Simposium dan Konferensi Nasional ke-VII Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI): Agama dan Keberagaman di Era Post-Truth

ASAI DELEGASI

Simposium dan Konferensi Nasional ke-VII Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI): Agama dan Keberagaman di Era Post-Truth

Surabaya- Dosen Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama (SAA) kembali hadir di forum  Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI). Mereka adalah al-Ustadz Harda Armayanto, M.A dan al-Ustadz Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, MIRKH. Beliau berdua mewakili Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz Syamsyul Hadi Untung, M.A., M. Ls, dan Kaprodi Studi Agama-Agama, al-Ustadz Asep Awaludin, M.Ag yang tengah berkewajiban mengisi pembekalan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) di Kampus Putri Kandangan.  Acara yang sudah berlangsung ketujuh kalinya ini  bertempat di GreenSA inn & Training Center Surabaya, 20-22 Agustus 2019. Lebih kurang 100 orang perwakilan dosen dari enam belas Prodi SAA di hampir seluruh perguran tinggi Islam Negeri maupun Swasta menghadiri Simposium dan Konferensi Nasional ini. Adapun tema yang diusung adalah ‘Agama dan Keberagaman di Era Post-Truth’.

Acara dibuka pada pukul 19.00 WIB disambut oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Kunawi, M.Ag. Beliau menyatakan bahwa acara ini adalah momen tahunan untuk memikirkan masa depan prodi SAA ke depan agar menjadi prodi unggulan di perguruan tinggi masing-masing. “Hal ini karena kita diminta untuk bisa berkompetisi dengan prodi yang lain. UINSA memiliki 5 prodi di Fakultas Ushuluddin namun prosentasi mahasiswa prodi SAA masih kecil prosentasenya dibandingkan dengan prodi lain. Salah satu usaha ASAI untuk merubah nama Perbandingan Agama ke Studi Agama-Agama memberikan dampak positif dengan kemudian meningkatnya jumlah mahasiswa prodi SAA.” Begitu beliau menyambut.

SERIUS – Suasana Simposium dan Konferensi Nasional ke – VII ASAI

Tidak ketinggalan, ketua ASAI periode 2015-2019, Dr. Ahmad Muttaqin, MA juga menyambut baik antusiasme kehadiran anggota ASAI. Bahkan ada delegasi dari Aceh yang sudah hadir semenjak sehari sebelumnya. “ASAI ini berdiri dengan menggabungkan seluruh elemen yang mempunyai konsen dalam Studi Agama-Agama.” Demikian Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini menyampaikan.

Baca Juga: Dosen SAA UNIDA Gontor menawarkan Solusi atas Penistaan Agama

Simposium dan Konferensi Nasional ke-VII ASAI ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan Dra. Wahidah Zain Br Siregar, M.A, Ph.D. Beliau menyatakan syukur yang mendalam atas terselenggaranya acara ini yang bisa menjadi ajang silaturrahmi. “Menanggapi merosotnya popularitas prodi tidak lepas dari anggapan umumnya masyarakat bahwa sekolah berorientasi materi.  Hal ini harus dikoreksi. Ilmu bukanlah alat untuk memproduksi uang tapi setiap ilmu harus memiliki landasan filosofi yang tepat. Tujuannya  untuk kemaslahatan kemanusiaan bukan hanya sekedar profit oriented. Tegas alumni Australia Natioal University (ANU) ini.

Dra. Wahidah pun menanggapi tema Post-Truth yang menurut beliau, adalah situasi dimana orang tidak perduli dengan kebenaran dan fakta tapi lebih memilih percaya emosi dan kepercayaan individunya. Meskipun, dia  dilandasi kebohongan. “Hasil yang diharapkan ada pernyataan dari ASAI untuk merespon keadaan post truth.” Tegas Beliau. Acara pembukaan Simposium Nasional ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Dr Taufiq, M.Ag, Imam Masjid Besar al-Akbar Surabaya. (Nur Rosyid Huda Setiawan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *