika melakukan ibadah sujudnya.

SUJUD- Praktik Sujud Ritual Pengikut Sapta Darma
SUJUD- Praktik Sujud Ritual Pengikut Sapta Darma (sumber: kaskus.id)

Sapta Darma dan Kisah Gaib

Dilain waktu, Hardjosapoero menceritakan kisah gaibnya kepada keempat kerabatnya. Pada malam harinya, keempat orang tersebut juga digerakan oleh kekuatan gaib yang sama dan melakukan hal yang sama seperti apa yang Hardjosapoero lakukan. Setelah kejadian tersebut, mulai tersiar kabar bahwa Hardjosapoero dan keempat kerabatnya telah menerima wahyu dari Hyang Maha Kuasa[9].

Dalam catatan sejarah lain yang didokumentasikan Sekretariat Tuntunan Agung mengungkapkan bahwa Hardjosapoero di pagi harinya, tepatnya pada tanggal 27 Desember 1952 pada pukul 07.00, pergi menemui temannya yakni Bapak Djojo Djaimoen. Hardjosapoero menceritakan semua kejadian aneh yang dialaminya kepada Bapak Djojo Djaimoen. Namun, Djojo Djaimoen tidak mempercayai kejadian yang dialami Hardjosapoero. Secara tiba-tiba, tubuh Djojo Djaimoen bergetar dan bergerak sama seperti apa yang dialami Hardjosapoero[10].

Setelah kejadian tersebut, mereka berdua berencana untuk pergi menemui Bapak Kemi Handini untuk menceritakan kejadian yang mereka alami. Tujuan mereka menemsui Bapak Kemi Handini adalah agar mereka mendapatkan penjelasan atas kejadian aneh yang mereka alami. Tepat pada tanggal 28 Desember 1952 pukul 17.00, mereka tiba di keiaman Bapak Kemi Handini dan langsung menceritakan kejadian aneh yang mereka alami. Belum selesai mereka menceritakan kejadian aneh tersebut, secara bersamaan, tiba-tiba mereka digerakan oleh kekuatan yang sama. Namun disisi lain, Hardjosapuro melihat banyak tumbal di sekeliling kediaman Bapak Kemi Handini. Hardjosapuro menceritakan apa yang ia lihat dan Bapak Kemi Handini membenarkan apa yang diucapkan Hardjosapuro. Mengetahui hal ini, Hardjosapuro pun merasa heran. Kemudian mereka bertiga sepakat untuk menemui sahabatnya yang bernama Somogiman. Somogiman dianggap mengerti tentang bagaimana aliran kebatinan. Tujuan mereka bertiga menemui Somogiman adalah untuk mendapatkan penjelasan lebih akurat tentang kejadian beruntun aneh yang mereka alami.

BACA JUGA: BERAGAMA SECARA FILOSOFIS

Hingga pada 29 Desember 1952 pukul 17.00, mereka datang ke kediaman Somogiman.rentetan kejadian aneh dan pengalaman gaib yang mereka alami, dengan gamblang mereka ceritakan kepada Somogiman. Pada awalnya, Somogiman tidak mempercayai apa yang ia mereka ceritakan, namun di tengah-tengah perbincangan hangat tersebut, secara sadar namun tidak terkontrol, Somogiman bergerak dan dikendalikan oleh kekuatan supranatural untuk melakukan gerakan sujud seperti apa yang dialami mereka bertiga.

Secara otomatis, kejadian ini menyebar dengan luas, hingga terdengar oleh Bapak Darmo. Karena penasaran dan tidak percaya dengan kejadian tersebut, Bapak Darmo pun mendatangi kediaman Sogiman untuk membuktikan kebenaran berita tersebut. Namun, sebelum ia mendengarkan cerita keempat orang tersebut, secara tiba-tiba, Bapak Darman juga digerakan dan dikendalikan oleh kekuatan supranatural tersebut dan melakukan gerakan sujud, sama seperti apa yang dilakukan keempat orang tersebut.

Pada akhirnya, mereka kembali ke rumahnya masing-masing kecuali Hardjosapuro. Hardjosapuro merasa takut jika ia kembali ke rumahnya ia akan dikendalikan oleh kekuatan tersebut. Hardjosapuro hanya berpindah-pindah ke rumah para sahabatnya tersebut selama dua bulan. Setelah dua bulan, Hardjosapuro mendapat wejangan dari sahabat-sahabatnya tersebut agar kembali ke rumahnya agar menerima ajaran-ajaran dari Hyang Maha Kuasa.

BACA JUGA: MUSLIM KETIKA MENJADI MINORITAS

Keesokan harinya, pada tanggal 13 Februari 1953 pukul 10.00 pagi, mereka sudah berkumpul di kediaman Hardjosapuro untuk bermusyawarah. Ketika mereka bermusyawarah, secara tiba-tiba Hardjosapuro berkata dengan suara lantang kepada para sahabatnya tersebut dalam bahasa jawa “Kawan-kawan lihatlah saya, saya mau mati dan amatilah saya”. Hardjosapuro kemudian berbaring dan para sahabatnya mengamatinya. Kejadian ini lah yang disebut Racut, dimana Hardjosapuro seolah-olah telah meninggal, namun ia masih dapat mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat-sahabatnya[11]…. (Bersambung ke Bagian Kedua….)

Catatan Kaki

[1] Hardjosapoero adalah  putra dari Bapak Soeporo dan Ibu Soelijah. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ia diasuh oleh kakek dan ibunya. Hardjosapoero kecil giat mengikuti organisasi pemuda, yaitu sebagai Anggota Kepanduan Surya Wirawan di tahun 1937. Ia juga kerap aktif di beberapa organisasi pemuda lainnya. Diusia 25 tahun ia menikah dengan Sarijem dengan dikaruniai 7 orang anak. Ia juga bekerja sebagai tukang cukur dan berdagang kecil-kecilan. Lihat Andriawan Bagus Hantoro dan Abraham Nurcahyo, “Studi Perkembangan Aliran Kebatinan Kerohanian Sapta Darma di Kabupaten Magetan Tahun 1956-2011”, dalam  Agastya, Vol. 04,  No. 02, 2014, 60.

[2] Andriawan Bagus Hantoro dan Abraham Nurcahyo, “Studi…, 58.

[3] Reni Tiyu Wijayanti, “Pola Perilaku Religius Aliran Kepercayaan  Masyarakat Kerokhanian Sapta Dharma di Desa Brengkel Kecamatan Purworejo Kabupaten Purwerejo”, dalam Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa_Universitas Muhammadiyah Purwerejo, Vol. 03, No. 03, 2013, 54.

[4] Andriawan Bagus Hantoro dan Abraham Nurcahyo, “Studi Perkembangan…, 58.

[5] Jarman Arrosi, Aliran Kepercayaan, Kebatinan, dan Sinkretism: Mencermati Tradisi & Budaya Masyarakat Muslim Jawa, (Ngawi: Perum. Ansor, 2017), 35.

[6] Putri Chikmawati, “Konsep Manusia dalam Ajaran Sapta Darma dan Pemikiran Drijakarkara”, Skrips, Ilmu Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, 2018, 20.

[7] Andriawan Bagus Hantoro dan Abraham Nurcahyo, “Studi Perkembangan…, 60.

[8] Ibiid…, 61.

[9] Ibiid…, 60-61.

[10] Sekretariat Tuntunan Agung, Sejarah Penerimaan Wahyu Wewarah Sapta Darma, (Yogyakarta: Sanggar Candi Sapta Rangga, 2010), 9.

[11] Sekretariat Tuntunan Agung, Sejarah…, 10-12.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *